Citizen Reporter
Teraturnya Sistem di Rumah Sakit Slovakia
SAYA sedang ikut training di Louis Pasteur Cardiosurgery Hospital. Orang Slovakia menyebutnya VUSCH (Vychodoslovensky Ustav Srdcovych
SAYA sedang ikut training di Louis Pasteur Cardiosurgery Hospital. Orang Slovakia menyebutnya VUSCH (Vychodoslovensky Ustav Srdcovych Chorob). Rumah sakit lima lantai ini jadi pusat rujukan bagi penderita jantung yang membutuhkan operasi di Eropa bagian Tengah.
Slovakia sendiri adalah negara di Eropa Timur, pecahan Cekoslovakia. Luasnya hanya seperempat Provinsi Aceh. Keadaannya hampir sama dengan di Aceh, yakni sedang membangun dan bergerak untuk maju.
Sebagai rumah sakit top di Slovakia, sistem yang diterapkan di VUSCH Hospital ini sangatlah teratur dan terintegrasi. Mulai dari segi arsitektur, desain ruangan, hingga kebersihan. Di rumah sakit ini tidak saya temukan serakan sampah ataupun parkir kendaraan yang tak teratur. Tersedia pula parkir khusus bagi penyandang cacat.
Bunga-bunganya pun tertata rapi. Pelayanannya ramah dan profesional. Begitu memasuki lobi rumah sakit, resepsionis menyapa dengan ramah dan menanyakan maksud kedatangan kita.
Di lobi rumah sakit terdapat kafe, lekaren (apotek), dan toko buku. Makanan yang dijual di kafe ini harus mendapat persetujuan dari ahli gizi. Dilakukan pula uji sanitasi makanan per dua bulan sekali.
Di dalam lift atau di koridor rumah sakit saya sering bertemu dengan banyak orang yang saya kira turis ataupun keluarga pasien. Mereka berpakaian sangat fashionable dan berbeda jauh dari kesan petugas medis. Tapi ternyata mereka adalah pegawai ataupun dokter yang bertugas di rumah sakit ini. Saya bahkan tak mengenal salah satu pembimbing saya ketika kami bertemu di koridor rumah sakit.
Alat operasi dan perlengkapan penunjang di VUSCH Hospital hampir sama dengan Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Cuma, mereka memiliki teknisi khusus yang bertugas rutin memeriksa dan memastikan alat tersebut bekerja dengan benar. Meski alat belum rusak, tapi para teknisi tetap merawatnya.
Ruangan operasinya didesain untuk menjaga kesterilan pra, selama, dan pascaoperasi. Ketika pasien memasuki area operasi, ia harus naik lift khusus yang hanya bisa diakses oleh petugas ruang operasi.
Selesai operasi, pasien dipindah ke ruang ICCU yang bersebelahan dengan ruang operasi. Semua ruangan dan alat terintegrasi di suatu area yang diketuai oleh dokter anestesi. Pasien tak perlu dipindah ke suatu ruangan untuk pemeriksaan lanjutan.
Etos dan budaya kerja di rumah sakit ini sangat baik. Mereka bekerja serius, tapi santai. Di ICCU hampir tak ada staf medis yang duduk-duduk ataupun ngobrol. Mereka sangat telaten urusi pasien. Hampir tak ada waktu untuk istirahat ataupun makan. Tapi meski serius, mereka tetap murah senyum kepada pasien. Para dokter juga sangat disiplin waktu. Saya tak pernah mendapati jadwal operasi yang terlambat. Semua sangat menjunjung tinggi moto “time is patient life”.
Beban kerja para dokter bedah jantung yang tinggi tentu menyebabkan stres yang besar pula. Tapi pihak rumah sakit menyiasatinya dengan memberikan libur panjang kepada dokter. Beberapa dokter dalam setahun diberi libur dua bulan. Saya harus berganti tiga dokter pembimbing karena mereka bergantian mangambil cuti untuk liburan. Dokter di sini hanya bekerja pada satu rumah sakit dan hanya fokus kepada pelayanan dan pendidikan, sehingga setelah operasi selesai saya dapat berdiskusi dengan beliau.
Tentu sangatlah tidak adil membandingkan sistem di rumah sakit yang hanya melayani sekitar 1.500 pasien per bulan dengan rumah sakit yang melayani 1.000 pasien per hari, seperti di RSUZA. Tapi tak ada salahnya kita contoh rumah sakit dengan sistem yang serbamodern dan terpadu, seperti VUSCH Hospital ini. Saya yakin, suatu saat rumah sakit di Indonesia, khususnya RSUZA, dapat mencapai taraf seperti ini. Hanya diperlukan kerja keras dan kerja sama semua pihak.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com