Pembunuh Bernama Perubahan Iklim
Ancaman datang dari perubahan iklim. Andai tidak ada penanganan serius
Informasi paling
anyar ini adalah laporan yang disiarkan 20 pemerintah dari organisasi
kemanusiaan DARA.
Saat temperatur rata-rata global naik akibat buangan gas rumah kaca, dampaknya pada planet, seperti pencairan lapisan es, cuaca ekstrem, kemarau dan naiknya permukaan air laut, akan mengancam warga dan kehidupan.
Lebih dari 90 persen kematian itu akan terjadi di
negara berkembang, kata laporan itu, yang memperhitungkan dampak ekonomi
dan manusia dari perubahan iklim terhadap 184 negara pada 2010 dan
2030. Laporan tersebut dikeluarkan oleh Forum Iklim Rentan, kemitraan 20
negara berkembang yang terancam perubahan iklim.
"Krisis gabungan iklim-karbon diperkirakan akan merenggut 100 juta jiwa antara sekarang dan akhir abad depan," kata laporan itu.
Dampak
perubahan iklim, kata laporan, telah menurunkan hasil global sampai 1,6
persen GDP dunia, atau sebesar 1,2 triliun dollar AS per tahun.
Sementara, kerugian dapat berlipat jadi 3,2 persen GDP global sampai
2030 jika temperatur global dibiarkan naik terus, hingga melampaui 10
persen sebelum 2100.
Laporan tersebut memperkirakan biaya
untuk menggerakkan dunia menuju ekonomi rendah-karbon sebesar 0,5 persen
GDP pada dasawarsa ini.
Saat menanggapi laporan itu, Oxfam International menyatakan biaya dari sifat pasif politik mengenai iklim sangat besar. "Kerugian pada sektor pertanian dan perikanan saja dapat berjumlah lebih dari 500 miliar per tahun sampai 2030. Kondisi tersebut terutama terjadi di negara paling miskin, tempat jutaan orang bergantung atas sektor itu untuk memperoleh nafkah," kata Direktur Pelaksana Oxfam International Jeremy Hobbs.