Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Reporter

Cara Dortmund Bangkit Setelah Era Tambang

SAYA sungguh beruntung dapat melanjutkan studi di Jerman atas beasiswa dari Pemerintah Aceh. Sebelum memulai Winter Semester 2012/2013

Tayang:
Editor: bakri
zoom-inlihat foto Cara Dortmund Bangkit Setelah Era Tambang
FEBI MUTIA
OLEH FEBI MUTIA, Penerima Beasiswa Program Magister Hydrogeology and Environmental Science Universität Göttingen, melaporkan dari Jerman

SAYA sungguh beruntung dapat melanjutkan studi di Jerman atas beasiswa dari Pemerintah Aceh. Sebelum memulai Winter Semester 2012/2013, saya ditempatkan dua bulan di Kota Dortmund untuk intensif bahasa Jerman. Tak hanya kursus bahasa, saya dan teman-teman penerima beasiswa Aceh juga difasilitasi oleh lembaga kursus untuk mengadakan stadtrunfahrt atau tur keliling kota.

Dortmund terletak di Negara Bagian Nordrhein Westfallen. Penduduknya 600.000 jiwa. Salah satu ikonnya adalah klub sepakbola das Ballspeil Verein Borosia 09 (BVB 09) yang telah mengukuhkan diri sebagai meisterschaft atau juara Bundesliga musim 2011/2012.

Saya melihat ada beberapa kesamaan antara Dortmund/kawasan Ruhrgebiet dengan Aceh. Kedua wilayah ini sama-sama kaya akan sumber daya energi fosil dan menjadi pusat perekonomian penting di masa silam. Tapi mengapa kini, kemakmuran dan kesejahteraan belum merata di Aceh? Ini patut kita jadikan bahan evaluasi bersama.

Saya optimis, fase kegemilangan itu bisa diduplikasi di Aceh, dengan syarat semua kita belajar dari sejarah dan mau berkontribusi untuk kemajuan Aceh, dalam bingkai kebaikan dan takwa, sekecil apa pun itu. Sekarang, saya coba berbagi kisah agar Aceh bisa belajar dari era kejayaan tambang di Dortmund, lalu bagaimana setelah hidrokarbon tak lagi jadi andalan? Akrobat bisnis apa yang bisa dilakukan setelah itu?

Dalam sejarah perdagangan dan industri di Jerman, Dortmund tercatat sebagai salah satu kota penting. Pada tahun 1847 ditemukan sumber tambang potensial, yaitu batubara. Tahun 1851 dimulai pembangunan terowongan tanda awal operasi penambangan “emas hitam” bawah tanah (underground) pertama di kawasan Nordrhein Westfallen. Sejak saat itu Dortmund dan sekitarnya seperti Bochum, Dusseldorf, dan Essen dikenal dengan nama ruhrgebeit (penghasil batubara). Kota-kota ini menjadi primadona bagi pencari kerja dari wilayah daratan Eropa.

Tercatat 1.890 orang pekerja pada awal mula operasi pertambangan yang kemudian meledak menjadi sepuluh kali lipat.

Produksi batubara terus meningkat dan berkembang sangat masif hingga akhirnya terpuruk karena Perang Dunia I. Namun, hal ini tidak berlarut-larut, karena pengusaha batubara mulai melakukan ekspansi bisnis dengan mengintergrasikan penambangan dan proses pengolahan (metalurgi) untuk memberi nilai tambah pada produk batubara, seperti pengolahan baja, bijih besi, kokas, ter aspal, dan amoniak. Tentu saja pembangunan infrastruktur pabrik, lokomatif, tanur pengolahan, dan jalur ventilasi tambang ikut berkembang dengan baik.

Namun, sumber daya alam tak terbarui itu telah menemui titik akhirnya. Akibat cadangan yang terus menipis dan tingginya biaya operasional, maka tahun 1971 berakhirlah era tambang Zollern setelah 120 tahun berjaya. Namun, situs tambang tersebut masih terawat dan kini menjadi Museum Zeche Zollern. Ini adalah salah satu museum tambang dari delapan situs pertambangan di kawasan industri Ruhr.

Zollverein bahkan telah berkembang menjadi situs pariwisata yang mengemas seni, budaya, kreativitas, dan area pertunjukan menjadi sebuah daya tarik yang menjual. Museum ini juga telah diakui Unesco tahun 2001 sebagai situs warisan dunia, karena mampu memadukan unsur historis dan budaya kontemporer dengan harmonis.

Sejak awal krisis batubara tahun 1957, wilayah Ruhr (Dortmund, Bochum, dan Essen) mengalami struktur wandel (perubahan struktural), ditandai dengan dimulainya investasi pada bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan media. Istilah “kota mati” pascapenutupan tambang dapat dihindari karena dibangunnya kampus yang mengintegrasikan aktivitas perkuliahan dan riset bagi perkembangan sains dan teknologi. Maka lahirnya Technische Universität Dortmund.

Belajar dari pengalaman, Dortmund sudah jauh berbenah. Ketersedian sumber energi fosil yang minim “memaksa” masyarakatnya ke luar dari zona nyaman dengan tidak lagi bergantung pada sumber daya alam, namun fokus pada investasi sumber daya manusia, yaitu pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan mental visioner dan bekerja cerdas. Itulah yang terjadi pada masyarakat Dortmund. Mereka lakukan perubahan fundamental dari fase industri berbasis struktur (pembangunan fisik) menuju fase industri kultur, pemikiran, dan inovasi. Nah, wilayah utara dan timur Aceh yang kini krisis deposit migas, bisa merujuk pada cara Dortmund ini.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved