Selasa, 9 Juni 2026

PON Riau

Komisi E DPRA Kritik Perekrutan Atlet

Ketua Komisi E DPRA, Ermiadi Abdul Rahman ST menyesalkan proses perekrutan atlet oleh pengprov dan KONI Aceh

Tayang:
Editor: bakri
BANDA ACEH - Ketua Komisi E DPRA, Ermiadi Abdul Rahman ST menyesalkan proses perekrutan atlet oleh pengprov dan KONI Aceh yang dikirim ke PON XVIII Riau yang saat ini sedang berlangsung.

Karena, menurutnya, ada atlet yang kemampuannya bisa diandalkan seperti Asmaul Husna (karateka asal Bener Meriah untuk nomor Kumite Perorangan Putri kelas +68 Kg) malah dicoret dari anggota kontingen Aceh.

Buktinya, kata Ermiadi, setelah dicoret di Aceh, Asmaul Husna ‘lari’ ke Riau. Hasilnya, Rabu (12/9), ia berhasil meraih medali emas untuk tuan rumah. “Saya heran mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Apa Pengprov Forki dan KONI Aceh tak punya tim yang bisa memantau bakat atlet yang berpotensi atau tidak untuk membela daerah. Jadi, masalah ini terutama terkait Asmaul Husna harus dievaluasi,” ungkap Ermiadi menjawab Serambi via selulernya, kemarin.

Anehnya lagi, lanjut Ermiadi, pencoretan Asmaul Husna dari anggota kontingen Aceh dilakukan beberapa bulan menjelang PON XVIII. “Padahal sebelumnya mereka kan sudah melakukan seleksi terhadap atlet yang akan dibina, termasuk Asmaul Husna,” ujar Ermiadi yang mengaku berada di Riau bersama anggota Komisi E lainnya.

Ia menduga, masalah itu muncul karena manajemen perekrutan atau pemahaman psikologi atlet berprestasi belum bisa dibaca oleh tim KONI maupun Pengprov Forki Aceh sebagai penanggung jawab. “Di sini lah perlu pembenahan serius manajemen perekrutan dan lain-lain. Jangan sampai ada atlet punya potensial tidak direkrut, atau ada ketidakharmonisan di pengurus,” ungkapnya.   

Ditambahkan, pihaknya akan memanggil KONI Aceh untuk meminta klarifikasi tentang masalah itu setelah PON Riau berakhir. “Kami yang ada di sini (Riau-red) sudah mengumpulkan berbagai masalah yang terjadi selama PON. Padahal, dengan total anggaran 25 miliar Rupiah untuk KONI, diharapkan Aceh bisa meraih prestasi terbaik di PON. Tapi, kenyataannya malah terbalik,” ujar politisi dari Partai Aceh ini.

Ketua Umum Pengprov Forki Aceh, Darmuda mengatakan, ada masalah antara pelatih karate lama Hari Parulian dengan Pelatih karate PON sekarang, Syamsul Yusuf. Selain itu, Husna dan Lia Novita Dewi (yang dikirim ke PON) mempunyai kelas yang sama di +68 Kg. Saat itu, lanjut Darmuda, pihaknnya menyarankan salah satu dari kedua karateka itu harus mengurangi berat badan satu Kg, agar bisa diturunkan di nomor kumite -68 Kg.

“Husna pernah tidak hadir ke tempat latihan beberapa kali hingga diberi surat teguran. Saat itu Husna tak mau dilatih oleh Syamsul. Masalah ini sebelumnya sudah kita selesaikan, tapi setelah beberapa kali dibahas, tetap tidak ada penyelesaian. Akhirnya Husna mengambil kesimpulan dengan Hari Parulian untuk memperkuat Riau,” ujar Darmuda yang mengaku kecewa permintaan Husna pindah ke Riau tidak dikonfirmasikan kepadanya selaku Ketua Umum Pengprov Forki Aceh.(adi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved