Selasa, 9 Juni 2026

RAMADHAN MUBARAK

Samudra Ramadhan

ATMOSFER gempita bulan Ramadhan kian membahana di setiap sudut relung hati umat Islam. Mereka terus larut dalam pencarian pundi-pundi pahala

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Samudra Ramadhan
Al Husaini M. Daud
Oleh Al Husaini M. Daud Dosen STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe

ATMOSFER gempita bulan Ramadhan kian membahana di setiap sudut relung hati umat Islam. Mereka terus larut dalam pencarian pundi-pundi pahala sambil tak henti-hentinya beristigfar, berharap ampunan dosa dan terbebas dari siksaan api neraka.

Ramadhan bak samudera luas dan dalam yang menyimpan selaksa mutiara dengan pancaran cahaya yang tidak saja menyinari wilayah di sekitarnya, namun juga menembus permukaan samudra raya.

Allah telah memanggil hamba-Nya dengan panggilan “kehormatan”, yaitu mereka yang masih mampu mempertahankan keimanannya untuk melaksanakan perintah-Nya berupa ibadah puasa sebagai perkakas untuk mencapai derajat takwa. Paket mutiara takwa di bulan Ramadhan dikemas rapi dalam bentuk rahmat, maghfirah, dan `itqun min an-nar untuk dipersembahkan langsung oleh Yang Mahaagung kepada hamba-hamba yang dinyatakan lulus seleksi.

Bila mereka sanggup menjalani seluruh ujian perintah dan larangan Allah, maka level beriman yang disandangnya beralih menuju ke level berikutnya, yaitu pribadi muttaqin yang balasannya tidak lain adalah surga, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan berada di dalam surga dan kenikmatan.” (QS. Atthur: 17). Namun sebaliknya, bila gagal, maka manusia tersebut tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga semata.

Banyak rintangan dan godaan yang akan dihadapi seorang shaim dalam menjalankan ibadah puasa. Bukan hanya ia harus sanggup menahan lapar dan haus serta hubungan biologis saja, namun yang lebih berat dan berbahaya lagi adalah melawan setiap aktivitas amal yang (sedianya) terpuji semisal bersedekah, berinfak, bertadarus, dan lain-lain, namun sering tanpa sadar diikuti oleh virus-virus ria, toksin-toksin ‘ujub, dan racun-racun takabbur. Bila lengah sedikit, maka penyakit tersebut akan menggorogoti nilai-nilai amalan puasa, sehingga tanpa dinyana tabung oksigen Ramadhan pun telah habis.

Implementasi konkret dari aktivitas ruhiyah di bulan Ramadhan adalah mampu mengendalikan diri dan aktif mengerjakan amaliah ibadah lainnya yang justeru akan menyuplai dua kekuatan sekaligus yang sangat dibutuhkan setiap individu untuk mempertahankan takwanya, yakni quwwah nafsiyah (kekuatan spiritual) dan quwwah khuluqiyah (kekuatan moralitas). Kekuatan spiritual merupakan bukti kedekatannya dengan Allah, sedangkan kekuatan moralitas adalah cermin perilaku terpuji sehari-hari.

Dalam Kitab Fiqh Dakwah, Ali Abdul Halim Mahmud, mengungkapkan bahwa proses meraih dua kekuatan tersebut harus melalui tahapan-tahapan, yaitu: Pertama, proses tadhhir, yakni pembersihan diri dari segala dosa dan maksiat; Kedua, proses tazkiyah, yaitu memperkuat diri dengan amalan-amalan ketaatan, dan; Ketiga, proses tarqiyah, yakni meningkatkan mutu jiwa hingga mencapai derajat wara’ dalam segala hal.

Sementara untuk meraih kekuatan moralitas dapat dicapai dengan empat tahapan: Pertama, tadhhir, yakni membersihkan diri dari sikap emosional dan keras kepala; Kedua, tazkiyah, yaitu menyucikan akhlak diri dengan komitmen bersama adab-adab Islam; Ketiga, tarqiyah, yakni meningkatkan kualitas akhlak dengan meneladani akhlak Rasul, dan; Keempat, tauthin dan tatsbit, yaitu pembumian dan pengokohan akhlak islami dalam diri yang tercermin lewat pwrilaku sehari-hari dan dalam semua keadaan.

Akhirnya, semoga kita menjadi penyelam mutiara takwa di tengah gemuruh samudra Ramadhan dan tidak lengah sedikit pun dengan apa yang terlihat indah, tapi sebenarnya tak lebih dari racun yang mematikan pahala ibadah. Karena sesungguhnya Ramadhan menawarkan peluang emas bagi siapa yang mau berupaya meningkatkan kualitas spiritualnya. Di dalamnya tersedia pahala yang berlipat ganda, setan-setan dibelenggu, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu langit dihamparkan, pintu-pintu neraka ditutup, dan ditambah dengan kehadiran serta keberadaan Lailatul Qadar (malam yang lebih baik dari seribu bulan).

Jika hal ini terlewatkan begitu saja tanpa ada hasil sedikit pun di bulan yang penuh berkah rahmat, maghfirah, dan ‘itqu min al-nar (terhindar dari siksaan api neraka) ini, maka akan sangat sulit meraihnya di luar bulan suci ini. Sabda Rasulullah saw, “Barang siapa yang terhalang dari meraih kebaikan pada bulan Ramadhan, maka berarti ia terhalang dari mendapat semua kebaikan untuk selamanya.” Wallahu a’lam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved