Sabtu, 4 Juli 2015

Banjir Landa Nagan Raya

Selasa, 30 Oktober 2012 09:42

Banjir Landa Nagan Raya - 301013foto_10.jpg
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Pengendara mendorong sepeda motor saat melewati banjir di lintasan Kuala Tuha-Lamie, Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya, Senin (29/10).
Banjir Landa Nagan Raya - 301013foto_11.jpg
SERAMBI/RASIDAN
Lintasan Gayo Lues - Aceh Tenggara sempat lumpuh selama tujuh jam lebih, akibat badan jalan di kawasan Desa Jamur Lak-lak dengan Desa Gunung Malas, Kecamatan Ketambe, Agara, tertimbun longsor, Senin (29/10).

JEURAM - Hujan lebat berhari-hari menyebabkan Krueng Lamie di Nagan Raya meluap pada Senin (29/10) pagi. Akibatnya, terjadi banjir sehingga ratusan rumah terendam dan banyak warga yang kehilangan harta bendanya. Namun, sejauh ini tidak ada korban jiwa.

Banjir tersebut melanda enam desa di Kecamatan Tripa Makmur, meliputi Gampong Ujong Krueng, Neubok Yee PP, Neubok Yee PK, Drien Tujoh, Babah Lueng, dan Kuala Tripa.

Luapan air sungai ke permukiman penduduk awalnya terjadi Senin sekitar pukul 06.00 WIB. Tinggi air di permukaan jalan perlahan-lahan bertambah, hingga mencapai 80 centimeter (cm), lalu merendam seluruh permukiman warga di kawasan pedalaman itu.

Akibatnya, aktivitas masyarakat terhenti. Demikian pula proses belajar-mengajar di SD dan SMP Tripa Makmur. Luapan air setinggi 30 cm yang merendam seluruh ruang kelas di kedua sekolah itu memaksa murid-murid dan dewan gurunya tidak lagi melanjutkan kegiatan belajar-mengajar.

“Kami terus memantau ketinggian air, karena luapannya terus meluas ke permukiman warga, termasuk ke sekolah-sekolah,” kata Camat Tripa Makmur, Nagan Raya, Abdul Kadir kepada Serambi kemarin sore.

Menurutnya, banjir itu menyebabkan 200 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Tripa Makmur mengalami kerugian, karena air bah turut merusak dan menghanyutkan harta benda, termasuk ternak unggas warga.

Camat Abdul Kadir juga menginformasikan, petugas Tagana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya hingga kemarin sore berada di lokasi banjir. Tim itu ingin memastikan apakah perlu dibuka tenda besar untuk menampung para pengungsi yang rumahnya terendam air atau belum saatnya. Sekaligus dianalisis perlu tidaknya menyelenggarakan dapur umum untuk memenuhi konsumsi korban banjir yang dapurnya belum memungkinkan difungsikan untuk memasak.

Halaman1234
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas