Rabu, 10 Juni 2026

Ultah 81 Tahun Jakob Oetama

Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama (JO) hari Kamis (27/9/2012) merayakan ulang tahunnya ke-81.

Tayang:
Editor: mufti
zoom-inlihat foto Ultah 81 Tahun Jakob Oetama
Kompas
Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama
SERAMBINEWS.COM - Presiden Komisaris Kompas Gramedia Jakob Oetama (JO) hari Kamis (27/9/2012) merayakan ulang tahunnya ke-81. Ulang tahun Pak JO dirayakan sederhana di gedung Kompas.

Penyanyi tiga zaman Titiek Puspa, penyanyi keroncong Sundari Soekotjo dan putrinya Intan Soekotjo meramaikan peringatan ultah Pak JO. Titiek Puspa (74) melantunkan lagu "Edelweis", "Nasi Goreng" an "O My Papa", sedangkan Sundari Soekotjo berduet dengan putrinya Intan Soekotjo (21) membawakan antara lain "Stasiun Balapan", "Keroncong Kemayoran" dan "Keroncong Tanah Air".


Suasana gembira dan bahagia sangat terasa dalam peringatan HUT ke-81 Jakob Oetama, yang juga dihadiri CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo dan Wakil CEO KG Liliek Oetama, serta tamu undangan Ishadi SK dan Mien Uno.


Hadir juga sahabat-sahabat Jakob Oetama yaitu P Swantoro yang pernah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi, August Parengkuan, yang kini ditunjuk Pemerintah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Italia, St Sularto penulis biografi Jakob Oetama "Syukur Tiada Akhir" dan Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas. Hadir juga Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun, Direktur Komunikasi Korporat Kompas Gramedia Widi Krastawan, serta sejumlah pimpinan unit di Kompas Gramedia dan para editor Harian Kompas.


Romo Sindhunata SJ memimpin doa dalam peringatan HUT ke-81 Jakob Oetama yang sederhana tersebut.


CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo mengutip pakar fengshui mengatakan, orang yang lahir pada tanggal 27 September adalah orang yang baik hati. "Pada umumnya orang yang gembira dan optimistis, gemar berkesenian terutama musik dan kesusasteraan. Konon orang yang lahir pada tanggal ini memperoleh banyak rezeki, terutama yang lahir pagi hari," papar Agung yang disambut gelak hadirin.


Jakob Oetama dalam sambutan singkatnya mengatakan, "Saya hanya bisa bersyukur dan berterima kasih. Saya suka berpikir, saya ini siapa dan asal saya dari mana. Tentu saya bisa menjadi begini karena berkat Yang di Atas. Tentu karena kita juga menjawab dan menyahut berkat tersebut."


Menurut Jakob Oetama, akhir-akhir ini, ia sering melakukan refleksi diri. "Salah satu yang saya syukuri adakah Kompas Gramedia sebagai Indonesia mini, yang pluralis, majemuk, yang bersinergi, yang saling melengkapi. (Kompas Gramedia) diberi berkah dan bisa melangkah maju. Ini yang setiap kali saya syukuri. Sekalipun kecil terbatas, namun (Kompas Gramedia) bisa memberikan kontribusi terhadap apa yang disebut jalan positif, bagaimana membangun negara ini. Tentu melalui jalan yang kita pilih, melalui media, buku, televisi," katanya.


Jakob Oetama meminta apa yang sudah dikerjakannya selama ini untuk dilanjutkan. "Karena ini sangat berguna bagi bangsa dan negara. Kita masih membutuhkan sikap positif. "Atas kebaikan Anda semua, saya hanya bisa berterima kasih," kata Jakob.


Jakob Oetama yang lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931, adalah wartawan dan salah satu pendiri Surat Kabar Harian Kompas. Saat ini Jakob adalah Presiden Komisaris Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.


Jakob merupakan putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Setelah lulus SMA (Seminari) di Yogyakarta, ia mengajar di SMP Mardiyuwana (Cipanas, Jawa Barat) dan SMP Van Lith Jakarta. Tahun 1955, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta. Jakob kemudian melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Sosial Politik UGM Yogyakarta.


Karir jurnalistik Jakob dimulai ketika menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956 dan berlanjut dengan mendirikan majalah Intisari tahun 1963 bersama P.K. Ojong. Pada 28 Juni 1965, bersama PK Ojong, Jakob mendirikan Harian Kompas yang dikelolanya hingga kini. Tahun 1980-an Kompas Gramedia makin berkembang pesat, terutama dalam industri komunikasi. Saat ini, Kompas Gramedia memiliki unit bisnis yang bergerak di bidang media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV sampai universitas.


Candaan untuk Pak JO


Sehari jelang ulang tahun Pak JO, Bentara Budaya juga merayakan ultah ke- 30 yang dipusatkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Palmerah Jakarta, Rabu (26/9/2012) malam. Acara ini  bisa jadi tidak akan dilupakan Pak JO.


Seniman asal Yogyakarta, Susilo Nugroho atau lebih dikenal dengan Den Baguse Ngarso benar-benar menggarap Jakob Oetama. Tentunya ini tidak serius alias humor.


Sebut saja, ia menyebut JO seorang yang tidak konsisten dengan profesinya. Kompas Gramedia pun dianggap tidak mendukung pendidikan. Loh kok bisa?


"Ya karena petingginya berlatarbelakang pendidikan guru yang seharusnya guru. Pak Agung (CEO Kompas Gramedia) itu kan lulusan FKIP, mestinya kan jadi guru. Pak Jakob dulu kan guru sekarang malah keluar jadi juragan koran. Ini kan nganggu pendidikan," tuturnya.


Ia pun mencontohkan dirinya yang tetap setia dengan dunia pendidikan dengan tetap menjadi guru di Jogja meskipun juga melawak. 


Tidak hanya itu, dengan gaya kocaknya, Den Baguse yang mengenakan baju batik Korpri akan menerima Jakob untuk mengajar di sekolah tempatnya mengajar sebagai tenaga guru honorer.


JO yang menyaksikan aksi Den Baguse Ngarso nampak tertawa kecil, sementara di antara penonton banyak yang tertawa terbahak-bahak.


Puas untuk meledek Jakob Oetama, Den Baguse Ngarso 'menantang' JO untuk naik ke atas panggung. Namun yang datang bukanlah JO asli, tapi 30 orang bertopeng hingga akhirnya membuatnya tidak berdaya.


Karena terpojok, Den Baguse akhirnya meminta orang-orang itu untuk membuka topeng. Belakangan diketahui salah satunya adalah seniman Sindhunata.


Saat menyampaikan sambutannya, Romo Sindhu meminta maaf serta apa yang dilakukan wujud perhatian dan kecintaan seniman terhadap sosok JO. Dalam kesempatan itu, seniman memberikan lukisan 30 wajah Jakob juga patung Jo yang tengah menuntun sepeda layaknya loper koran.


Jakob Oetama menyatakan, secara jujur apa yang rasakan,  hayati setelah menyaksikan semua ini adalah rasa syukur dan  terimakasih.


"Semoga selalu berguna bermanfaat bagi orang banyak dan kehadiran (Kompas Gramedia) tidak mencari nafkah tapi membangun nusa bangsa. Semua ini  membuat saya semakin tahu diri makin rendah hati serta lebih  mempunyai tanggung jawab sosial,"tuturnya. (Kompas.com|Tribunnews.com|Serambinews.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved