Sabtu, 28 Februari 2015
Home » Opini

Perspektif Baru Studi Alquran

Jumat, 5 Oktober 2012 08:30 WIB

ALQURAN telah dinyatakan sebagai sumber petunjuk (inspirasi kebaikan) bagi seluruh umat manusia (bukan untuk umat Islam saja). Alquran juga mengandung berbagai keterangan dan penjelasan serta pembeda antara yang hak dan batil (QS. Al-Baqarah: 185). Kitab suci Alquran juga merupakan satu-satunya kitab suci yang masih terjaga otentisitasnya sampai hari ini, dan insya Allah sampai akhir zaman nanti. Kebenaran Alquran dibanding kitab suci maupun jutaan buku-buku ilmu pengetahuan lainnya yang dikarang oleh manusia telah mendapat legitimasi dari pernyataan Allah sendiri dalam Alquran (QS al-Baqarah: 20).

Di zaman Nabi Muhammad saw hingga pascawafat Nabi serta era berikutnya selalu saja ada orang-orang yang ingin mencoba membuat kitab alternatif selain Alquran, namun selalu mengalami jalan buntu. Bahkan di era kontemporer ini, ada sekelompok pemikir orientalis yang mencoba membuat Alquran edisi kritis, namun tetap mengalami kegagalan. Umat Islam meyakini bahwa Alquran merupakan karya Ilahi yang tak akan mungkin bisa ditiru oleh karya-karya kitab suci ciptaan manusia.

Coba sebutkan figur Nabi atau Rasul atau tokoh pemikir lainnya yang kisah hidupnya diceritakan secara lengkap seperti Nabi Muhammad saw yang mewariskan Alquran dan kumpulan hadis. Ini semua merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad dan Alquran sebagai figur teladan bagi semua umat manusia hingga akhir zaman. Sebagaimana tantangan Alquran di atas, dipersilahkan kepada para ilmuan atau peneliti di seluruh dunia untuk membuktikan kebenaran Alquran secara ilmiah dengan meminjam berbagai teori atau pandangan berbagai disiplin ilmu, dalam bentuk disertasi doktor, misalnya, lalu membandingkannya dengan kitab suci yang lain.

Hal menarik lainnya adalah ada beberapa ayat/surat di dalam Alquran yang isinya mengoreksi diri Nabi sendiri. Ini juga membuktikan  kejujuran seorang Muhammad saw tentang wahyu Alquran. Andaikata Nabi pendusta --seperti kebanyakan figur pemimpin atau politikus dewasa ini-- pasti Nabi akan mengedit, menyensor atau menghapus ayat-ayat yang dianggap bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau. Tetapi Nabi tetap menyampaikan ayat/surat yang berisi kritik terhadap beliau apa adanya, karena ini memang wahyu yang harus disampaikan kepada umat manusia seutuhnya, tanpa sensor/pengeditan dari Nabi satu kata pun.

 Maha Absolut-Obyektif
Alquran merupakan wahyu Tuhan yang Maha Absolut-Obyektif. Adapun penafsiran/pemahaman manusia/ulama terhadap Alquran tentu bersifat Relatif-Subyektif. Wahyu Alquran merupakan desain Allah swt, sedangkan tafsir merupakan desain manusia/ulama. Alquran merupakan kumpulan syariat, sedangkan kitab2 tafsir merupakan kumpulan fiqh/pemahaman para ulama.

Wahyu/syariat bersifat tetap/permanen sampai akhir zaman. Sedangkan tafsir/fiqh kebenarannya bersifat temporer, terbatas, terkait ruang dan waktu saat kitab tafsir/fiqh ditulis oleh para ulama yang terikat dengan zamannya, latar belakang pendidikan sang ulama, konteks sosial, politik, ekonomi di sekitar kehidupan sang penulis kitab tafsir/fiqh tersebut.

Itulah sebabnya umat tidak perlu heran mengapa muncul perbedaan aliran/mazhab tafsir, aliran mazhab/akidah, aliran/mazhab fiqh. Kebenaran wahyu Alquran merupakan kebenaran dengan “K” (besar) atau al-haq al-haqiqiyyah/obyektif, sedangkan kebenaran tafsir/fiqh merupakan kebenaran “k” (kecil) atau al-haq as-susiyulujiyyah/subyektif.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas