Senin, 22 Desember 2014
Serambi Indonesia

Tari Saman Aceh

Minggu, 21 Oktober 2012 12:38 WIB


Oleh Thayeb Sulaiman

Soal Tari Saman  kini  kerap dibicarakan.  Lebih lagi setelah UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) secara resmi mengakuinya sebagai warisan dunia bukan benda pada 19 November 2011. Namun, ada kabar yang tampaknya sengaja digelincirkan oleh orang-orang tertentu tentang Tari Saman, sehingga jarang terdengar ada orang yang menyebut Tari Saman Aceh.

Entah itu dilakukan karena kurang pengetahuan atau memang sengaja untuk menonjolkan kelompok  tertentu, lalu membalik-balikkan data sejarah. Awalnya, ketika Lembaga Budaya Saman meminta kepada Wakil Gubernur Aceh (saat itu Muhammad Nazar) pada awal tahun 2010 untuk segera mempatenkan Tari Saman, tidak pernah menduga ada pihak yang memelintir tari Saman Aceh secara sembunyi-sembunyi.

Di antara kesimpangsiuran sebutan Saman, hanya Kodam Iskandar Muda saat mengadakan Tarian Saman massal dengan 3.000 penari yang mendapat Rekor Musium Rekor Dunia Indonesia (Rekor Muri) pada 2010 yang mempraktikkan Tari Saman sebenarnya. Tarian Saman oleh Kodam IM ini juga memakai bahasa Aceh dengan pakaian aneka warna yang mewakili seluruh etnik di Aceh.

Ini menandakan pihak militer ternyata lebih memahami seni kebudayaan di Aceh daripada masyarakat umum atau pemerintahan sipil di Aceh. Wajar saja militer mendapat penghargaan tersebut. Para pencinta seni, juga orang-orang media di Aceh,  diharapkan berhati-hati mempublikasikan atau mengklaim sesuatu tentang seni kebudayaan yang merupakan khazanah bangsa.

Kita tahu, sejak ratusan tahun lalu, orang Aceh menyebut Saman untuk semua tarian. Ini berarti Tari Likok Pulo (Saman kepulauan Aceh), Seudati (Saman pesisir daratan Utara-Timur Aceh), Saman Gayo (Saman dataran tinggi Aceh), Rapai Pulot atau Rapai Geleng (Saman pesisir Barat Aceh), adalah Tari Saman Aceh.

Selain sebutan Saman, orang Aceh juga menyebutkan ‘Ratoh’ untuk semua jenis tarian tersebut. Ada Ratoh Duek, ada Ratoh Dong. Saman Duek, Saman Dong. Adalah amat keliru jika Tari Saman disebut hak eksklusif masyarakat tertentu  di Aceh. Orang pesisir ada Samansendiri, orang pegunungan  juga ada Saman sendiri.

Semua jenis tari di Aceh disebut Tari Saman. Kemungkinan besar semua tari itu berasal dari Tari Meugrop yang berkembang di pantai Utara Aceh, khususnya Samalanga, Bireuen. Tari Meugrop punya gerak sambil duduk,  ada juga  yang sambil berdiri. Ratoh Duek dan Ratoh Dong ada dalam Tari Meugrop.

Mungkin pola inilah yang berkembang kemudian sampai ada beberapa jenis Tari Saman. Dalam Saman pesisir Utara Aceh (Seudati) hanya Ratoh Dong, dalam Saman pengunungan (Saman Gayo) hanya Ratoh Duek. Ini baru kemungkinan. Para pencinta tari bisa menelitinya secara lebih mendalam.

Berdasarkan isi syair dan gerak,  dalam semua jenis Tari Saman yang berkembang di Aceh berisi kalimat-kalimat Islam, menandakan semua tarian tersebut berkembang setelah Islam dianut oleh orang Aceh. Kita tahu bagaimana orang-orang dari daratan benua Asia bagian Barat menuju Aceh kala itu untuk mendakwahkan Islam. Dari beberapa sumber, hanya Tari Pho yang lahir jauh sebelum Islam datang, merupakan tarian tertua. Tarian ini berkembang di pesisir Barat Aceh.

Yang jelas, saya tidak mungkin mengatakan kalau Tari Saman itu berkembang pada mulanya di Paloh Dayah, kampung lahir saya di wilayah Lhokseumawe. Jika ada orang dari daratan tinggi di Aceh mau mengklaim Tari Saman hanya ada di pegunungan Leuser, itu  hak  mereka. Namun,  sejarah yang mereka bantah terlalu kokoh.

Pada kenyataannya, Islam datang dari daratan Asia Barat (dibawa oleh utusan khalifah dari Farsia, Yaman, kemudian Turki) ke Aceh lebih dahulu mendapati pesisir. Yang dikirim sebagai kafilah pendakwah adalah orang-orang yang menguasai pelayaran laut, karena mereka harus melintasi lautan raya Samudera India.

Ini berarti yang didaftarkan di UNESCO adalah Ratoh secara umum atau Tari Saman, tanpa tambahan kata lainnya. Jika disebutkan di UNESCO yang didaftarkan adalah Tari Saman-- dengan ada spesifikasinya salah satu tempat tari itu berkembang--maka lembaga dunia itu kemungkinan besar salah dan harus membatalkan pengakuan tersebut, lalu menggantikannya dengan nama Saman, tanpa tambahan nama apa pun.

Para pakar sejarah kebudayaan di Aceh sebaiknya memeriksa ulang di UNESCO, apakah yang diakui mereka itu Tari Saman secara umum yang juga disebut Ratoh atau bukan. Periksa juga, bagaimana proses sehingga Tari Saman diakui oleh lembaga dunia tersebut. Yang kami ketahui, Tari Saman yang diakui UNESCO adalah Tari Saman secara umum, bukan salah satu dari jenis Saman tersebut sebagaimana yang dikabarkan sebelum ini.

Kalau bukan tari Saman secara umum atau Ratoh Duek dan Ratoh Dong yang didaftar UNESCO, maka pengakuan itu harus dicabut karena bertentangan dengan kebudayaan yang ada. Apakah UNESCO bisa salah? Bisa. Atau mungkin bukan dalam politik saja, tapi dalam pengklaiman seni pun ada sabotasenya, persis dengan isu Tari Pendet dan Angklung yang sempat diributkan oleh Indonesia dan Malaysia.

Kita harus mengandalkan maksud baik dan kejujuran semata dalam dunia kebudayaan. Tanpa itu hanya akan terjadi pertentangan yang memang sengaja diciptakan oleh pihak di luar Aceh.Kesadaran pada kesengajaan ‘memperpecahkan’  harus diakui oleh kaum minoritas dan mayoritas di Aceh. Sikap membesarkan dan mempopulerkan ras dirinya dengan melawan ras lain adalah pikiran primitif di zaman demokrasi ini. Pesisir dan pegunungan adalah sebuah kesatuan Aceh yang mutlak.

Kekuatan Aceh saat ini adalah pada persatuan masyarakatnya yang heterogen. Iman kepada Allah adalah kekuatan kita. Islam mempersatukan kita. Hanya itu. Dan, sebagai bangsa beradab, kita harus jujur terhadap sejarah, sekecil apa pun itu. Dari pondasi imanlah Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan di seluruh Aceh.


Thayeb Sulaiman
, akitivis kebudayaan di Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT), inisiator Lembaga Budaya Saman.
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas