A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Amal Ibadah pada Hari Raya Idul Adha - Serambi Indonesia
Sabtu, 22 November 2014
Serambi Indonesia

KAI

Amal Ibadah pada Hari Raya Idul Adha

Jumat, 12 Oktober 2012 09:03 WIB

Diasuh oleh Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA.

Pertanyaan:
Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz Pengasuh, bersama ini saya ingin mengetahui apa sajakah yang baik dilaksanakan kaum muslimin dan muslimat pada musim haji, kalau mereka tidak berkesempatan menunaikan ibadah haji. Atas kemurahan hati ustadz menjawab, saya mengucapkan banyak terima kasih.

Syarifuddin
Banda Aceh

Jawaban:
Sdr Syarifuddin, yth.
Waalaikumus Salam wr. wb.

Sesungguhnya Allah swt sangat mencintai hambaNya, baik yang berkesempatan menunaikan Rukum Islam kelima ataupun yang kesempatannya masih tertangguhkan. Bagi yang belum berkesempatan berkesempatan atau yang lebih tepat disebut bagi yang berada di luar lokasi pelaksanaan haji pada musim haji. Kepada kita ini Allah memberikan kesempatan yang cukup banyak, untuk melakukan amal ibadah khusus musim haji, mulai dari hari Arafah sampai dengan hari Tasyrik yang terakhir.

Di antara amal ibadah yang disyariatkan pada hari-hari tersebut ialah: Pertama, bertakbir pada setiap habis shalat lima waktu mulai dari shalat Zuhur hari Idul Adha hingga shalat Shubuh hari terakhir Tasyrik, sebagaimana firman Allah swt: “Dan berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang tertentu jumlahnya itu.” (QS. Al-Baqarah: 203). Telah ijmak ulama, berzikir di sini ialah mengucapkan takbir (takbiran); Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar. Allahu Akbar walillaahil hamd. Dan seterusnya;

Kedua, melaksanakan puasa sunat hari Arafah, sebagaimana disyariatkan melalui sabda Rasulullah saw: Puasa hari Arafah menebus dosa tahun lalu dan tahun mendatang. Perlu diingatkan bahwa puasa tersebut hanya disunatkan bagi orang yang tidak dalam keadaan wuquf di Arafah. Sedangkan bagi jamaah yang wuquf malah dilarang berpuasa sesuai hadis riwayat Abu Daud; Ketiga, menahan diri dari makan dan minum, dll yang dapat membatalkan puasa pada hari 10 Zulhijjah, mulai dari terbit fajar sampai selesai shalat Hari Raya Haji. Ini sesuai dengan anjuran dan petunjuk pelaksanaan dari Rasulullah saw sendiri, yang seringkali melakukan yang demikian;

Keempat, mandi dan mengenakan wewangian. Hal ini bagi orang laki dan memakai pakaian yang paling bagus tanpa berlebih-lebihan, tanpa isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki), tidak mencukur jenggot karena hal tersebut haram hukumnya. Sedangkan wanita disyariatkan baginya keluar menuju tempat shalat Id tanpa tabarruj, tanpa memakai wewangian dan hendaklah seorang muslimah berhati-hati berangkat dalam rangka taat kepada Allah dan shalat sedang dia melakukan maksiat kepadaNya dengan tabarruj, membuka aurat dan memakai wewangian di hadapan orang laki.

Melaksanakan, shalat Id dua rakaat. Pelaksanaan rukun, syarat dan tata laksananya persis seperti shalat Idul Fitri, yaitu tidak didahului azan atau iqaamat. Pada rakaat pertama diucapkan takbir sebanyak tujuh kali, pada rakaat kedua lima kali sebelum membaca fatihah. Kemudian dilanjutkan dengan dua atau satu khutbah. Bila yang dilakukan dua khutbah, maka pada khutbah pertama disunatkan mengucapkan takbir sebanyak sembilan kali dan pada khutbah kedua disunatkan cuma tujuh kali;

Kelima, berkuban bagi yang mampu, yaitu menyembelih ternak untuk kurban. Hukumnya adalah adalah sunnah muakkadah (sunnah yang ditekankan); Keenam, menempuh jalan yang berbeda. Disunnahkan untuk berangkat ke tempat shalat Id lewat satu jalan dan pulang lewat jalan yang lain berdasarkan perbuatan Rasulullah saw; Ketujuh, makan daging kurban. Rasulullah saw tidak makan daging kurban sebelum pulang dari shalat Id, setelah itu baru dia memakannya;

Kedelapan, ucapan selamat. Disunatkan untuk saling mengucapkan selamat, seperti: Taqabbalallhu minnaa wa minkum (Semoga Allah menerima amal kita dan anda sekalian), dan; Kesembilan, banyak lagi ibadah yang disyariatkan pada kesempatan tersebut, seperti pergi dan pulang dari shalat Id melalui ruas jalan yang berbeda. Wanita yang sedang menstruasi juga disunatkan menghadiri khutbah Id, meskipun tidak ikut shalat.

Para pembaca, tentunya dapat mendalami sendiri melalui literatur-literatur yang sangat mudah diperoleh, karena hampir semua kitab fiqh (ilmu hukum Islam) membahas masalah ini. Sebagai contoh kita sebutkan Nihayatul Muhtaaj karangan Syeikh Ar-Ramaly, At-Tuhfah (oleh Al-Haitamy), Al-Majmuuk (oleh An-Nawawy), Bidayaatal Mujtahid (oleh Ibnu Rusyd), dan lain-lain, yang memang telah disiapkan ulama di dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia seperti Fiqh Islam karangan Sulaiman Rasyid dan Sabiilal Muhtadin, dalam bahasa Jawi (Arab Melayu) yang cukup terkenal di kawasan Asia Tenggara itu. Demikian, Wallahu a’lamu bish-shawaab.
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas