Berbuka Puasa di Marburg Jerman
Sabtu, 18 Agustus 2012 14:27 WIB
Rifki Furqan,
Penerima beasiswa Aceh Melaporkan dari Marburg, Jerman
ISLAM memang bukan agama mayoritas di Jerman, namun angka penganut agama yang mengajarkan perdamaian ini terus meningkat di negara mayoritas Kristen Protestan itu.
Komunitas muslim di Jerman didominasi oleh imigran asal Turki yang banyak telah menjadi warga negara Jerman setelah membantu negara ini membangun kembali setelah kalah pada Perang Dunia II.
Komunitas muslim di Jerman terdiri dari para pekerja maupun mahasiswa asal Indonesia, Pakistan, Mesir dan negara lain seperti Kyrgistan, Chechnya, serta negara afrika utara seperti Maroko, Ethiopia, Somalia, dll.
Tidak ada suasana khusus Ramadhan yang begitu kental terasa seperti di Aceh. Apalagi, beberapa tahun belakangan ini, sekarang dan hingga beberapa tahun kedepan, Ramadhan di Eropa akan datang selama musim panas.
Berpuasa di musim panas yang waktu siangnya lebih panjang di negeri minoritas muslim memberikan kami pengalaman baru. Bahkan, komunitas muslim di Marburg (salah satu kota di negara bagian Hessen, Jerman) memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mensyiarkan Islam kepada masyarakat luas di kota tersebut. Buka puasa bersama di Mesjid adalah hal biasa, tapi di Marburg, buka puasa bersama dilaksanakan di lapangan terbuka.
Siapa saja boleh datang ikut makan dan minum hidangan khas Ramadhan, namun syaratnya bagi yang non-muslim wajib menunggu waktu Maghrib tiba untuk kemudian makan dan minum bersama.
Adalah Islamische Gemeinde Marburg, organisasi perkumpulan masyarakat muslim resmi di Marburg yang menyelenggarakan acara berbuka bersama selama tiga hari bertajuk Ramadanzelt (tenda Ramadhan).
Hampir seratus orang menghadiri acara buka puasa bersama yang juga turut mengundang masyarakat non muslim kota Marburg itu. Ceramah agama yang mengajarkan nilai-nilai tauhid Islam dibacakan dalam bahasa Jerman oleh panitia sambil menunggu Maghrib tiba, sesekali masyarakat non muslim yang hadir mengajukan pertanyaan dan langsung mendapatkan penjelasan.
Alqur’an terjemahan dalam bahasa Jerman juga disediakan dan beberapa dibagikan gratis untuk masyarakat non muslim yang tertarik akan Islam, lainnya dijual dengan harga terjangkau.
Makanan khas Ramadhan seperti Kurma, Harira (sup khas Afrika Utara), serta nasi briyani (khas Pakistan) dihidangkan setelah Sholat Maghrib berjamaah dilakukan di pinggir jalan, sungguh sebuah syiar Islam yang luar biasa. Itulah contoh bagaimana Islam dapat hidup berdampingan dengan aliran kepercayaan lain, bahkan di negara mayoritas non muslim sekalipun.
Anak-anak Aceh penerima beasiswa program Jerman pun tak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam acara ini. Kami juga turut mengajak guru les bahasa Jerman kami yang non muslim dan menemani mereka mendiskusikan Islam.
Berpuasa selama hampir 18 jam di kota Marburg pada tahun 2010 itu adalah pengalaman pertama saya berpuasa di negeri mayoritas non muslim, dan ternyata Alhamdulillah semua berjalan baik-baik saja.
Penerima beasiswa Aceh Melaporkan dari Marburg, Jerman
ISLAM memang bukan agama mayoritas di Jerman, namun angka penganut agama yang mengajarkan perdamaian ini terus meningkat di negara mayoritas Kristen Protestan itu.
Komunitas muslim di Jerman didominasi oleh imigran asal Turki yang banyak telah menjadi warga negara Jerman setelah membantu negara ini membangun kembali setelah kalah pada Perang Dunia II.
Komunitas muslim di Jerman terdiri dari para pekerja maupun mahasiswa asal Indonesia, Pakistan, Mesir dan negara lain seperti Kyrgistan, Chechnya, serta negara afrika utara seperti Maroko, Ethiopia, Somalia, dll.
Tidak ada suasana khusus Ramadhan yang begitu kental terasa seperti di Aceh. Apalagi, beberapa tahun belakangan ini, sekarang dan hingga beberapa tahun kedepan, Ramadhan di Eropa akan datang selama musim panas.
Berpuasa di musim panas yang waktu siangnya lebih panjang di negeri minoritas muslim memberikan kami pengalaman baru. Bahkan, komunitas muslim di Marburg (salah satu kota di negara bagian Hessen, Jerman) memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mensyiarkan Islam kepada masyarakat luas di kota tersebut. Buka puasa bersama di Mesjid adalah hal biasa, tapi di Marburg, buka puasa bersama dilaksanakan di lapangan terbuka.
Siapa saja boleh datang ikut makan dan minum hidangan khas Ramadhan, namun syaratnya bagi yang non-muslim wajib menunggu waktu Maghrib tiba untuk kemudian makan dan minum bersama.
Adalah Islamische Gemeinde Marburg, organisasi perkumpulan masyarakat muslim resmi di Marburg yang menyelenggarakan acara berbuka bersama selama tiga hari bertajuk Ramadanzelt (tenda Ramadhan).
Hampir seratus orang menghadiri acara buka puasa bersama yang juga turut mengundang masyarakat non muslim kota Marburg itu. Ceramah agama yang mengajarkan nilai-nilai tauhid Islam dibacakan dalam bahasa Jerman oleh panitia sambil menunggu Maghrib tiba, sesekali masyarakat non muslim yang hadir mengajukan pertanyaan dan langsung mendapatkan penjelasan.
Alqur’an terjemahan dalam bahasa Jerman juga disediakan dan beberapa dibagikan gratis untuk masyarakat non muslim yang tertarik akan Islam, lainnya dijual dengan harga terjangkau.
Makanan khas Ramadhan seperti Kurma, Harira (sup khas Afrika Utara), serta nasi briyani (khas Pakistan) dihidangkan setelah Sholat Maghrib berjamaah dilakukan di pinggir jalan, sungguh sebuah syiar Islam yang luar biasa. Itulah contoh bagaimana Islam dapat hidup berdampingan dengan aliran kepercayaan lain, bahkan di negara mayoritas non muslim sekalipun.
Anak-anak Aceh penerima beasiswa program Jerman pun tak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam acara ini. Kami juga turut mengajak guru les bahasa Jerman kami yang non muslim dan menemani mereka mendiskusikan Islam.
Berpuasa selama hampir 18 jam di kota Marburg pada tahun 2010 itu adalah pengalaman pertama saya berpuasa di negeri mayoritas non muslim, dan ternyata Alhamdulillah semua berjalan baik-baik saja.


