A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Akhlak di Antara Sifat Meterialis dan Hedonis - Serambi Indonesia
Jumat, 21 November 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Akhlak di Antara Sifat Meterialis dan Hedonis

Jumat, 12 Oktober 2012 08:59 WIB

Oleh Abd Gani Isa

Innamal umamul akhlaqu ma baqiyat wa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabu (Hidup dan bangunnya suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, jika mereka tidak lagi menjunjung tingi norma-norma akhlaqul karimah, maka bangsa itu akan musnah bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya). (Syair Syauqy Bey).

KEMAJUAN ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadikan hidup manusia semakin tak terkendali. Bumi ini semakin kotor, karena prilaku manusia semakin larut dan bergelimang dengan fahisyah dan munkar. Lebih ironis lagi, ketika wujud kehidupan ini didominasi materialis dan hedonis, malah semakin mengelupaskan nilai-nilai akhlakul karimah dan moralitas. Padahal pada dataran kehidupan ini akhlak dan moral sebagai development basic dan social control. Namun alam materi dan hedoni yang dikristalisasikan pada megaproyek teknologi, gedung yang menjulang tinggi, sarana komunikasi yang kian transparan, dan uang berputar sebagai prasyarat impor maupun ekspor dan transaksi di antara manusia, tetapi toh nilai kemanusiaan semakin terdisrtorsi dan ambruk.

Manusia semakin rakus dan tamak, kasus penyalahgunaan jabatan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, hampir saban hari dimuat mas media, budaya menghalalkan segala cara, menjadi trend menarik di abad ke-21 ini. Memang demikian adanya, suatu babak kehidupan di tengah kebudayaan moderen yang dipengaruhi budaya Barat. Kehidupan ini bermula pada zaman renaisance abad ke 15 dan 16 M yang menimbulkan dictum humanisme. Kemudian berlanjut ke abad 17 dan 18 M dengan model rasionalisme. Puncaknya, sekarang dimulai abad ke 19 hingga ke 20 ini, adalah scientisme dan materialisme.

Penguasa sekuler
Dalam pentas politik, tak sedikit negara dan elite politiknya yang melakukan putar haluan, menyetel kembali praktik-praktik Machiavellis. Suatu praktik, yang menurut Bertrand Russel (1970:507), di mana muncul suatu pandangan yang keliru dari penguasa sekuler dan kafir, bila jujur pasti hancur. Ia harus cerdik seperti anjing dan ganas seperti singa. Penguasa korup di atas kertas konstitusi, kata Russel, karena prinsip akhlak dan moral tidak lagi terkait dengan penguasa.

Begitu juga yang terjadi pada sisi perekonomian, tidak luput dari kepongahan moral. Betapa, kapitalisme yang diagungkan telah menumbuhkan hasrat mengeksploitasi alam secara berlebihan dan ‘memerkosa’ hak manusia tanpa mengenal batas kemanusiaan. Pada kehidupan perekonomian alam kapitalis ini, orang akan dikatakan hebat, manakala mengalami loncatan angka omzet yang signifikan. Pada kehidupan semacam ini pula, kemiskinan tidak lagi dibimbing secara persuasif dan apresiatif, melainkan represif (menekan dan menindas). Hal ini sejalan dengan ucapan Charles Darwin the fittes of the survival, manusia lemah harus kalah karena seleksi alam, mereka dibiarkan hidup terlunta, menjadi sapi perahan, budak, bahkan dibiarkan mati kelaparan.

Demikian juga Adam Smith dengan teorinya berupa free fight liberalism, yang juga membiarkan yang lemah tetap tidak ditolong, karena menurutnya akan ada tangan bayangan (invisible hands), yang akan mengurusinya (Munir Fuady, 2005;16). Maka tidaklah berlebihan bila dikatakan melalui progam pengentasan kemiskinan, banyak pemegang kebijakan menjadi kaya raya karena berbagai data rekayasa dan tidak valid, sedangkan kelompok miskin semakin bertambah jumlahnya dan malah semakin jadi miskin yang terlunta, tak berdaya.  

 Personifikasi wahyu
Semua umat Islam sependapat bahwa kehadiran dan keberadaan Nabi Muhammad saw, selaku personifikasi wahyu yang berada dalam ruang dan waktu tertentu (limited), telah berhasil memformat, membangun dan mengembangkan ajaran-ajarannya setelah berinteraksi dengan situasi, kondisi, kultur, tradisi, karakter alam dan kostruksi sosial masyarakat Arab yang sangat partikularistik. Sementara Alquran sebagai sistem nilai yang dijelaskan bersifat universal (syumul) mencakup semua aspek fi kulli hal waz zaman. Proses interaksi yang intens antara universalitas Alquran dan partikularitas kultur asli masyarakat Arab itulah sebuah realitas dimulai “pembangunan Islam yang madani”, berbasis syariah, membawa manusia bebas dari sifat jahili dan Rasulullah saw sendiri merupakan eksperimental sejarah manusia yang sangat ideal (khaira ummah) dan (uswatun hasanah).

Melalui uswatun hasanah yang demikian menyatu dalam dirinya, semua gerak, prilaku dan ucapannya, diwarnai akhlak Qurani, beliau telah mampu membawa perubahan besar yang sebelumnya didominasi superioritas kuffar Quraisyi, yang akhirnya tidak berdaya untuk menghambat dan menolak pesan moral yang dibawanya di samping sarat dengan nilai-nilai Ilahiyah. Melalui akidah, semakin mantapnya “budaya iman dan malu, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Malu tidak melakukan perintah Allah, malu mencuri, malu korupsi, malu tidak menutup aurat dan lain sebagainya. Bahkan beliau mengatakan iman dan malu padanan yang serasi, bila salah satu hilang, hilanglah keduanya.

Pembangunan yang berazaskan akhlak dan moral, ditopang Qurani, merupakan prinsip utama dalam merubah (taghyir) dari prilaku yang tidak terpuji kepada yang mulia, sesuai penegasan Nabi saw: Innama bu’ist tu li utammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia). Berdasarkan hadis tersebut, yang menjadi penekanan adalah upaya rehabilitasi manusia menjadi prioritas utama untuk memperbaiki kondisi manusia menjadi manusiawi.

Artinya, menurut Islam manusia harus lebih dulu baik, kemudian baru bisa dan dapat menggagas kebaikan dunia dan masyarakat secara menyeluruh. Konsep yang ditawarkan Islam tentu sangat bertentangan dengan versi Barat (nonmuslim) saat ini, yang lebih mengutamakan rehabilitasi alamnya dari pada manusia. Maka tidak heran munculnya berbagai pranata sosial baik di bidang hukum, keadilan, kesetaraan jender, hak-hak azasi manusia dan sebagainya.

 Telah teruji
Bila dinormalisasikan, Barat punya ‘materi’, umat Islam punya basis ‘akhlak’ dan ‘moral’. Keduanya sulit dipilih salah satu, sebab keduanya telah teruji dalam sejarah, dan bila memilih materi adalah kebinasaan. Memilih moral tanpa materi adalah kemunduran (lihat QS. Muhammad: 10). Kualitas moral dan materi mestilah paralel. Sebab, kata M Nasir (1990:13), undang-undang baja sejarah akan mengatakan; kamu akan diperlakukan orang, sesuai dengan kualitasmu.

Jadi alam pembangunan akan mampu menapaki kebahagiaan, kesejahteraan dan kemuliaan, manakala moral yang berbasiskan Islam dijadikan pegangan hidup. Karena pada moral (baca: akhlak) yang demikian memiliki cinta kepada Allah, sehingga apa pun yang kita lakukan mengacu pada ketundukan dan ketaatan padaNya, serta cinta kepada sesama manusia yang diwujudkan dalam tawashau bilhaq wa tawashau bis shabr. (QS. Al-’Ashr: 3).

Bila akhlak dan moral tidak tegak, gedung-gedung tinggi menjulang tidak bermakna, sementara manusia dalam makna ‘manusia’ malah jadi terbuang percuma. Tanpa moral akan semakin banyak Bani Adam yang hilang dan meninggal tanpa alasan. Kalau hanya materi, dunia ini pasti penuh misteri bahkan semakin ngeri. “Tegak rumah karena sendi, sendi rusak rumah binasa, tegak bangsa karena budi, budi rusak negara binasa.”

* Dr. H. Abd. Gani Isa
, Dosen Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: aganiisa@yahoo.co.id
Editor: bakri
0 KOMENTAR
87643 articles 16 0
Avatar
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas