Senin, 22 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Perspektif Baru Studi Alquran

Jumat, 5 Oktober 2012 08:30 WIB

Oleh Muhammad Azhar

ALQURAN telah dinyatakan sebagai sumber petunjuk (inspirasi kebaikan) bagi seluruh umat manusia (bukan untuk umat Islam saja). Alquran juga mengandung berbagai keterangan dan penjelasan serta pembeda antara yang hak dan batil (QS. Al-Baqarah: 185). Kitab suci Alquran juga merupakan satu-satunya kitab suci yang masih terjaga otentisitasnya sampai hari ini, dan insya Allah sampai akhir zaman nanti. Kebenaran Alquran dibanding kitab suci maupun jutaan buku-buku ilmu pengetahuan lainnya yang dikarang oleh manusia telah mendapat legitimasi dari pernyataan Allah sendiri dalam Alquran (QS al-Baqarah: 20).

Di zaman Nabi Muhammad saw hingga pascawafat Nabi serta era berikutnya selalu saja ada orang-orang yang ingin mencoba membuat kitab alternatif selain Alquran, namun selalu mengalami jalan buntu. Bahkan di era kontemporer ini, ada sekelompok pemikir orientalis yang mencoba membuat Alquran edisi kritis, namun tetap mengalami kegagalan. Umat Islam meyakini bahwa Alquran merupakan karya Ilahi yang tak akan mungkin bisa ditiru oleh karya-karya kitab suci ciptaan manusia.

Coba sebutkan figur Nabi atau Rasul atau tokoh pemikir lainnya yang kisah hidupnya diceritakan secara lengkap seperti Nabi Muhammad saw yang mewariskan Alquran dan kumpulan hadis. Ini semua merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad dan Alquran sebagai figur teladan bagi semua umat manusia hingga akhir zaman. Sebagaimana tantangan Alquran di atas, dipersilahkan kepada para ilmuan atau peneliti di seluruh dunia untuk membuktikan kebenaran Alquran secara ilmiah dengan meminjam berbagai teori atau pandangan berbagai disiplin ilmu, dalam bentuk disertasi doktor, misalnya, lalu membandingkannya dengan kitab suci yang lain.

Hal menarik lainnya adalah ada beberapa ayat/surat di dalam Alquran yang isinya mengoreksi diri Nabi sendiri. Ini juga membuktikan  kejujuran seorang Muhammad saw tentang wahyu Alquran. Andaikata Nabi pendusta --seperti kebanyakan figur pemimpin atau politikus dewasa ini-- pasti Nabi akan mengedit, menyensor atau menghapus ayat-ayat yang dianggap bisa menjatuhkan kredibilitas Beliau. Tetapi Nabi tetap menyampaikan ayat/surat yang berisi kritik terhadap beliau apa adanya, karena ini memang wahyu yang harus disampaikan kepada umat manusia seutuhnya, tanpa sensor/pengeditan dari Nabi satu kata pun.

 Maha Absolut-Obyektif
Alquran merupakan wahyu Tuhan yang Maha Absolut-Obyektif. Adapun penafsiran/pemahaman manusia/ulama terhadap Alquran tentu bersifat Relatif-Subyektif. Wahyu Alquran merupakan desain Allah swt, sedangkan tafsir merupakan desain manusia/ulama. Alquran merupakan kumpulan syariat, sedangkan kitab2 tafsir merupakan kumpulan fiqh/pemahaman para ulama.

Wahyu/syariat bersifat tetap/permanen sampai akhir zaman. Sedangkan tafsir/fiqh kebenarannya bersifat temporer, terbatas, terkait ruang dan waktu saat kitab tafsir/fiqh ditulis oleh para ulama yang terikat dengan zamannya, latar belakang pendidikan sang ulama, konteks sosial, politik, ekonomi di sekitar kehidupan sang penulis kitab tafsir/fiqh tersebut.

Itulah sebabnya umat tidak perlu heran mengapa muncul perbedaan aliran/mazhab tafsir, aliran mazhab/akidah, aliran/mazhab fiqh. Kebenaran wahyu Alquran merupakan kebenaran dengan “K” (besar) atau al-haq al-haqiqiyyah/obyektif, sedangkan kebenaran tafsir/fiqh merupakan kebenaran “k” (kecil) atau al-haq as-susiyulujiyyah/subyektif.

Seperti kutipan berikut: “Ia (Alquran) memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yg tidak terbatas... Dengan demikian, ayat selalu terbuka untuk interpretasi baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal. Kalau engkau membaca Alquran, arti yang dibaca itu akan terang di hadapanmu. Tetapi kalau engkau membacanya lagi, maka engkau akan mendapatkan pula arti-arti baru yang tidak sama dengan arti terdahulu dan demikianlah untuk selanjutnya sehingga engkau akan mendapatkan kalimat atau kata yang mempunyai makna bervariasi, seluruhnya benar atau mungkin benar (ayat-ayat Alquran) adalah seperti intan di mana setiap sudutnya memancarkan cahaya yang tidak sama, dan tidak mustahil apabila engkau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memandangnya, maka dia akan menemukan lebih banyak daripada sesuatu yg engkau lihat.” (Prof. Dr. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, 1989: 43-44).

Atau mirip-mirip istilah CPU dalam komputer, ada dimensi ROM (Read Only Memory) yang permanen seperti kitab Alquran, namun ada aspek RAM (Random Access Memory) seperti kitab tafsir/fiqh dan lain-lain yang temporer dan bisa berubah.

Sejalan dengan pemikiran di atas, semua teks-teks Islam klasik seperti tafsir/fiqh/aqidah --termasuk dimensi asbabun nuzul ayat-ayat Alquran-- dalam banyak hal telah memiliki nuansa historis, psikologis dan sosiologis, yang berbeda dengan kondisi masyarakat masa kini, terlebih lagi kondisi masyarakat masa depan.

Dewasa ini penerapan nilai-nilai Alquran bisa diformat melalui pendekatan obyektivikasi, dan melalui proses ini hasilnya bisa menjadi pegangan obyektif bersama, baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan daerah. Di sinilah pemikir muslim dituntut untuk mampu mengoptimalkan formulasi nilai-nilai Qurani secara high intellectual, serta mengintegrasikannya dengan nilai-nilai kemanusiaan yang ada di masyarakat, baik yang bersumber dari adat maupun keyakinan pemeluk agama di luar Islam.

Fenomena Perbankan Syariah yang relatif bisa diterima juga oleh nonmuslim, merupakan salah satu bentuk obyektivikasi dimaksud. Boleh jadi karena pelabelan kata syariah di luar koridor politik/hukum relatif dianggap lebih soft ketimbang penggunaannya dalam koridor hukum maupun politik, seperti isu Perda Syariah maupun Piagam Jakarta/Negara Islam. Keberhasilan proses obyektivikasi tersebut tergantung pada sejauhmana para intelektual muslim dapat memberikan elaborasi yang lebih detail terkait isu-isu aktual maupun mengkaji horizon lain yang lebih luas di masa mendatang.

 Prospek ke depan
Untuk lebih memudahkan proses pengamalan nilai Alquran dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural di masa depan, ada baiknya para pembaca mendalami secara kritis beberapa pemikiran berikut: Pertama, gagasan tentang Alquran sebagai corpus terbuka maupun konsep masyarakat kitab dari Mohammed Arkoun; Kedua, demikian pula dari Fazlur Rahman tentang ideal moral dan legal spesifik serta teori double movement dalam memahami Alquran;

Ketiga, juga gagasan Abdullahi Ahmed An-Na’im tentang pemanfaatan ayat-ayat Makkiyyah (yang lebih universal) dibanding semata-mata bertumpu pada ayat-ayat Madaniyyah (yang cenderung partikular). Di sini an-Na’im ingin menjembatani antara pola pemikiran kaum sekuler maupun muslim fundamentalis; Keempat, teori bayani, irfani dan burhani dari Muhammad ‘Abid al-Jabiry; Kelima, konsep religious democracy dari Abdul Karim Soroush maupun konsepnya tentang penyusutan dan pengembangan studi Islam; Keenam, teologi sosial versi Asghar Ali Engineer dan Hassan Hanafi;

Ketujuh, gagasan tentang fundamentalisme autentik dan fundamentalisme politik dari al-‘Asymawi, dan; Kedelapan, juga menarik pula dicermati tulisan Abdullah Saeed yang berjudul Interpreting the Qur’an, Towards a Contemporary Approach. Karya-karya pemikir muslim kontemporer ini (bisa dilacak via Google) yang intinya memuat tentang berbagai kegelisahan akademik mereka, agar nilai-nilai Qurani bisa ditafsir ulang sesuai dengan konteks kekinian dunia Islam. Wallahu a’lam bisshawab.

* Dr. Muhammad Azhar, MA, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Email: muazar@yahoo.com
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas