RAMADHAN MUBARAK
Membentuk Sifat Jujur dan Ikhlas
SECARA literal kebahasaan, puasa berarti “menahan” atau “menjauhi” sesuatu. Sedangkan secara syariat, puasa bermakna menahan diri
SECARA literal kebahasaan, puasa berarti “menahan” atau “menjauhi” sesuatu. Sedangkan secara syariat, puasa bermakna menahan diri dari segala yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, yang disertai dengan niat yang ikhlas karena Allah swt semata.
Tujuan utama puasa Ramadhan adalah untuk membentuk pribadi yang bertakwa sebagaimana firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Albaqarah: 183)
Potensi takwa ini perlu dikembangkan melalui ibadah puasa untuk mereduksi dominasi potensi fujur yang ada dalam diri setiap insan. Sebab, setiap orang memiliki kedua potensi ini. Jika yang dominan adalah potensi fujur, maka orang tersebut akan menjadi pribadi yang egois, tinggi hati, angkuh, suka berhohong, pamrih, dan sulit memahami keberadaan orang lain di sekitarnya.
Sebaliknya, jika potensi takwa yang lebih dominan, maka orang tersebut akan menjadi pribadi yang saleh. Sebab, pada hakikatnya takwa adalah gelar bagi seorang hamba yang pada dirinya melekat kesalehan, baik kesalehan spiritual maupun kesalehan sosial. Dengan kata lain, hamba yang bertakwa adalah pribadi yang memiliki sifat profetis (sifat kenabian) di mana integritas pribadinya tidak diragukan lagi. Di antara sekian banyak sifat profetis, kejujuran (al-amin) dan keikhlasan adalah dua di antaranya yang sangat penting.
Bagi kita umat Islam, sifat jujur dan ikhlas dapat ditumbuhkembangkan melalui berbagai cara peribadatan, di antaranya melalui puasa Ramadhan. Sebab, pada tataran praktik, puasa adalah ritual peribadatan yang bersifat pribadi, karena hanya diketahui oleh hamba yang melaksanakan puasa dan Allah swt. Tidak ada yang tahu seseorang sedang berpuasa atau tidak. Karena itu pula, kejujuran merupakan sifat utama yang harus dimiliki seseorang untuk mengatakan dirinya berpuasa atau tidak.
Selain bersifat privat, puasa adalah ibadah yang amalnya untuk Allah. Abu Hurairah meriwayatkan dalam Hadis Qudsi bahwa Allah swt berfirman yang artinya, “Setiap amal anak Adam (pahalanya kembali) untuknya (yang melaksanakan) kecuali puasa, karena ia untuk-Ku. Akulah yang mengganjarnya sendiri.” Mengacu pada makna Hadis Qudsi ini, berarti selain berbasis kejujuran, pelaksanaan ibadah puasa juga harus disertai sifat ikhlas karena Allah semata.
Jujur dan ikhlas adalah dua sifat yang sangat penting dan oleh karena itu harus dimiliki setiap orang. Di atas dua sifat ini dapat ditanamkan nilai-nilai insaniah lainnya yang secara holistik membentuk karakter manusia.
Karena begitu besar dampak puasa terhadap pembentukan pribadi yang jujur dan ikhlas, maka kita perlu menggalakkan pelaksanaan puasa sesuai syariat. Ibadah puasa harus mampu membangun dan membentuk pribadi berkarakter jujur dan ikhlas. Jika puasa yang kita laksanakan tak mampu mengembangkan potensi kejujuran dan keikhlasan, berarti puasa yang kita tunaikan belum sesuai syariat.
Dalam konteks inilah, agaknya kita perlu terus mengasah kejujuran dan keikhlasan melalui puasa. Kemudian nilai-nilai itu direaktualisasikan dalam segala aktivitas kehidupan kita, termasuk dalam bidang pendidikan, guna membangun peradaban yang unggul ke depan. Manakala sektor pendidikan ditangani dengan semangat kejujuran dan keikhlasan, maka tidak perlu diragukan lagi bahwa peradaban mulia yang kita idamkan bersama akan segera terwujud. (*)