Minggu, 30 Agustus 2015
Home » Opini

Akhlak di Antara Sifat Meterialis dan Hedonis

Jumat, 12 Oktober 2012 08:59

Innamal umamul akhlaqu ma baqiyat wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabu (Hidup dan bangunnya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, jika mereka tidak lagi menjunjung tingi norma-norma akhlaqul karimah, maka bangsa itu akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya). (Syair Syauqy Bey).

KEMAJUAN ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan hidup manusia semakin tak terkendali. Bumi ini semakin kotor, karena prilaku manusia semakin larut dan bergelimang dengan fahisyah dan munkar. Lebih ironis lagi, ketika wujud kehidupan ini didominasi materialis dan hedonis, malah semakin mengelupaskan nilai-nilai akhlakul karimah dan moralitas. Padahal pada dataran kehidupan ini akhlak dan moral sebagai development basic dan social control. Namun alam materi dan hedoni yang dikristalisasikan pada megaproyek teknologi, gedung yang menjulang tinggi, sarana komunikasi yang kian transparan, dan uang berputar sebagai prasyarat impor maupun ekspor dan transaksi di antara manusia, tetapi toh nilai kemanusiaan semakin terdisrtorsi dan ambruk.

Manusia semakin rakus dan tamak, kasus penyalahgunaan jabatan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, hampir saban hari dimuat mas media, budaya menghalalkan segala cara, menjadi trend menarik di abad ke-21 ini. Memang demikian adanya, suatu babak kehidupan di tengah kebudayaan moderen yang dipengaruhi budaya Barat. Kehidupan ini bermula pada zaman renaisance abad ke 15 dan 16 M yang menimbulkan dictum humanisme. Kemudian berlanjut ke abad 17 dan 18 M dengan model rasionalisme. Puncaknya, sekarang dimulai abad ke 19 hingga ke 20 ini, adalah scientisme dan materialisme.

Penguasa sekuler
Dalam pentas politik, tak sedikit negara dan elite politiknya yang melakukan putar haluan, menyetel kembali praktik-praktik Machiavellis. Suatu praktik, yang menurut Bertrand Russel (1970:507), di mana muncul suatu pandangan yang keliru dari penguasa sekuler dan kafir, bila jujur pasti hancur. Ia harus cerdik seperti anjing dan ganas seperti singa. Penguasa korup di atas kertas konstitusi, kata Russel, karena prinsip akhlak dan moral tidak lagi terkait dengan penguasa.

Begitu juga yang terjadi pada sisi perekonomian, tidak luput dari kepongahan moral. Betapa, kapitalisme yang diagungkan telah menumbuhkan hasrat mengeksploitasi alam secara berlebihan dan ‘memerkosa’ hak manusia tanpa mengenal batas kemanusiaan. Pada kehidupan perekonomian alam kapitalis ini, orang akan dikatakan hebat, manakala mengalami loncatan angka omzet yang signifikan. Pada kehidupan semacam ini pula, kemiskinan tidak lagi dibimbing secara persuasif dan apresiatif, melainkan represif (menekan dan menindas). Hal ini sejalan dengan ucapan Charles Darwin the fittes of the survival, manusia lemah harus kalah karena seleksi alam, mereka dibiarkan hidup terlunta, menjadi sapi perahan, budak, bahkan dibiarkan mati kelaparan.

Demikian juga Adam Smith dengan teorinya berupa free fight liberalism, yang juga membiarkan yang lemah tetap tidak ditolong, karena menurutnya akan ada tangan bayangan (invisible hands), yang akan mengurusinya (Munir Fuady, 2005;16). Maka tidaklah berlebihan bila dikatakan melalui progam pengentasan kemiskinan, banyak pemegang kebijakan menjadi kaya raya karena berbagai data rekayasa dan tidak valid, sedangkan kelompok miskin semakin bertambah jumlahnya dan malah semakin jadi miskin yang terlunta, tak berdaya.  

 Personifikasi wahyu
Semua umat Islam sependapat bahwa kehadiran dan keberadaan Nabi Muhammad saw, selaku personifikasi wahyu yang berada dalam ruang dan waktu tertentu (limited), telah berhasil memformat, membangun dan mengembangkan ajaran-ajarannya setelah berinteraksi dengan situasi, kondisi, kultur, tradisi, karakter alam dan kostruksi sosial masyarakat Arab yang sangat partikularistik. Sementara Alquran sebagai sistem nilai yang dijelaskan bersifat universal (syumul) mencakup semua aspek fi kulli hal waz zaman. Proses interaksi yang intens antara universalitas Alquran dan partikularitas kultur asli masyarakat Arab itulah sebuah realitas dimulai “pembangunan Islam yang madani”, berbasis syariah, membawa manusia bebas dari sifat jahili dan Rasulullah saw sendiri merupakan eksperimental sejarah manusia yang sangat ideal (khaira ummah) dan (uswatun hasanah).

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas