Minggu, 21 Desember 2014
Serambi Indonesia

Pangdam IM Perintah Relokasi Korban Banjir

Sabtu, 25 Agustus 2012 09:40 WIB

Pangdam IM Perintah Relokasi Korban Banjir
SERAMBI/ASNAWI
Pangdam IM, Mayjen TNI Zahari Siregar, Bupati Agara, Hasanuddin B, Dandim 0108 Agara, Letkol Inf Andi Roedprijatna W, Danrem 011 LW, Kolonel, Inf A Rachim Siregar, Kapolres Agara, AKBP Trisno Riyanto dan pihak terkait lainnya meninjau lokasi dan korban banjir bandang dan tanah longsor di Desa Naga Timbul dan sekitarnya, Kecamatan Leuser, Agara. Jumat (24/8)
KUTACANE - Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Zahari Siregar meminta Pemkab Aceh Tenggara (Agara) bersama pihak terkait lainnya segera merelokasi korban banjir bandang dan tanah longsor di Desa Naga Timbul dan sekitarnya, Kecamatan Leuser, karena dikhawatirkan terjadi banjir bandang dan tanah longsor susulan di lokasi yang sama, bahkan dengan kondisi yang lebih parah.

“Dalam minggu ini mereka harus diupayakan sudah direlokasi, karena cuaca saat ini berpotensi hujan. Musibah (banjir bandang dan tanah longsor) terjadi karena hutan sudah lama gundul. Debit air yang turun dari gunung bersama potongan-potongan kayu tak mampu ditampung alur sungai sehingga meluap dan menerjang perkampungan hingga porak-poranda seperti ini,” kata Pangdam IM saat mengunjungi korban banjir bandang dan tanah longsor di Desa Naga Timbul, Jumat (24/8). Di lokasi bencana, Pangdam didampingi Bupati Agara Hasanuddin B, Danrem 011/LW, Dandim 0108, dan Kapolres AKBP Trisno Riyanto.

Pangdam IM berangkat ke Agara dengan helikopter dari Banda Aceh mendarat di Desa Paya Mbelang, Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Dari Posko TNI di Paya Mbelang, rombongan menggunakan mobil ke lokasi bencana sejauh tujuh kilometer dengan waktu tempuh satu jam karena kondisi jalan rusak parah, terjal dan berliku liku.

Di lokasi bencana, Pangdam IM menyerahkan bantuan sembako dan pakaian serta perlengkapan lainnya secara simbolis untuk korban banjir. Usai meninjau lokasi, sekitar pukul 13.00 WIB, Pangdam IM bersama rombongan menuju ke Pendapa Bupati Agara di Kutacane sejauh 80 kilometer mengendarai mobil dengan lama perjalanan 3,5 jam. Lintasan ini juga rusak parah, licin, dan berliku liku yang hanya bisa dilewati mobil berpenggerak empat roda. Hampir sepanjang jalur yang dilewati maupun ke lokasi bencana juga tak ada layanan telepon selular.

Di Pendapa Bupati Agara, Pangdam IM di-peusijuek oleh tokoh-tokoh adat dan ulama dan selanjutnya berkunjung ke Makodim 0108 Agara.

Bupati Agara, Hasanuddin B mengatakan, warga di lokasi bencana sudah 30 tahun menghuni kawasan Leuser. Permukiman itu pada tahun 2000 adalah kawasan HPH yang dulunya marak sekali pembalakan liar. Namun, menurut Bupati Agara, sejak 12 tahun terakhir tidak ada lagi pembalakan liar.

Terkait musibah banjir bandang dan tanah longsor di Desa Naga Timbul dan sekitarnya, menurut Bupati Agara, mereka telah memberikan bantuan masa panik untuk korban. Selanjutnya sejak Minggu 19 Agustus 2012, jalan di lokasi bencana sudah bisa dilalui kenderaan roda empat dan roda dua dan jenis lainnya.

Selama 14 hari ke depan, katanya, akan dilakukan penanganan darurat dengan membangun sedikitnya 48 rumah termasuk rumah ibadah, kantor desa, jalan, dan jembatan.

Bupati Agara juga menyinggung, akibat musibah itu ada enam warga yang menjadi korban. Dari jumlah itu, empat ditemukan tewas sedangkan dua lainnya yakni Heriwati (40) dan anaknya Sulaiman (15), warga Naga Timbul masih dalam pencarian.

Camat Leuser, Asbi Selian kepada Serambi, Jumat (24/8) mengatakan, akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor itu, enam desa lainnya terancam terisolir karena jalan dan jembatan rusak.

Keenam desa yang terancam terisolir itu adalah Punce Nali, Sade Ate, Arih Mejile, Bunbun Indah, Bunbun Alas, dan Serakut.  Desa Punce Nali mengalami kerusakan jalan sepanjang 2 kilometer, Naga Timbul Bunbun Indah 9 km, Gajah Mati Permata Musara badan jalan amblas 60 meter, dan Bunbun Indah Serakut sebanyak empat jembatan rusak.

Sedangkan rincian jumlah penduduk di desa-desa yang dihantam banjir bandang dan tanah longsor, masing-masing Naga Timbul 45 KK (171 jiwa), Sukadamai 20 KK (155 jiwa), Gaya Sendah 37 KK (139 jiwa), Sepakat 68 KK (278 jiwa), dan Bunbun Indah 174 KK (370 jiwa).(as)

Walhi: Bencana Ancam Seluruh Wilayah Agara

BANDA ACEH - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan setidaknya lima desa di Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara (Agara) menjelang Lebaran 2012 dinilai oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) bukan peristiwa terakhir jika pembalakan liar tak mampu segera dihentikan. “Bahkan, seluruh kecamatan di Agara terancam bencana serupa,” tandas Direktur Eksekutif Walhi Aceh, TM Zulfikar.

Dalam siaran pers-nya yang diterima Serambi, Jumat (24/8), Walhi Aceh menulis, banjir bandang dan tanah longsor di Agara akan menjadi rutinitas jika Pemerintah Aceh bersama penegak hukum tidak segera menumpas pelaku penebangan liar (illegal logging) yang masih terus terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

“Hasil investigasi Walhi Aceh bersama anggota kami di daerah terungkap bahwa hampir rata-rata pemilik perusahaan panglong di Kabupaten Agara adalah oknum aparat, pejabat pemerintah, bahkan anggota dewan terhormat,” tulis siaran pers tersebut.

Menurut Walhi, Aceh Tenggara memiliki luas 423.141 hektare terdiri atas pegunungan, hutan, dan sungai. Daerah ini memiliki produk unggulan seperti padi, kakao, kemiri, dan ikan air tawar. Secara keseluruhan semua kecamatan di Agara berbatasan dengan hutan lindung kecuali Kecamatan Babussalam di Kutacane.

Agara merupakan kawasan yang cukup bernilai secara ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya. Daerah ini juga memiliki KEL dan TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser) yang mengandung kekayaan sumberdaya alam yang sangat bernilai. “Meski amat besar nilai yang terkandung tetapi bila terus dibiarkan dirusak oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, asti akan mendatangkan malapetaka,” kata TM Zulfikar.

Dengan kondisi alam yang terdiri aliran sungai dan dikelilingi hutan, menurut Walhi, tidak heran jika hampir semua kecamatan di Aceh Tenggara rentan bencana terutama bencana yang disebabkan oleh air.

Khusus di Kecamatan Leuser yang diterjang banjir bandang dan tanah longsor pada 17 Agustus 2012, memiliki hutan lindung seluas 6.193 hektare. Masyarakatnya bukan saja terancam bencana banjir bandang dan tanah longsor sebagai akibat perambahan yang tak terkendali tetapi juga binatang buas yang terganggu dari dunianya.

Walhi menegaskan, saat ini tindakan nyata harus dibuktikan agar tidak ada lagi pembalakan liar atau penebangan pohon semene-mena. Walhi berharap agar Gubernur Aceh segera mengambil tindakan tegas dan memerintahkan aparat penegak hukum untuk segera mengungkap pelaku penebangan liar di KEL.

Walhi Aceh sangat berharap kepada semua komponen, baik pemerintah, aparat Keamanan, dan seluruh elemen masyarakat agar sadar dan peduli terhadap lingkungan, terutama hutan. “Daerah kita (Agara)  dikelilingi hutan dan sungai yang sangat berpotensi terjadinya bencana terutama banjir bandang. Jika tak ada kepedulian, dipastikan bencana akan menjadi sesuatu yang rutin bahkan dalam skala yang terus meluas,” demikian Walhi Aceh.(nas/sar)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas