Kamis, 18 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Warisan Budaya dalam Ancaman Bencana Alam

Rabu, 5 September 2012 09:04 WIB

Oleh Rahmadhani dan Hafnidar

ACEH kaya dengan berbagai warisan budaya dan sejarah masa lalu (cultural heritage), dari warisan budaya Islam, sejarah kerajaan Aceh, sejarah perang kolonial sampai bencana gempa dan Tsunami. Semua warisan peninggalan masa lalu tersebut bersifat budaya benda (Masjid Raya Baiturrahman, naskah kuno, Kerkhof Peutjoet) dan budaya tak benda (adat istiadat, Tari Saman, smong) memiliki keunikan dan kebesaran budaya dan sejarah Aceh masa lalu.

Warisan tersebut menjadi daya tarik bagi masyarakat yang hidup di abad modern ini sebagai media edukasi, penelitian dan daya tarik wisata budaya bagi wisatawan (culture-based tourism). Namun, menjadi sebuah keprihatinan bahwa banyak peninggalan budaya dan sejarah masa lalu tersebut yang seharusnya dipelihara serta dilestarikan sebagai sebuah identitas bangsa dan kebanggaan masyarakat Aceh mengalami kerusakan dan kehilangan (lost) akibat kurangnya kepedulian masyarakat dan pemerintah serta ancaman bencana alam.

Penulis terilhami pada tulisan Laila Abdul Jalil (Serambi, 26/6/2012), di mana banyak warisan budaya dan sejarah Aceh berada dalam kondisi memprihatinkan, baik dari aspek penanganan maupun pemanfaatan. Sebagian warisan tersebut telah mendapatkan penanganan meskipun hanya sebatas pemeliharaan saja, namun tidak diimbangi dengan kegiatan pendukung menarik lainnya, sehingga warisan tersebut menjadi kurang atraktif dan tidak memberi kontribusi kepada masyarakat setempat secara ekonomi dan sosial-budaya.

Di satu sisi, berbagai warisan budaya Aceh masa lalu justru kurang mendapat perhatian serius, baik dari aspek pemeliharaan, maupun pemanfaatannya. Di sisi lainnya, kita perlu belajar dari pengalaman masa lalu bahwa berbagai warisan budaya tersebut tidak hanya mengalami kesalahan dalam pengelolaan (mismanagement), namun kita juga dihadapkan pada sebuah realita bahwa warisan tersebut juga memiliki tingkat kerawanan (vulnerability) yang sangat tinggi dari berbagai ancaman bencana alam.

 Kerusakan serius
Saat gempa berkekuatan 8,9 skala Richter dan tsunami yang menimpa Aceh pada akhir Desember 2004, banyak warisan peninggalan budaya dan sejarah Aceh mengalami kehilangan dan kerusakan serius. Kampung Pande sebagai satu kawasan/situs sejarah di Banda Aceh dan pernah menjadi pusat Kerajaan Aceh Darussalam masa lalu mengalami kehancuran akibat bencana gempa dan tsunami, termasuk juga berbagai naskah kuno Aceh yang merupakan warisan budaya intelektual (abad ke 16-19 Masehi) turut mengalami kerusakan dan kehilangan.

Kerusakan dan kehilangan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan arkeologis yang sangat tinggi tentu saja akan berdampak pada kebesaran nilai budaya dan sejarah Aceh masa lalu. Dampak tersebut juga akan berpengaruh pada kehidupan ekonomi masyarakat (livelihood) yang sangat bergantung pada kegiatan pariwisata, khususnya pada obyek wisata budaya, sejarah, kegiatan pendidikan dan penelitian lainnya.

Dalam momentum tertentu, warisan budaya juga dapat berfungsi efektif dalam mengurangi risiko bencana bagi masyarakat seperti disebutkan oleh UNESCO dalam “Managing Disaster Risk, 2011” bahwa “Cultural properties can serve as safe havens for surrounding communities for their temporary relocation during emergencies.” Dalam hal ini Masjid Raya Baiturrahman sebagai masjid kebanggaan masyarakat Aceh telah menjadi saksi penting dan berperan dalam melindungi dan menyelamatkan masyarakat Aceh saat terjadinya tsunami serta pusat identifikasi para korban.

