Selasa, 9 Juni 2026

RAMADHAN MUBARAK

Wisata Ramadhan

ADA tiga kata yang cenderung mirip dan sering kali dipertukarkan penggunaannya, yaitu wisata religi (religious tourism), wisata ziarah

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Wisata Ramadhan
Jasman J. Ma’ruf
Oleh Jasman J. Ma’ruf Kepala Disbudpar Aceh

ADA tiga kata yang cenderung mirip dan sering kali dipertukarkan penggunaannya, yaitu wisata religi (religious tourism), wisata ziarah (pilgrimage tourism) dan wisata spritual (spiritual tourism). Jenis wisata yang paling cocok untuk Aceh adalah wisata religi, karena wisatawan yang berkunjung ke Aceh tak hanya sekedar berziarah di makam ulama besar semisal makam Syiah Kuala (wisata ziarah) atau melaksanakan ibadah sulok di dayah-dayah (wisata spritual), tetapi dapat juga menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman, semisal dalam rangka shalat Tarawih dan bersedekah serta menyantuni anak yatim.

Jika dikaitkan dengan daya tarik wisata religi terhadap pelaksanaan ibadah dalam bulan Ramadhan, maka tentu daya tariknya begitu kuat, begitu besar. Karena, bagaimana pun juga bulan Ramadhan adalah bulan pembebasan dan pengampunan, bulan untuk memperbanyak sedekah dan berbuat ihsan. Pada bulan ini dibukakan pintu-pintu surga, dilipatgandakan pahala kebaikan, dan dimaafkan kesalahan.

Itu sebabnya, daya tarik wisata religi, yaitu yang turisnya melakukan perjalanan dalam rangka melakukan ibadah dalam bulan Ramadhan ini begitu besar. Berjuta-juta umat Islam melakukan umrah di tanah suci dalam bulan Ramadhan ini. Bahkan, tahun ini, pemerintah Arab Saudi terpaksa membatasi visa umrah. Itu pertanda, jumlah peminat yang melalukan umrah di bulan suci Ramadhan melebihi kapasitas yang tersedia atau sehingga berlimpah.

Idealnya, jika umat Islam yang melakukan umrah di Mekkah melebihi daya tampungnya, maka limpahan yang berasal dari Asia Tenggara  tentulah dapat ditampung di serambinya. Bagaimanapun, Aceh telah mendapat pengakuan muslim Asia Tenggara sebagai negeri Serambi Mekkah. Ikon Aceh sebagai Serambi Mekkah yang telah menguat dalam benak konsumen sejak ratusan tahun lalu.

Hal itu antara lain dibuktikan dengan pengakuan atas masuknya Islam pertama sekali ke Nusantara, banyaknya ulama besar yang juga menulis sejumlah kitab agama dan sastera Nusantara (Syeh Abdurrauf Alsingkil, Hamzah Fanzury, Nuruddin Arraniry, dan Syamsuddin Al Sumaterani) dengan murid-murid bertebaran di seantero Asia Tenggara ini tentulah merupakan daya tarik yang amat kuat dalam rangka berwisata religi di Aceh.

Alasan tambahan berwisata religi di Aceh adalah adanya kesempatan beribadah salah satu mesjid terindah di Asia Tenggara (Mesjid Baiturrahman), dan Mesjid yang selamat dari terjangan tsunami yang terbesar di dunia (Mesjid Baiturrahim Uleelheue), dapat berziarah di Makam Syiah Kuala, dapat bersedekah di panti asuhan anak yatim, dan dapat melaksanakan ibadah sulok di Dayah Lueng Ie, serta berkesempatan melihat ‘keajaiban dunia’ Kapal Apung, kapal di atas rumah.

Kita berharap, dengan izin Allah swt, di masa depan: Aceh akan menjadi destinasi wisata religi terunggul di Asia Tenggara. Semoga!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved