Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Bahasa Indonesia Sebagai Pemersatu Bangsa

Minggu, 9 September 2012 08:31 WIB

Oleh Halim Mubary

Sejumlah tokoh pergerakan dan cendekiawan Indonesia pernah mestasbihkan bahasa Melayu untuk  disejajarkan dengan bahasa-bahasa lainnya di dunia. Ki Hajar Dewantara misalnya menilai bahwa, “BahasaMelayu itu mudah dipahami oleh seluruh suku bangsa yang ada di Nusantara. Sebab,  bahasa Melayu mempunyai susunan, ucapan yang hidup, jelas maknanya, dan ringkas serta mudah menyesuaikan diri dengan pikiran dan situasi yang baru. Selain itu, bahasa Melayu susunan kalimatnya pendek dan tegas, serta pengucapannya yang mudah dimengerti oleh lawan bicara (IbrahimAlfian, 2001: 79).

Pandangan hampir senada juga diungkapkan oleh Muhammad Yamin pada Kongres Pemuda Indonesia pada tahun 1926 yang menyebutkan: “Kelebihan dan keluwesan bahasa Melayu tersebut juga akan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk bergaul dengan bahasa-bahasa lainnya di Nusantara seperti bahasa  Jawa, Sunda, Batak, Aceh, Arab, dan Cina yang setiap hari menjadi teman berbicara,” kata Muhammad Yamin kala itu.

Dari pandangan kedua tokoh tersebut, maka keberadaan bahasa Melayu di Nusantara, bukan hanya  sekadar bahasa pengantar sehari-hari bagi seluruh suku bangsa yang ada di Indonesia.  Bahasa Melayu dalam perjalanannya juga menjadi bahasa perjuangan dalam menghempang penjajahan kolonialisme Belanda dan pendudukan Jepang. Jika kita masih tetap egois dalam mononjolkan bahasa daerah masing-masing, mungkin angin kemerdekaan masih lama kita nikmati. Sangat sulit membangun sebuah persepsi jika bahasa daerah yang kita tonjolkan sebagai alat komunikasi antarsuku bangsa di Indonesia. Akan banyak sekali terjadi miskomunikasi bahasa yang tidak dimengerti oleh masyarakat lainnya di luar suku-suku lainnya di Indonesia. Baik itu dalam surat menyurat, atau dalam pertemuan antar-suku dalam mengatur strategi gerakan dan teknik berperang dulunya.

Sehingga atas kesepakatan para perwakilan pemuda dari seluruh daerah di Nusantara, pada tahun 1928  para pemuda tersebut bersumpah setia dengan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia. Bahasa Melayu juga menjadi bahasa yang terbuka seperti bahasa Inggris, karena selain dipergunakan oleh sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan, bahasa Melayu juga diakrabi oleh rakyat Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Filipina, Thailand, dan kawasan dunia Melayu lainnya.

Bahkan pada  Pekan Peradaban Melayu Raya (PPMR) yang berlangsung di Banda Aceh pada Agustus 2008, selain diikuti negara-negara jiran di atas, juga diminati oleh negara-negara seperti Laos, Kamboja, Myanmar, Afrika Selatan, dan China,  yang juga tergabung dalam Dunia Melayu Dunia Islam. Artinya,  berbicara tentang dunia Melayu, mau tidak mau kita juga harus bersentuhan dengan akar sejarah kelahirannya yang panjang dan hingga sekarang telah menyimpan banyak peradaban di dalamnya. Sebut saja salah satunya adalah kerajaan Sriwijaya, di mana jejak-jejak bahasa Melayu di sana masih dapat kita telusuri pada sejumlah prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno pada abad ke-7. Berdasarkan penelitian ahli linguistik UI, Harimurti Kridalaksana, pencipta nama Bahasa Indonesia adalah M Tabrani dalam Kongres Pemuda I tanggal 2 Mei 1926. Karena itu, pemerintah lewat Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional layak memberikan gelar tersebut kepada beliau.

Sedangkan di Aceh, perkembangan bahasa Melayu juga sangat pesat. Syeh Muhammad Naguib al-Alatas menyebutkan, “Kerajaan Pasai adalah pusat pengkajian Islam yang tertua di Nusantara, dan dari sanalah seluruh pengaruhnya menyinari keseluruhan  penjuru kepulauan Melayu Indonesia.” Bahkan seorang Makhdum Patakan dari Kerajaan Pasai berhasil menerjemahkan sebuah isi kitab tasawuf  karangan ulama Arab Maulana Ishak Ibrahim yang berjudul  ‘Durrat Manzum’,  ke dalam bahasa Melayu (Arab-Jawoe). Fenomena ini menandakan bahwa perkembangan bahasa Melayu di Kerajaan Pasai terus berlangsung, hingga dipergunakannya bahasa Melayu sebagai bahasa kerajaan.

Cendekiawan dan penyair sufi asal Aceh, Hamzah Fansuri bahkan mempublikasi karya-karya sastra dan pemikirannya dengan bahasa Melayu. Selain dia, ada juga sejumlah ulama dan penyair Aceh lainnya seperti Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry,  dan Abdurrauf As-Singkili yang juga menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar dan alat komunikasi. Konon, para tokoh ini juga mengajarkan murid-murid mereka dengan medium bahasa Melayu. Sebab, tidak semua murid-murid mereka berasal dari Aceh. Jadi,  harus ada bahasa lainnya di luar bahasa Aceh. Sehingga perlahan-lahan bahasa Melayu menemukan bentuknya menjadi bahasa lingua franca dan mulai digemari oleh rakyat di kesultanan yang ada di Aceh.

Sehingga bisa ditarik benang merah bahwa bahasa Melayu sudah tumbuh dan berkembang di Aceh sejak awal abad ke-13 Masehi yang dimulai dari kerajaan Samudera Pasai dan terus menyebar ke kawasan-kawasan lainnya melalui peranan para saudagar yang singgah di berbagai kota pelabuhan di Nusantara. Bahkan dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan sekalipun, kerajaan Pasai bisa dikatakan sebagai pendobrak peradaban ilmu. Di mana banyak para cendikiawan yang dikirim belajar ke berbagai penjuru dunia. Dan sebaliknya, banyak para pendatang   menuntut ilmu tentang peradaban dan kebudayaan Melayu Islam di Samudera Pasai.

Pada abad ke-13 dan 14, para sastrawan dan budayawan Aceh banyak yang menulis syair, hikayat, dan pantun dalam bahasa Arab-Melayu (jawoe), juga  mentransformasikan ilmu agama dan umum ke tengah-tengah masyarakat Aceh. Bahkan dalam literasi kesusastraan Indonesia, Hamzah Fansuri kemudian berhasil mengebolarasi bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia lewat karya-karyanya. Salah satunya yang terkenal Syair Perahu. Pada KTT ASEAN, awal Mei  2011 lalu,  para pemimpin negara-negara ASEAN juga merekomendasikan bahasa Indonesia untuk dijadikan sebagai bahasa resmi di kawasan ASEAN.

* Halim Mubary, penyuka sastra. Berdomisili di Peusangan, Bireuen
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas