Citizen Reporter
Tak Sekadar Belajar Bahasa Mandarin
UNIVERSITAS Amoiensis yang dikenal dengan nama Xiamen University atau Xiamen Daxue baru-baru ini menerima tamu dari Indonesia, yakni 47
UNIVERSITAS Amoiensis yang dikenal dengan nama Xiamen University atau Xiamen Daxue baru-baru ini menerima tamu dari Indonesia, yakni 47 orang guru bahasa Mandarin. Kami diundang oleh Hanban Confoucious Institute yang bekerja sama dengan Xiada, sebutan untuk Xiaman Daxue.
Dari Aceh, hanya ada dua peserta. Saya dan Neny Srimulyani. Selain mewakili Aceh, kami juga mewakili Pulau Sumatera. Selama ini belum pernah ada kesempatan dari Aceh untuk pertemuan tenaga pengajar bahasa Mandarin. Tapi tahun ini beda. Selain ada peserta yang diundang, Aceh juga masuk peringkat ke-13 yang memiliki Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM).
Sejak saya masuk ke Xiamen University, berbagai cerita berdimensi sejarah masuk kuping saya terus-menerus. Dimulai dari kisah Xiamen University yang digagas oleh seorang Eropa. Kampus ini dulunya bernama Universitas Amoiensis, kemudian untuk lebih familiar dengan masyarakat Cina namanya diubah jadi Xiamen Daxue. Namun, masyarakat asing lebih mudah menyebutnya Xiamen University.
Berbagai jurusan ada di kampus ini. Sama halnya dengan mahasiswanya yang terdiri atas berbagai negara, agama, dan latar budaya yang berbeda.
Kampusnya yang besar dilengkapi pula dengan berbagai fasilitas umum, seperti layaknya sebuah kota. Mulai dari asrama mahasiswa yang ditempati oleh semua mahasiswa Xiada (sebutan lain kampus ini), kantin muslim dan umum, supermarket, toko pecah belah, toko elektronik, toko buku, rumah sakit, bank, taman, danau, dan lain-lain. Tak heran jika kampus ini masuk peringkat 10 besar di Cina.
Sistem pendidikannya lebih modern. Mahasiswa asing diwajibkan belajar bahasa Mandarin, sebab bahasa pengantar perkuliahan ya memang bahasa Mandarin.
Jika kita melewati Pusat Pelatihan Bahasa Mandarin untuk Orang Asing, akan terlihat banyak sekali orang asing dari berbagai negara berkumpul di sana. Mahasiswanya tidak hanya sekadar belajar teori kebahasaan, tetapi juga langsung mempraktikkan bahasa Mandarin.
Hal ini juga kami alami saat berada di kelas. Selama dua hari penuh laoshi (tutor) memberikan materi tentang metode pengajaran dan pendidikan di depan kelas. Pada hari ketiga kami diwajibkan menyelesaikan tugas dan mempresentasikannya.
Kelompok utama dibagi ke dalam dua bagian besar, yakni pendidikan bahasa Mandarin untuk lanjutan dan anak-anak. Saya bersama seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah di Jakarta memilih kelompok bahasa Mandarin untuk pemula atau anak-anak. Seusai presentasi, kelompok kami terpilih menjadi yang terbaik. Esoknya, kami melakukan presentasi lagi di forum yang lebih besar.
Menariknya, dosen-dosen di sini tidak hanya memantau aktivitas siswa. Mereka juga memberi masukan kepada semua peserta yang melakukan presentasi.
Saat presentasi, ada seorang peserta tampil cukup menarik. Ia benar-benar menguasai forum sebagai seorang guru. Semua peserta menganggap dialah pemenangnya. Tapi ternyata setelah pengumuman, dia tidak termasuk dalam tiga besar. Semua kami terkejut dan minta penjelasan. Ternyata ada sisi-sisi penilaian yang dilakukan laoshi jauh dari bayangan siswa.
“Cara mengajarnya memang menarik. Bertutur. Dalam mengajar, bercerita saja tidak cukup. Seorang guru harus mampu melibatkan benda (alat peraga) yang jadi pembahasan kepada muridnya agar murid ingat apa yang disampaikan oleh guru,” jelas laoshi kepada kami tentang peserta yang tampil memukau, tapi tak jadi pemenang itu.
Menurut laoshi, penyajian materi dalam mengajar, apalagi mengajar bahasa Mandarin, tidak cukup hanya menarik secara content, tapi juga harus dimengerti murid dengan baik apa yang disampaikan gurunya.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com