Kerusakan, kehancuran dan kehilangan warisan budaya Aceh akibat bencana alam sudah seharusnya menggugah dan menyadarkan kita semua sebagai pewaris langsung warisan tersebut, untuk selalu membangun kepedulian dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya dan sejarah Aceh sebagai identitas bangsa Aceh dari berbagai risiko bencana ke depan.

Bagaimanapun, Aceh memiliki kekayaan dan keragaman budaya yang unik, spesifik dan historis. Namun, perlu disadari bahwa selain kaya akan budaya, keanekaragaman suku bangsa dan sejarah masa lalu, Aceh juga kaya dengan berbagai ancaman bencana alam.

Secara geografis, kita berada pada lempengan bumi yang sangat rentan akan terjadinya gempa (ring of fire), sehingga kita perlu membangun kesadaran dan budaya kesiapsiagaan bencana (disaster risk reduction), serta keselamatan warisan budaya Aceh (budaya benda/tak benda) dari berbagai kerusakan dan kehilangan akibat bencana melalui penanganan risiko bencana yang tepat sasaran (disaster risk management of cultural heritage).

Namun, menjaga dan memelihara warisan budaya tidaklah semata-mata mencakup peninggalan budaya dan sejarah Aceh masa lalu saja, melainkan juga warisan bencana gempa dan tsunami Aceh Tsunami heritage” yang juga memiliki kisah tersendiri, seperti Museum Tsunami Aceh, Kapal PLTD Apung, Kapal di Atas Rumah, Kuburan Massal, saksi hidup yang selamat saat Tsunami, dll.

Pengelolaan risiko bencana terhadap warisan budaya telah menjadi sebuah isu global, sehingga perlu menjadi perhatian serius semua pihak khususnya pemerintah, masyarakat dan akademisi. Ketiga unsur ini memiliki peran penting dan strategis sebagai focal point dalam menjaga dan memelihara keutuhan warisan peninggalan budaya dan sejarah masa lalu dari berbagai kerusakan dan kehilangan akibat bencana.

Potensi bencana
Mengurangi risiko bencana terhadap warisan budaya dan sejarah masa lalu dapat dilakukan melalui penerapan manajemen bencana yang diawali dengan membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan selalu memperhatikan kondisi lingkungan di lokasi warisan budaya tersebut berdasarkan kerawanan bencana. Pengkajian dan pemantauan kerawanan bencana pada lokasi warisan budaya dapat juga dilakukan melalui penerapan standard operational procedure sesuai dengan potensi bencana yang mungkin terjadi ke depan.

Pemerintah sebagai pengelola warisan budaya dan sejarah masa lalu perlu juga melakukan berbagai upaya penyelamatan warisan budaya, seperti kegiatan inventarisasi peninggalan budaya serta nilai arkeologisnya dalam upaya menjaga nilai budaya dan sejarahnya sebagai media pendidikan dan penelitian bagi generasi selanjutnya.

Museum Tsunami Aceh sebagai museum kebanggaan masyarakat Aceh dan dunia yang dibangun melalui arsitektur yang bernuansa Islami dan budaya Aceh menjadi pusat edukasi, rekreasi dan evakuasi bagi masyarakat untuk selalu membangun kesadaran masyarakat menuju budaya kesiapsiagaan bencana. Museum ini juga akan menjadi media yang bersifat efektif dan produktif dalam membangun kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda sebagai sasaran untuk selalu menjaga dan melestarikan warisan budaya dan sejarah Aceh dari berbagai kerusakan dan kehilangan akibat bencana alam, serta penyelenggaraan kegiatan-kegiatan menarik lainnya yang bertemakan pemeliharaan warisan budaya dan sejarah Aceh dari berbagai risiko bencana, seperti seminar, workshop, lomba melukis, menulis, dll.

Upaya penyelamatan jiwa manusia dari berbagai risiko bencana memang dianggap prioritas, namun upaya konservasi warisan budaya juga tidak kalah penting karena menyangkut sejarah masa lalu, kesejahteraan masyarakat yang hidup dari kegiatan kepariwisataan dan media pendidikan serta penelitian bagi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sejarah Aceh.

* Rahmadhani, M.Bus, Manajer Museum Tsunami Aceh, dan Hafnidar, SS, Staf Museum Negeri Aceh, Banda Aceh. Email: dani111170@yahoo.com
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas