Citizen Reporter
Pelayanan Prima di Pustaka Deakin
ADA banyak alasan mengapa orang memilih kuliah di luar negeri. Kemudahan untuk mendapatkan akses-akses tertentu, fasilitas belajar yang canggih
ADA banyak alasan mengapa orang memilih kuliah di luar negeri. Kemudahan untuk mendapatkan akses-akses tertentu, fasilitas belajar yang canggih, serta suasana kompetisi tinggi dalam menuntut ilmu yang kesemuanya mungkin belum bisa kita rasakan di Aceh khususnya, itulah yang antara lain mendorong putra-putri Aceh memilih studi ke luar negeri.
Alasan lain yang langsung bisa dirasakan manfaatnya adalah di negeri orang kita bisa mendapatkan pelayanan prima. Salah satu pelayanan prima yang bisa dirasakan oleh mahasiswa Aceh, maupun mahasiswa pendatang lainnya ke Australia, adalah pelayanan di Library Deakin University, tempat saya kuliah sekarang.
Begitu memasuki arena gedung yang lumayan wah bagi saya yang datang dari Aceh, pandangan saya langsung tertuju pada petugas yang memakai baju kaus merah. Di belakang kaus itu tertulis, “I am here to help.”
Membaca tulisan tersebut jelaslah bahwa keberadaan mereka untuk memberi jasa bantuan. Jadi, apabila ada mahasiswa yang kebingungan tentang cara meminjam buku, memprint, atau memindai (scan) materi kuliah, mereka berkau merah yang mayoritas merupakan mahasiswa semester akhir, dengan senang hati akan membantu.
Saya masih ingat ketika pertama kali mengunjungi pustaka untuk mencari database. Kala itu deadline tugas saya tinggal menghitung hari. Sedangkan mencari data yang cocok untuk sebuah esai tidaklah mudah, apalagi saya belum terbiasa dengan sistem online. Di sana semua data bisa diakses melalui library online: browsing buku, jurnal, artikel, bahkan video sekalipun.
Akhirnya, petugas yang berbaju merah tersebutlah yang menyarankan saya untuk menghubungi library staff melalui e-mail.
Di Deakin University, setiap jurusan memiliki staf pustaka tersendiri. Untuk jurusan pendidikan, misalnya, saya harus menghubungi education library staff. Selang dua hari setelah kesepakatan dijadwalkan, akhirnya saya dan tiga teman lainnya bertemu dengan Minns, petugas yang membantu kami waktu itu.
Rupanya Minns sudah mem-booking satu ruangan dengan kapasitas lebih kurang 25 orang, lengkap dengan peralatan komputer. Biasanya tempat ini diplot untuk ruang belajar mahasiswa dan mem-browsing data.
Kami terkagum-kagum dengan ruang seluas itu ternyata khusus di-booking untuk melatih kami (empat orang) tentang bagaimana mem-brwosing data yang tepat, cepat, dan akurat. Kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga itu. Tak kurang dari dua jam kami habiskan waktu di ruangan tersebut.
Kemudahan lainnya di sini, anggota Pustaka Deakin bisa pula meminjam buku dari pustaka lain. Saat ini ada empat titik Kampus Deakin yang berada di lokasi yang berbeda-beda, yaitu Burwood (tempat saya belajar sekarang), Geelong Waterfront, Geelong Waurn Ponds, dan Warrnambool Campus. Jarak tempuh antara kampus yang satu dengan yang lain bisa memakan waktu lebih kurang tiga jam perjalanan mobil.
Namun, meski kita kuliah di Burwood, tapi bisa memesan buku yang berada di Geelong atau Warrnambool. Kita akan diberi tahuan melalui e-mail apabila buku yang kita minta telah tiba.
Kebanyakan buku di pustaka ini bisa dipinjam untuk waktu dua minggu, tapi kita bisa perpanjang beberapa kali secara online. Dengan kemudahan yang tersedia di library kampus sangatlah membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Saya berharap, suatu saat kemudahan seperti ini bisa kita rasakan di Aceh.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com