Wartawan dan LSM Dianggap 'Sampah'
Sikap yang tidak simpatik terhadap pekerja pers--termasuk juga aktivis LSM--dipertontonkan oknum ajudan Pj Bupati Gayo
Para pekerja pers dan pegiat LSM mengaku, kedatangan mereka ke pendopo siang itu bukan untuk mengemis, mengompas, atau cari-cari masalah. Mereka bermaksud menemui Pj Bupati Galus, Cipta Hunai atau pejabat berkompeten lainnya untuk memintai konfirmasi terkait beberapa persoalan di Galus, mulai dari pengerjaan proyek hingga persoalan kemasyarakatan lainnya. Karena secara kebetulan pada hari itu sebagian besar elite Galus sedang ngumpul di pendopo. “Nyatanya kami malah dianggap sampah. Seenaknya ajudan main tunjuk sambil mengusir kami ke luar dari ruang tamu,” begitu pengakuan Khamsah, seorang wartawan dari salah satu media terbitan Medan dibenarkan rekan-rekannya.
Masih menurut Khamsah, sebagaimana dituturkannya kepada Serambinews.com, arogansi ajudan Pj Bupati Galus terlihat saat wartawan dan LSM sudah duduk di ruang tamu dengan tetap mengindahkan tatakrama. “Tiba-tiba dengan gagahnya datang si ajudan. Dengan tangan kiri main tunjuk saja mengusir kami keluar. Kami tidak tahu apakah memang begitu etika yang diajarkan kepada seorang ajudan,” tandas wartawan lainnya, Sudirman didampingi rekan-rekannya, baik dari media terbitan Aceh maupun Medan.
Meski tak bisa terima cara yang sangat bertolak belakang dengan etika dan adat istiadat yang berlaku di tatanan masyarakat Gayo, namun pekerja pers dan pegiat LSM langsung ke luar dari pendopo dan menunggu di luar. “Kami menyesalkan sekali cara-cara arogan seperti itu. Karenanya siang itu juga kami berkewajiban mengonfirmasikan ke bupati atau unsur pimpinan lainnya, apakah memang ada perintah seperti itu atau karena ketidakmengertian ajudan tentang etika,” ujar para wartawan.
Ketika suasana masih panas, mendadak keluar Sekdakab Galus, Drs Abubakar Djasbi lewat pintu samping pendopo. Mendapat laporan apa yang terjadi, langsung saja Sekda menimpali, “Sabar saja, jangan marah-marah. Kami tadi lagi ada rapat di dalam pendopo. Tahan emosinya, ini kan masih dalam suasana puasa,” kata Abubakar dengan nada suara menenangkan.
Sekda Galus menduga, karena wartawan datang ramai-ramai, Pak Bupati merasa ketakutan karena mengira mau diapain. “Sehingga wartawan diminta untuk ke luar sebentar dari dalam pendopo,” demikian Sekdakab Galus sambil bergegas meninggalkan pendopo dan berpesan agar wartawan dan LSM tidak membuat keributan maupun keonaran.(c40/nas)
Ini Miskomunikasi
SETELAH sekitar satu jam menunggu di luar ruang tamu pendopo, akhirnya Pj Bupati Galus, Drs Cipta Hunai langsung meminta wartawan masuk dan mengklarifikasi apa yang telah terjadi.
Cipta Hunai mengakui, hubungannya dengan insan pers maupun LSM selama ini terkesan pasang surut, bahkan seperti ada miskomunikasi. “Padahal awalnya saya merasa sangat terharu karena besarnya peran media untuk membantu tugas-tugas saya. Bahkan, ketika pertama kali dipercayakan menjadi Pj Bupati Galus, saya langsung undang wartawan untuk coffee morning. Sebab bagi saya wartawan itu merupakan ujung tombak pembangunan di daerah,” kata Cipta Hunai yang sudah 5 bulan 3 hari bertugas sebagai Pj Bupati Galus.
Cipta Hunai mengaku tidak ada niat sama sekali pihaknya (termasuk ajudan) untuk mengusir wartawan dan pegiat LMS. Hanya saja ketika kedatangan wartawan dan LSM, pihaknya sedang rapat sehingga wartawan diminta menunggu di luar ruang tamu. “Kami minta maaf kalau memang cara atau perilaku ajudan kurang sopan. Saya pikir ini tindakan spontan saja dari ajudan,” demikian Pj Bupati Galus.(c40)