Home »

Opini

Opini

Warisan Budaya dalam Ancaman Bencana Alam

ACEH kaya dengan berbagai warisan budaya dan sejarah masa lalu (cultural heritage), dari warisan budaya Islam, sejarah kerajaan Aceh, sejarah perang

ACEH kaya dengan berbagai warisan budaya dan sejarah masa lalu (cultural heritage), dari warisan budaya Islam, sejarah kerajaan Aceh, sejarah perang kolonial sampai bencana gempa dan Tsunami. Semua warisan peninggalan masa lalu tersebut bersifat budaya benda (Masjid Raya Baiturrahman, naskah kuno, Kerkhof Peutjoet) dan budaya tak benda (adat istiadat, Tari Saman, smong) memiliki keunikan dan kebesaran budaya dan sejarah Aceh masa lalu.

Warisan tersebut menjadi daya tarik bagi masyarakat yang hidup di abad modern ini sebagai media edukasi, penelitian dan daya tarik wisata budaya bagi wisatawan (culture-based tourism). Namun, menjadi sebuah keprihatinan bahwa banyak peninggalan budaya dan sejarah masa lalu tersebut yang seharusnya dipelihara serta dilestarikan sebagai sebuah identitas bangsa dan kebanggaan masyarakat Aceh mengalami kerusakan dan kehilangan (lost) akibat kurangnya kepedulian masyarakat dan pemerintah serta ancaman bencana alam.

Penulis terilhami pada tulisan Laila Abdul Jalil (Serambi, 26/6/2012), di mana banyak warisan budaya dan sejarah Aceh berada dalam kondisi memprihatinkan, baik dari aspek penanganan maupun pemanfaatan. Sebagian warisan tersebut telah mendapatkan penanganan meskipun hanya sebatas pemeliharaan saja, namun tidak diimbangi dengan kegiatan pendukung menarik lainnya, sehingga warisan tersebut menjadi kurang atraktif dan tidak memberi kontribusi kepada masyarakat setempat secara ekonomi dan sosial-budaya.

Di satu sisi, berbagai warisan budaya Aceh masa lalu justru kurang mendapat perhatian serius, baik dari aspek pemeliharaan, maupun pemanfaatannya. Di sisi lainnya, kita perlu belajar dari pengalaman masa lalu bahwa berbagai warisan budaya tersebut tidak hanya mengalami kesalahan dalam pengelolaan (mismanagement), namun kita juga dihadapkan pada sebuah realita bahwa warisan tersebut juga memiliki tingkat kerawanan (vulnerability) yang sangat tinggi dari berbagai ancaman bencana alam.

 Kerusakan serius
Saat gempa berkekuatan 8,9 skala Richter dan tsunami yang menimpa Aceh pada akhir Desember 2004, banyak warisan peninggalan budaya dan sejarah Aceh mengalami kehilangan dan kerusakan serius. Kampung Pande sebagai satu kawasan/situs sejarah di Banda Aceh dan pernah menjadi pusat Kerajaan Aceh Darussalam masa lalu mengalami kehancuran akibat bencana gempa dan tsunami, termasuk juga berbagai naskah kuno Aceh yang merupakan warisan budaya intelektual (abad ke 16-19 Masehi) turut mengalami kerusakan dan kehilangan.

Kerusakan dan kehilangan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan arkeologis yang sangat tinggi tentu saja akan berdampak pada kebesaran nilai budaya dan sejarah Aceh masa lalu. Dampak tersebut juga akan berpengaruh pada kehidupan ekonomi masyarakat (livelihood) yang sangat bergantung pada kegiatan pariwisata, khususnya pada obyek wisata budaya, sejarah, kegiatan pendidikan dan penelitian lainnya.

Dalam momentum tertentu, warisan budaya juga dapat berfungsi efektif dalam mengurangi risiko bencana bagi masyarakat seperti disebutkan oleh UNESCO dalam “Managing Disaster Risk, 2011” bahwa “Cultural properties can serve as safe havens for surrounding communities for their temporary relocation during emergencies.” Dalam hal ini Masjid Raya Baiturrahman sebagai masjid kebanggaan masyarakat Aceh telah menjadi saksi penting dan berperan dalam melindungi dan menyelamatkan masyarakat Aceh saat terjadinya tsunami serta pusat identifikasi para korban.

Kerusakan, kehancuran dan kehilangan warisan budaya Aceh akibat bencana alam sudah seharusnya menggugah dan menyadarkan kita semua sebagai pewaris langsung warisan tersebut, untuk selalu membangun kepedulian dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya dan sejarah Aceh sebagai identitas bangsa Aceh dari berbagai risiko bencana ke depan.

Bagaimanapun, Aceh memiliki kekayaan dan keragaman budaya yang unik, spesifik dan historis. Namun, perlu disadari bahwa selain kaya akan budaya, keanekaragaman suku bangsa dan sejarah masa lalu, Aceh juga kaya dengan berbagai ancaman bencana alam.

Secara geografis, kita berada pada lempengan bumi yang sangat rentan akan terjadinya gempa (ring of fire), sehingga kita perlu membangun kesadaran dan budaya kesiapsiagaan bencana (disaster risk reduction), serta keselamatan warisan budaya Aceh (budaya benda/tak benda) dari berbagai kerusakan dan kehilangan akibat bencana melalui penanganan risiko bencana yang tepat sasaran (disaster risk management of cultural heritage).

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help