Senin, 3 Agustus 2015

Tari Saman Aceh

Minggu, 21 Oktober 2012 12:38

Soal Tari Saman  kini  kerap dibicarakan.  Lebih lagi setelah UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi mengakuinya sebagai warisan dunia bukan benda pada 19 November 2011. Namun, ada kabar yang tampaknya sengaja digelincirkan oleh orang-orang tertentu tentang Tari Saman, sehingga jarang terdengar ada orang yang menyebut Tari Saman Aceh.

Entah itu dilakukan karena kurang pengetahuan atau memang sengaja untuk menonjolkan kelompok  tertentu, lalu membalik-balikkan data sejarah. Awalnya, ketika Lembaga Budaya Saman meminta kepada Wakil Gubernur Aceh (saat itu Muhammad Nazar) pada awal tahun 2010 untuk segera mempatenkan Tari Saman, tidak pernah menduga ada pihak yang memelintir tari Saman Aceh secara sembunyi-sembunyi.

Di antara kesimpangsiuran sebutan Saman, hanya Kodam Iskandar Muda saat mengadakan Tarian Saman massal dengan 3.000 penari yang mendapat Rekor Musium Rekor Dunia Indonesia (Rekor Muri) pada 2010 yang mempraktikkan Tari Saman sebenarnya. Tarian Saman oleh Kodam IM ini juga memakai bahasa Aceh dengan pakaian aneka warna yang mewakili seluruh etnik di Aceh.

Ini menandakan pihak militer ternyata lebih memahami seni kebudayaan di Aceh daripada masyarakat umum atau pemerintahan sipil di Aceh. Wajar saja militer mendapat penghargaan tersebut. Para pencinta seni, juga orang-orang media di Aceh,  diharapkan berhati-hati mempublikasikan atau mengklaim sesuatu tentang seni kebudayaan yang merupakan khazanah bangsa.

Kita tahu, sejak ratusan tahun lalu, orang Aceh menyebut Saman untuk semua tarian. Ini berarti Tari Likok Pulo (Saman kepulauan Aceh), Seudati (Saman pesisir daratan Utara-Timur Aceh), Saman Gayo (Saman dataran tinggi Aceh), Rapai Pulot atau Rapai Geleng (Saman pesisir Barat Aceh), adalah Tari Saman Aceh.

Selain sebutan Saman, orang Aceh juga menyebutkan ‘Ratoh’ untuk semua jenis tarian tersebut. Ada Ratoh Duek, ada Ratoh Dong. Saman Duek, Saman Dong. Adalah amat keliru jika Tari Saman disebut hak eksklusif masyarakat tertentu  di Aceh. Orang pesisir ada Samansendiri, orang pegunungan  juga ada Saman sendiri.

Semua jenis tari di Aceh disebut Tari Saman. Kemungkinan besar semua tari itu berasal dari Tari Meugrop yang berkembang di pantai Utara Aceh, khususnya Samalanga, Bireuen. Tari Meugrop punya gerak sambil duduk,  ada juga  yang sambil berdiri. Ratoh Duek dan Ratoh Dong ada dalam Tari Meugrop.

Halaman123
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas