Selasa, 9 Juni 2026

RAMADHAN MUBARAK

Jangan Sombong

ALLAH menyukai orang yang rendah hati (tawadhu’) dan benci terhadap orang yang sombong (QS. al-Isra: 7). Ramadhan sebenarnya telah

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Halim Mubary Dosen STAI Al-Aziziyah Samalanga

ALLAH menyukai orang yang rendah hati (tawadhu’) dan benci terhadap orang yang sombong (QS. al-Isra: 7). Ramadhan sebenarnya telah mengajarkan manusia untuk tidak sombong. Ciri-ciri orang tawadhu’ di antaranya, jujur, amanah, suka bersedekah, peka terhadap lingkungan, dan rajin beribadah. Semua ciri-ciri ini melekat pada sifat Nabi dan Rasul.  

Sedangkan ciri-ciri orang sombong, seperti orang sesat di jalan tapi malas bertanya, punya obor tapi tidak digunakan di waktu gelap, dan punya pena tapi malas menulis. Artinya, mereka sangat yakin pada diri sendiri, mereka punya harta, akan tetapi tidak mau berbagi, punya jabatan, tapi disalahgunakan. Karena mereka lebih memikirkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya serta tidak peduli pada orang lain.

Di sisi lain, manusia juga diingatkan untuk menjaga kedisilinan waktu dalam menjaga kemurnian puasa Ramadhan. Sebab mulai sahur hingga berbuka, waktunya sama diberikan Allah. Tidak boleh ada yang korupsi waktu di sini. Misalnya, orang kaya mau berbuka puasa lebih awal, atau sahurnya boleh diperlambat.  

Pada momentum Ramadhan inilah, sebenarnya manusia bisa belajar menjadi manusia yang tawadhu’, dan membuang jauh sifat-sifat sombong. Karena ada banyak sekali edukasi pada ibadah puasa yang menjauhkan manusia dari kesombongannya. Jika pada hari-hari biasa, manusia bisa makan dan minum apa saja pada siang hari, maka begitu Ramadhan tiba, semua kebiasaan tersebut harus dihentikan. Dengan sendirinya mereka yang kaya, juga merasakan kelaparan yang sama dengan orang miskin.

Pada bulan Ramadhan juga, manusia diajak untuk bangun tengah malam untuk bersahur. Yang biasanya malas bangun tengah malam, sekarang terpaksa melakukannya. Biasanya, pada jam-jam seperti itu hanya dilakukan oleh orang-orang kecil, seperti mempersiapkan dagangan jualannya untuk dijual esok pagi. Di sinilah sifat-sifat sombong pada manusia dengan sendirinya tereduksi menjadi sifat kesetikawanan dan sosial yang tinggi. Karena dengan Ramadhan, tidak ada lagi sekat-sekat antara si kaya dan si miskin, semua sama di depan Allah, tidak ada yang lebih tinggi atau yang lebih rendah.  

Allah mewajibkan puasa kepada hamba-Nya sebagai media untuk memperbaiki diri, merenung, dan instropeksi (tafakkur). Seperti yang Allah tegaskan dalam Alquran surat al-Baqarah 183. Setelah 11 bulan lamanya kita menjalani kehidupan dengan beragam rutinitas: bekerja, bergaul, makan, minum, tidur, berhubungan suami-istri, dan masih banyak kegiatan lainnya --baik yang positif dan terkadang tidak sedikit yang negatif.

Maka pada bulan Ramadhan, paling tidak kita bisa menyisihkan sebagian dari waktu kita yang 24 jam sehari semalam, untuk berinteraksi dengan Allah swt. Maka pada fase berinteraksi dengan Allah (hablumminallah) di bulan Ramadhan ini, paling tidak kita bisa menelusuri relung dan ceruk kehidupan kita yang mana, yang selama ini tidak berjalan sebagaimana mestinya (seperti yang diperintahkan Allah).

Konsep apa yang kita pakai selama ini, sehingga mungkin ada bagian dari sendi-sendi kehidupan yang berjalan pincang dan berat sebelah. Juga saat kita berinteraksi dengan sesama manusia (hablum minannas). Jika kita memimpin, baik dalam rumah tangga maupun di tempat kerja, kesombongan seperti apa yang pernah kita lakukan terhadap istri dan anak, atau kepada bawahan di kantor. Inilah yang perlu kita perbaiki, agar kita sampai pada la’allakum tattaqun (menjadi orang bertakwa). Jika Allah saja sudah memberikan harapan besar kepada hambaNya agar menjadi orang yang bertakwa, masihkah kita menyia-nyiakan kesempatan istimewa ini?

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved