Kamis, 18 Desember 2014
Serambi Indonesia

Patah Tulang jangan Diurut

Minggu, 2 September 2012 09:00 WIB

Patah Tulang jangan Diurut
BANDA ACEH - Pengobatan patah tulang   sebaiknya tidak diurut pada dukun kampung, karena proses  pemulihan pada dukun menggunakan curu yang terbuat dari bahan-bahan keras  membalut bagian yang patah. Pamakaian curu yang lama dan tanpa digerak-gerakkan  berdampak   kekakuan sendi. Akibatnya, kaki atau tangan sulit dibengkokkan.  Bila terjadi kekakuan sendi, maka fungsi-fungsi organ tubuh tidak dapat dikembalikan sesuai dengan fungsi awalnya. Begitulah pendapat Dokter Ahli Bedah Orthopedi dan Traumatology  RSUZA Banda Aceh, dr Safrizal Rahman MKes SpOT,  kepada Serambi, Sabtu (1/9).

Dikatakan, rangka tubuh adalah rangkaian tulang-tulang tubuh yang tersusun secara teratur dihubungkan oleh sendi dan digerakan oleh otot. Tulang adalah bagian tubuh yang paling keras terbentuk dari sel hidup yang dikelilingi oleh mineral dan zat lentur yang disebut kolagen. Tulang sebagai penyusun rangka tubuh, selalu tumbuh dan berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Bayi yang baru lahir memiliki tulang tubuh lebih dari 300 bagian yang sebagian besar terdiri atas  tulang rawan yang lentur, lunak,  dan mudah retak. Namun setelah dewasa, jumlah tulang tersebut berkurang dan hanya tinggal 206 yang sebagian besar adalah tulang keras. “Hal ini antara lain disebabkan karena adanya penyatuan tulang dan pengerasan. Misalnya seperti pada tulang ubun-ubun. Pada bayi, tengkorak kepala terdiri atas  beberapa keping tulang,  namun pada manusia dewasa, tengkorak kepala terdiri atas  sebuah batok yang keras dan intak,” kata Safrizal.

Menurut Safrizal, di antara ratusan jumlah tulang, tulang yang paling sering patah adalah tulang kering (tibia). Tulang  ini  seringkali berbenturan dengan benda-benda lain saat olahraga atau saat beraktivitas sehar-hari. Patah tulang atau  fraktur seringkali patah tulang yang   terjadi karena berbagai jenis kecelakaan. “Patah tulang bisa terjadi di mana saja, namun yang paling sering patah adalah tulang kering,” kata dia.

Hingga kini, kata Safrizal, hanya empat orang dokter ahli bedah tulang dan traumatololgi pada RSUZA Banda Aceh, sedangkan kasus-kasus patah tulang yang dirujuk ke RSUZA Banda Aceh lebih dari lima  pasien setiap harinya. Kamar operasi yang tersedia hanya satu kamar bedah tulang. Dikatakan, idealnya setiap tiga kali pasien dioperasi, kamar operasi harus disterilkan, sementara pada hari-hari tertentu, pasien patah tulang yang harus menjalani operasi melebihi kapasitas. “Kasus patah tulang mencapai ratusan pasien saat mudik Lebaran Idul Fitri 1433 hijriah lalu,” ujar Safrizal Rahman, yang juga  mantan Ketua Senat Fakultas Kedokteran Unsyiah ini.  (min)

Tulang Menyambung Sendiri

Penyembuhan tulang normal, kata Safrizal Rahman,  merupakan suatu proses biologis yang luar biasa karena tulang dapat sembuh tanpa “bekas” atau “jaringan parut”. Artinya,  tulang yang patah akan tersambung dengan tulang yang baru. Berbeda dengan ligamen yang proses penyembuhannya akan digantikan dengan jaringan parut.

Jadi, tulang yang patah  dapat menyambung sendiri tanpa harus dimanipulasi. Hal ini pula yang dijadikan patokan oleh dukun patah tulang yang kurang berkompeten. Dukun   patah tulang tentu juga  paham bahwa penyambungan tulang merupakan proses  alami tubuh. “Oleh karenanya mereka melakukan manipulasi untuk menyambung tulang  dengan hanya berdasar trial and error serta pengalaman tanpa adanya pelatihan khusus,” kata Safrizal. Namun, sebut Safrizal, karena kesalahan tindakan awal, banyak pasien dengan patah tulang mengalami kecacatan fungsi-fungsi organ tubuh, sehingga harus dioperasi kembali untuk mengembalikan posisi tulang dan fungsi-fungsinya. (min)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas