Sekeluarga Tinggal di Gubuk tak Beratap
Sabtu, 11 Agustus 2012 10:59 WIB

Japar Sidik Angkat (49) bersama istri dan sejumlah anak-anaknya berteduh dalam gubuk tanpa atap miliknya di Jalan Raja Asal, Desa Subulussalam Utara, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Kamis (9/8). SERAMBI/KHALIDIN
Berita Terkait
- Puluhan Rumah Amblas belum Dibangun
- 8.331 Warga Pidie Huni Rumah tak Layak
- Rumah Pedagang Daging Terbakar
- Puting Beliung Terjang Abdya
- Warga Kuta Makmur Tinggalkan Rumah
- DPRK Nagan Minta Penyaluran Rumah Dhuafa Tepat Sasaran
- Warga Meureudu Pertanyakan Bantuan Rumah Duafa
- Satu Rumah di Padang Tiji Terbakar
- Giliran Rumah Warga Lampisang Terbakar
- Rumah Janda Rohani Terbakar
TERIK panas matahari tampaknya sudah menjadi teman akrab bagi keluarga Japar Sidik Angkat (49), penduduk Jalan Raja Asal, Desa Subulussalam Utara, Kecamatan Simpang Kiri Kota Subulussalam. Betapa tidak, pria yang tidak memiliki pekerjaan tetap ini tinggal bersama istrinya Arihta Sada Manik (48) bersama tujuh putra-putrinya dalam sebuah gubuk tanpa atap dan penerangan.
”Kalau hari hujan kami lari ke tenda itupun tetap saja basah,” kata Japar kepada Serambi ketika berkunjung ke gubuknya, Kamis (9/8) lalu.
Japar mengaku sudah hampir tujuh bulan mendiami gubuk tanpa atap dan penerangan di bibir kali Cepu itu. Ini terjadi setelah angin kencang dan hujan es melanda daerah ini 4 dan 8 Februari 2012 lalu yang menyebabkan atap gubuknya hancur.
Pasca musibah itu, Japar mengaku keluarganya hanya mendapat bantuan masa panik berupa beberapa liter beras dan mi instans termasuk tenda darurat ukuran kecil yang dipasang persis di samping gubuknya. ”Kalau bantuan pemerintah kemarin itu hanya dikasih beras dan indomie, setelah itu tidak ada lagi,” ujar Japar.
Secara ekonomi, kehidupan keluarga Japar, memang jauh dari cukup. Hidup dengan segala kekurangan sudah menjadi bagian derita keluarga ini. Ditambah lagi Japar yang mengaku sakit-sakitan beberapa tahun terakhir dan tidak mampu bekerja berat sehingga beban kebutuhan sehari-hari tertumpu pada sang istri yang berprofesi sebagai pengumpul barang bekas (butut).
Di gubuk berukuran 4X 4 meter inilah, Japar beserta istri dan tujuh orang anaknya tidur. Di situ juga mereka menyimpan sedikit pakaian yang kebanyakan kumal. Dinding gubuk yang terbuat dari papan sembarangan (kayu rapuh) tidak mampu menutup sempurna. Sehingga pada siang hari, aktivitas penghuni di dalam gubuk itu nampak jelas terlihat. Gubuk juga hanya beratapkansekitar empat lembar seng yang disusun begitu saja serta pelastik baliho bekas dan kardus bekas.(khalidin)
”Kalau hari hujan kami lari ke tenda itupun tetap saja basah,” kata Japar kepada Serambi ketika berkunjung ke gubuknya, Kamis (9/8) lalu.
Japar mengaku sudah hampir tujuh bulan mendiami gubuk tanpa atap dan penerangan di bibir kali Cepu itu. Ini terjadi setelah angin kencang dan hujan es melanda daerah ini 4 dan 8 Februari 2012 lalu yang menyebabkan atap gubuknya hancur.
Pasca musibah itu, Japar mengaku keluarganya hanya mendapat bantuan masa panik berupa beberapa liter beras dan mi instans termasuk tenda darurat ukuran kecil yang dipasang persis di samping gubuknya. ”Kalau bantuan pemerintah kemarin itu hanya dikasih beras dan indomie, setelah itu tidak ada lagi,” ujar Japar.
Secara ekonomi, kehidupan keluarga Japar, memang jauh dari cukup. Hidup dengan segala kekurangan sudah menjadi bagian derita keluarga ini. Ditambah lagi Japar yang mengaku sakit-sakitan beberapa tahun terakhir dan tidak mampu bekerja berat sehingga beban kebutuhan sehari-hari tertumpu pada sang istri yang berprofesi sebagai pengumpul barang bekas (butut).
Di gubuk berukuran 4X 4 meter inilah, Japar beserta istri dan tujuh orang anaknya tidur. Di situ juga mereka menyimpan sedikit pakaian yang kebanyakan kumal. Dinding gubuk yang terbuat dari papan sembarangan (kayu rapuh) tidak mampu menutup sempurna. Sehingga pada siang hari, aktivitas penghuni di dalam gubuk itu nampak jelas terlihat. Gubuk juga hanya beratapkansekitar empat lembar seng yang disusun begitu saja serta pelastik baliho bekas dan kardus bekas.(khalidin)
Editor : hasyim

