Sahur Gratis di Al Husain Bangkok
Jumat, 17 Agustus 2012 06:29 WIB
Basri A.Bakar
Melaporkan dari Bangkok, Thailand
JIKA kita berbuka puasa bersama di suatu masjid atau meunasah di Aceh tanpa harus bayar mungkin hal yang biasa dan lumrah. Namun jika ada restoran yang menyediakan makanan berbuka dan sahur gratis selama bulan Ramadhan tentu saja hal yang langka. Soalnya selama ini saya belum pernah menemukan ada orang kaya yang dermawan seperti yang saya temukan di kota Bangkok Thailand.
Tahun ini saya bersama Ustazd Zamhuri Ramli salah seorang imam Masjid Raya Baiturrahman kembali mendapat undangan dari pengurus Masjid Indonesia dan Kedubes RI di Bangkok mulai 11–19 Agustus. Kehadiran kami berdua di Bangkok selain menjadi imam tarawih, juga sebagai muazzin, qari di beberapa masjid dan khatib Jumat dan Idul Fitri. Sejak tahun lalu, pihak Kedubes telah menyusun agenda yang cukup padat bagi kami untuk keliling setiap malam dari masjid ke masjid sampai Idul Fitri.
Kami diinapkan di sebuah hotel di wilayah Nana yang cukup ramai dan sibuk 24 jam dengan aneka perniagaan. Lokasi ini terkenal dengan komunitas pebisnis asal Timur Tengah, Pakistan, Afrika, Bangladesh dan lain-lain. Di sekitar hotel yang kami tinggal selama di Bangkok, banyak terdapat restoran halal dengan aneka jenis makanan dan minuman. Namun di antara restoran yang ada, hanya satu restoran yang melayani muslim untuk buka puasa dan sahur gratis alias tanpa bayar. Restoran mewah Al Husain milik warga Bangladesh itu ternyata selama tiga tahun terakhir tidak mengutip bayaran bagi siapa saja yang berbuka puasa dan sahur.
Menurut Abdul Rauf, salah seorang pekerja restoran tersebut, setiap hari tidak kurang 300 orang datang berbuka puasa dan 200 orang makan sahur. Restoran itu cukup luas dengan gedung berlantai delapan, namun mereka melayani pengunjung hanya dua lantai saja dengan jumlah pekerja mencapai 52 orang. Menu yang disediakan saat sahur berupa nasi dengan lauk daging sapi atau ayam masakan kari plus sayuran, sedangkan pada saat berbuka dilengkapi pula dengan minuman segar dan kue-kue. Jika setiap pengunjung harus membayar sekitar Rp75.000,- maka sedekah Restoran Al Husain bagi umat Islam setiap hari mencapai Rp 35 juta.
Kami awalnya sempat risih saat mau membayar usai makan sahur di restoran tersebut. Lalu buru-buru seorang pelayan mengangkat tangan tanda gratis. Bahkan mereka mengingatkan agar kami jangan segan-segan datang setiap hari ke restoran tersebut. Tentu saja, uang saku kami betul-betul irit selama sembilan hari di Bangkok. Kami sempat kagum dengan sikap keramahtamahan para pekerja restoran. Meskipun gratis, namun mereka cukup siap melayani setiap pengunjung. Siapapun yang datang makan di warung tersebut, dilayani dengan sepuas-puasnya.
Pikiran saya menerawang ke Aceh sebagai negeri syariat. Banyak sekali orang kaya dan mampu, tetapi belum ada yang mengikuti jejak restoran Al Husain. Mungkin pemilik restoran Al Husain sadar bahwa harta yang diberikan Allah tidak pernah memberikan ketenangan jiwa baginya tanpa menyisihkan bagi sesama ummat. Ia yakin bahwa dengan memberi sedekah, hartanya menjadi lebih bersih dan akan dilipatgandakan pahalanya nanti di hari akhirat. Hanya saja banyak orang susah untuk mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang lumrah kita dapatkan, justru banyak orang semakin diperbudak oleh hartanya. Al Husain yang beroperasi di negeri minoritas muslim telah menunjukkan keteladanan bagi kita bahwa berbagi harta menjadi kebutuhan hidup dan anjuran agama Islam. Mari kita teladani restoran Al Husain yang gemar bersedekah dalam kehidupan sehari-hari. (Penulis Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Aceh)
---
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com
Melaporkan dari Bangkok, Thailand
JIKA kita berbuka puasa bersama di suatu masjid atau meunasah di Aceh tanpa harus bayar mungkin hal yang biasa dan lumrah. Namun jika ada restoran yang menyediakan makanan berbuka dan sahur gratis selama bulan Ramadhan tentu saja hal yang langka. Soalnya selama ini saya belum pernah menemukan ada orang kaya yang dermawan seperti yang saya temukan di kota Bangkok Thailand.
Tahun ini saya bersama Ustazd Zamhuri Ramli salah seorang imam Masjid Raya Baiturrahman kembali mendapat undangan dari pengurus Masjid Indonesia dan Kedubes RI di Bangkok mulai 11–19 Agustus. Kehadiran kami berdua di Bangkok selain menjadi imam tarawih, juga sebagai muazzin, qari di beberapa masjid dan khatib Jumat dan Idul Fitri. Sejak tahun lalu, pihak Kedubes telah menyusun agenda yang cukup padat bagi kami untuk keliling setiap malam dari masjid ke masjid sampai Idul Fitri.
Kami diinapkan di sebuah hotel di wilayah Nana yang cukup ramai dan sibuk 24 jam dengan aneka perniagaan. Lokasi ini terkenal dengan komunitas pebisnis asal Timur Tengah, Pakistan, Afrika, Bangladesh dan lain-lain. Di sekitar hotel yang kami tinggal selama di Bangkok, banyak terdapat restoran halal dengan aneka jenis makanan dan minuman. Namun di antara restoran yang ada, hanya satu restoran yang melayani muslim untuk buka puasa dan sahur gratis alias tanpa bayar. Restoran mewah Al Husain milik warga Bangladesh itu ternyata selama tiga tahun terakhir tidak mengutip bayaran bagi siapa saja yang berbuka puasa dan sahur.
Menurut Abdul Rauf, salah seorang pekerja restoran tersebut, setiap hari tidak kurang 300 orang datang berbuka puasa dan 200 orang makan sahur. Restoran itu cukup luas dengan gedung berlantai delapan, namun mereka melayani pengunjung hanya dua lantai saja dengan jumlah pekerja mencapai 52 orang. Menu yang disediakan saat sahur berupa nasi dengan lauk daging sapi atau ayam masakan kari plus sayuran, sedangkan pada saat berbuka dilengkapi pula dengan minuman segar dan kue-kue. Jika setiap pengunjung harus membayar sekitar Rp75.000,- maka sedekah Restoran Al Husain bagi umat Islam setiap hari mencapai Rp 35 juta.
Kami awalnya sempat risih saat mau membayar usai makan sahur di restoran tersebut. Lalu buru-buru seorang pelayan mengangkat tangan tanda gratis. Bahkan mereka mengingatkan agar kami jangan segan-segan datang setiap hari ke restoran tersebut. Tentu saja, uang saku kami betul-betul irit selama sembilan hari di Bangkok. Kami sempat kagum dengan sikap keramahtamahan para pekerja restoran. Meskipun gratis, namun mereka cukup siap melayani setiap pengunjung. Siapapun yang datang makan di warung tersebut, dilayani dengan sepuas-puasnya.
Pikiran saya menerawang ke Aceh sebagai negeri syariat. Banyak sekali orang kaya dan mampu, tetapi belum ada yang mengikuti jejak restoran Al Husain. Mungkin pemilik restoran Al Husain sadar bahwa harta yang diberikan Allah tidak pernah memberikan ketenangan jiwa baginya tanpa menyisihkan bagi sesama ummat. Ia yakin bahwa dengan memberi sedekah, hartanya menjadi lebih bersih dan akan dilipatgandakan pahalanya nanti di hari akhirat. Hanya saja banyak orang susah untuk mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang lumrah kita dapatkan, justru banyak orang semakin diperbudak oleh hartanya. Al Husain yang beroperasi di negeri minoritas muslim telah menunjukkan keteladanan bagi kita bahwa berbagi harta menjadi kebutuhan hidup dan anjuran agama Islam. Mari kita teladani restoran Al Husain yang gemar bersedekah dalam kehidupan sehari-hari. (Penulis Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Aceh)
---
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

