Opini
Mengintip Malam Qadar
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malan Qadar. Dan tahukah kamu apa malam qadar itu? Malam qadar itu turun para Malaikat
Oleh Abd. Gani Isa
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malan Qadar. Dan tahukah kamu apa malam qadar itu? Malam qadar itu turun para Malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhan-Nya, untuk mengatur semua urusan. Malam itu penuh keselamatan sampai terbit fajar.” (QS. al-Qadr: 1-5)
SATU kemuliaan dan keistimewaan yang terkandung dalam bulan suci Ramadhan adalah adanya satu malam yang disebut dengan Lailat al-Qadr. Sementara ulama berpendapat bahwa pada malam Qadr itu pula Alquran diturunkan. Inna anzalnahu fi lailati mubarakah, dimaksudkan dengan malam mubarakah adalah malam qadr; di bulan suci Ramadhan, seperti firman Allah: Syahru Ramadhanalladzi unzila fihil Quran, dalam bulan Ramadhan Alquran diturunkan.
Berkaitan dengan ini Ibn Abbas mengatakan: Alquran diturunkan sekaligus dari Luh Mahfudh ke Baitu al-Izah, selanjutnya dari Baitul Izzah diturunkan secara berangsur-angsur, sesuai dengan peristiwa dan kebutuhannya kepada Rasulullah saw, selama lebih kurang 23 tahun (Tafsir Ibn Katsir, juz 4, hal. 532)
Wama adraka ma Lailat al-Qadr? Setelah Allah menjelaskan bahwa Alquran itu diturunkan pada malam qadr, Allah mengajukan pertanyaan (al-Istifham). Apakah kamu tahu apa malam Qadar itu? Untuk menjawab petanyaan tersebut sudah tentu kita merujuk kepada pendapat mufassirin. Paling tidak ada empat pendapat yang ditemukan: Pertama, al-Qadr bermakna al-hukm yang berarti “penetapan”, karena malam tersebut merupakan penetapan Allah atas perjalanan makhluk selama setahun, menyangkut: rezeki, umur bagi manusia dan lain sebaginya;
Kedua, al-qadr bermakna “pengaturan”, di sini dipahami bahwa pada malam turunnya Alquran, Allah swt mengatur khittah dan strategi bagi NabiNya Muhammad saw guna mengajak manusia kepada agama yang hanif. Untuk menyelematkan mereka dari azab Allah baik di dunia maupun di akhirat;
Ketiga, al-Qadr bermakna “kemuliaan”. Di sini dipahami bahwa Allah swt telah menurunkan Alquran pada malam yang mulia. Kemulian malam itu karena: (a) diturunkannya Alquran pada malam tersebut; (b) Muhammad saw, pada malam itu mendapat tugas mengemban amanah Allah, sebagai Nabi dan RasulNya; (c) kualitas ibadah digandakan Allah --lebih baik dari seribu bulan-- atau lebih kurang 83 tahun 4 bulan; (d) seseorang mendapat derajat dan kemuliaan tertentu dari Allah swt, yang tidak pernah diperoleh pada malam lain di luar ramadlan;
Keempat, al-Qadr bermakna “sempit”, pengertian ini dipahami karena pada malam Qadar itu begitu banyaknya Malaikat turun ke bumi, maka bumi menjadi sesak dan sempit. (Quraish Shihab, dalam Tafsir Juz Amma hal. 721-723).
Waktu malam Qadr
Menurut sebuah riwayat disebutkan bahwa pada mulanya Rasulullah saw ingat benar tanggal dan hari al-Qadr itu, tetapi karena suatu hikmah yang tersembunyi di balik semua itu, maka akhirnya Rasulullah saw lupa kembali. Oleh karena itu Rasulullah saw, menyuruh umatnya untuk mencari dan mengintip (iltamisuha) malam kemuliaan itu.
Jumhur ulama berpendapat bahwa waktu-waktu malam Qadr itu ada dua: Pertama, malam 17 Ramadlan, karena pada malam itulah Alquran diturunkan; Kedua, malam yang ganjil yaitu malam 21, 23, 25, 27 dan malam 29. Al-Quran sendiri tidak menerangkan dengan konkret tentang waktu al-qadr itu. Menurut sebuah hadis dijelaskan; bahwa Rasulullah saw bersabda; Carilah malam Qadr itu yang akhir dan ganjil yaitu malam 21, 23, 25, 27 dan 29 atau pada malam terakhir yaitu pada malam ke-30 Ramadhan (HR. Tabrani).
Dari hadis dan pendapat para ulama di atas, tidak diketahui secara pasti kapan dan saatnya malam Qadr itu. Petanyaan yang muncul adalah mengapa Allah merahasiakannya malam tersebut? Karena ada hikmah di balik kerahasiaannya. Disembunyikan malam Qadr itu oleh Allah swt agar kita terus mencari, mengintip tanpa henti setiap saat yaitu dengan memperbanyak ibadah dengan menghidupkan seluruh malam di bulan Ramadlan serta memperbanyak iktikaf dan doa serta ibadah lainnya, terutama pada sepuluh yang akhir bulan ramadlan, diiringi permohonan maghfirah (keampunan). Di antara doa yang diajarkan Allahuma innaka ‘afwun tuhibbu al-‘afwa fa’fu anni, Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha pemaaf dan maha memaafkan, maka maafkanlah aku. (HR. Nasa-i).
Untuk mengetahui apakah kita dapat melihat adanya malam Qadr itu maka Rasulullah saw, dalam sebuah hadisnya menerangkan; bahwa tanda-tanda malam Qadr sebagai berikut: Malam yang terang, tidak dingin, tidak panas, tidak berawan, tidak ada hujan, tidak dilempar bintang-bintang, pada pagi harinya matahari terbit tidak bersinar.(HR. Tabrani)
Kemuliaan malam Qadar
Lailatu al-Qadr, merupakan malam yang penuh berkah, malam yang lebih baik dari seribu bulan, karena: (a) malam yang memberi keselamatan (malam itu penuh keselamatan sampai terbit fajar); (b) Allah menciptakan rahmat-Nya seratus bagian, 99 bagian ditahan-Nya dan satu bagian saja yang diturunkan kepada makhluk-Nya (di bumi) Dari satu bagian itu pula manusia menikmati di bumi ini;
(c) diturunkannya Alquran menjadi pedoman hidup bagi manusia, serta mensekatnya untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang dari ketentuan Allah swt; (d) hanya khusus diberikan kepada umat Nabi Muhammad saw, sebagaimana sabdanya; Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada ummatku malam Qadr dan tidak diberikan kepada umat sebelumnya.” (HR. Addailamy).
Demikianlah sekelumit menyangkut misteri malam al-Qadr, semoga kita berupaya agar dapat menikmati malam kemuliaan itu, sesuai tuntunan Rasulullah saw, untuk mencari dan mengintipnya, dan siapa saja yang sempat beribadah pada malam itu, seperti nya ia sudah beribadah selama seribu bulan atau 83 tahun 4 bulan.
Dan hanya kepada Allah swt senantiasa kita memohon hidayah dan keampunan-Nya, dengan harapan selalu di jalan yang benar. Amin Ya Rabbal ‘alamin!
* Dr. Tgk. H. Abd. Gani Isa, Dosen Faukultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id