Sabtu, 7 Maret 2015
Home » Opini

Warisan Budaya dalam Ancaman Bencana Alam

Rabu, 5 September 2012 09:04 WIB

ACEH kaya dengan berbagai warisan budaya dan sejarah masa lalu (cultural heritage), dari warisan budaya Islam, sejarah kerajaan Aceh, sejarah perang kolonial sampai bencana gempa dan Tsunami. Semua warisan peninggalan masa lalu tersebut bersifat budaya benda (Masjid Raya Baiturrahman, naskah kuno, Kerkhof Peutjoet) dan budaya tak benda (adat istiadat, Tari Saman, smong) memiliki keunikan dan kebesaran budaya dan sejarah Aceh masa lalu.

Warisan tersebut menjadi daya tarik bagi masyarakat yang hidup di abad modern ini sebagai media edukasi, penelitian dan daya tarik wisata budaya bagi wisatawan (culture-based tourism). Namun, menjadi sebuah keprihatinan bahwa banyak peninggalan budaya dan sejarah masa lalu tersebut yang seharusnya dipelihara serta dilestarikan sebagai sebuah identitas bangsa dan kebanggaan masyarakat Aceh mengalami kerusakan dan kehilangan (lost) akibat kurangnya kepedulian masyarakat dan pemerintah serta ancaman bencana alam.

Penulis terilhami pada tulisan Laila Abdul Jalil (Serambi, 26/6/2012), di mana banyak warisan budaya dan sejarah Aceh berada dalam kondisi memprihatinkan, baik dari aspek penanganan maupun pemanfaatan. Sebagian warisan tersebut telah mendapatkan penanganan meskipun hanya sebatas pemeliharaan saja, namun tidak diimbangi dengan kegiatan pendukung menarik lainnya, sehingga warisan tersebut menjadi kurang atraktif dan tidak memberi kontribusi kepada masyarakat setempat secara ekonomi dan sosial-budaya.

Di satu sisi, berbagai warisan budaya Aceh masa lalu justru kurang mendapat perhatian serius, baik dari aspek pemeliharaan, maupun pemanfaatannya. Di sisi lainnya, kita perlu belajar dari pengalaman masa lalu bahwa berbagai warisan budaya tersebut tidak hanya mengalami kesalahan dalam pengelolaan (mismanagement), namun kita juga dihadapkan pada sebuah realita bahwa warisan tersebut juga memiliki tingkat kerawanan (vulnerability) yang sangat tinggi dari berbagai ancaman bencana alam.

 Kerusakan serius
Saat gempa berkekuatan 8,9 skala Richter dan tsunami yang menimpa Aceh pada akhir Desember 2004, banyak warisan peninggalan budaya dan sejarah Aceh mengalami kehilangan dan kerusakan serius. Kampung Pande sebagai satu kawasan/situs sejarah di Banda Aceh dan pernah menjadi pusat Kerajaan Aceh Darussalam masa lalu mengalami kehancuran akibat bencana gempa dan tsunami, termasuk juga berbagai naskah kuno Aceh yang merupakan warisan budaya intelektual (abad ke 16-19 Masehi) turut mengalami kerusakan dan kehilangan.

Kerusakan dan kehilangan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan arkeologis yang sangat tinggi tentu saja akan berdampak pada kebesaran nilai budaya dan sejarah Aceh masa lalu. Dampak tersebut juga akan berpengaruh pada kehidupan ekonomi masyarakat (livelihood) yang sangat bergantung pada kegiatan pariwisata, khususnya pada obyek wisata budaya, sejarah, kegiatan pendidikan dan penelitian lainnya.

Dalam momentum tertentu, warisan budaya juga dapat berfungsi efektif dalam mengurangi risiko bencana bagi masyarakat seperti disebutkan oleh UNESCO dalam “Managing Disaster Risk, 2011” bahwa “Cultural properties can serve as safe havens for surrounding communities for their temporary relocation during emergencies.” Dalam hal ini Masjid Raya Baiturrahman sebagai masjid kebanggaan masyarakat Aceh telah menjadi saksi penting dan berperan dalam melindungi dan menyelamatkan masyarakat Aceh saat terjadinya tsunami serta pusat identifikasi para korban.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas