UNHCR Tekan Bangladesh
Rabu, 8 Agustus 2012 18:09 WIB
Share |
08-07-hcr-rakhine-ref.jpg
UNHCR /S. Kritsanavarin
Seorang ibu dari pegungsi Muslim Rohingya sedang mengendong bayinya yang kekurangan gizi
SERAMBINEWS.COM, JENEWA - Badan PBB yang khusus mengurusi masalah pengungsian, UNHCR terus mendesak pemerintah Bangladesh untuk memastikan organisasi non-pemerintah (LSM) baik lokal maupun internasional terus memberikan pelayanan bantuan kemanusiaan kepada pegungsi Muslim Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar, setelah sebelumnya muncul laporan dari media bahwa pihak Bangladesh melarang aktivis NGO melakukan kegiatan untuk membantu pegungsi Rohingya.

"Kamis lalu, tiga organisasi non-pemerintah, Médecins Sans Frontières, Action Contre La Faim dan Muslim Aid Inggris, saya dengar diperintahkan oleh pihak berwenang Bangladesh untuk menghentikan kegiatan mereka di sekitar kamp tak resmi di dekat Cox Bazar di tenggara," kata juru bicara UNHCR, Adrian Edwards, kepada wartawan di Jenewa, Swiss.

"Jika aturan tersebut diterapkan, maka akan memiliki dampak kemanusiaan yang serius pada 40.000 orang terdaftar yang melarikan diri dari Myanmar dan yang telah melarikan diri dalam beberapa tahun terakhir lalu menetap ditenda darurat Kutupalong," tambahnya, sambil mengingatkan penduduk dekat para pegungsi bahwa mereka tidak perlu merasa terganggu dengan keberadaan para pegungsi, sebab justru mereka bisa diuntungkan karena nantinya juga akan mendapat pelayanan medis secara gratis dari NGO asing tersebut.

Pada bulan Juni 2012, terjadi insiden berdarah di negara bagian Rakhine, yang terletak di barat Myanmar, menyebabkan Pemerintah negara itu menyatakan keadaan darurat. Menurut laporan, kekerasan antara umat Buddha Rakhine dan etnis Muslim Rohingya telah menewaskan warga sipil Rohingya dan ratusan rumah hancur dibakar rezim Myanmar, 80.000 Muslim Rohingya yang ketakutan langsung melarikan diri perbatasan ke Bangladesh.

Selain penduduk terdaftar, UNHCR mengatakan ada sekitar 30.000 orang belum terdaftar yang tinggal di dua kamp resmi di kota Bangladesh di Cox Bazar, dan mereka adalah orang-orang yang tertindas dari Myanmar.

"UNHCR mendesak Pemerintah Bangladesh untuk mempertimbangkan kembali keputusannya," ingat Edwards lagi. Dia menambahkan bahwa badan pengungsi akan terus mengawasi perkembangan secara mendetail menyusul adanya laporan kekerasan baru satu pekan sebelumnya.

Sejauh ini, UNHCR telah mendistribusikan bantuan darurat seperti lembaran plastik-plastik untuk tenda, selimut, alas tidur, kelambu dan peralatan dapur untuk pegungsi Muslim Rohingya yang berjumlah lebih dari 40.000 jiwa. Badan PBB lainnya, seperti Program Pangan Dunia (WFP), juga telah menyalurkan bantuan makanan.

WFP melaporkan bahwa sejak awal krisis pada bulan Juni, telah memberikan total 2.109 ton makanan kepada lebih dari 102.000 jiwa pegungsi di bulan Juni 2012 dan 78.000 jiwa lagi pada Juli 2012. Badan ini telah menyatakan sangat prihatinan dengan jumlah gizi buruk yang dialami pengungsi.Demikian rilis dari situs resmi PBB. (H)