Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia

Banjir Landa Nagan Raya

Selasa, 30 Oktober 2012 09:42 WIB

Banjir Landa Nagan Raya - 301013foto_10.jpg
SERAMBI/DEDI ISKANDAR
Pengendara mendorong sepeda motor saat melewati banjir di lintasan Kuala Tuha-Lamie, Kecamatan Tripa Makmur, Nagan Raya, Senin (29/10).
Banjir Landa Nagan Raya - 301013foto_11.jpg
SERAMBI/RASIDAN
Lintasan Gayo Lues - Aceh Tenggara sempat lumpuh selama tujuh jam lebih, akibat badan jalan di kawasan Desa Jamur Lak-lak dengan Desa Gunung Malas, Kecamatan Ketambe, Agara, tertimbun longsor, Senin (29/10).
* Ratusan Rumah Terendam

JEURAM - Hujan lebat berhari-hari menyebabkan Krueng Lamie di Nagan Raya meluap pada Senin (29/10) pagi. Akibatnya, terjadi banjir sehingga ratusan rumah terendam dan banyak warga yang kehilangan harta bendanya. Namun, sejauh ini tidak ada korban jiwa.

Banjir tersebut melanda enam desa di Kecamatan Tripa Makmur, meliputi Gampong Ujong Krueng, Neubok Yee PP, Neubok Yee PK, Drien Tujoh, Babah Lueng, dan Kuala Tripa.

Luapan air sungai ke permukiman penduduk awalnya terjadi Senin sekitar pukul 06.00 WIB. Tinggi air di permukaan jalan perlahan-lahan bertambah, hingga mencapai 80 centimeter (cm), lalu merendam seluruh permukiman warga di kawasan pedalaman itu.

Akibatnya, aktivitas masyarakat terhenti. Demikian pula proses belajar-mengajar di SD dan SMP Tripa Makmur. Luapan air setinggi 30 cm yang merendam seluruh ruang kelas di kedua sekolah itu memaksa murid-murid dan dewan gurunya tidak lagi melanjutkan kegiatan belajar-mengajar.

“Kami terus memantau ketinggian air, karena luapannya terus meluas ke permukiman warga, termasuk ke sekolah-sekolah,” kata Camat Tripa Makmur, Nagan Raya, Abdul Kadir kepada Serambi kemarin sore.

Menurutnya, banjir itu menyebabkan 200 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Tripa Makmur mengalami kerugian, karena air bah turut merusak dan menghanyutkan harta benda, termasuk ternak unggas warga.

Camat Abdul Kadir juga menginformasikan, petugas Tagana dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya hingga kemarin sore berada di lokasi banjir. Tim itu ingin memastikan apakah perlu dibuka tenda besar untuk menampung para pengungsi yang rumahnya terendam air atau belum saatnya. Sekaligus dianalisis perlu tidaknya menyelenggarakan dapur umum untuk memenuhi konsumsi korban banjir yang dapurnya belum memungkinkan difungsikan untuk memasak.

Hingga sore kemarin, banjir yang diakibatkan oleh luapan air sungai di Krueng Lamie itu terus melus ke lokasi lainnya, sehingga masyarakat di wilayah itu resah dan tambah khawatir. Apalagi menjelang sore kemarin awan hitam masih bergelayut di atmosfer sebagian besar wilayah Nagan Raya. (edi)

17 Kabupaten/Kota di Aceh Diguyur Hujan
BANDA ACEH - 17 Kabupaten/kota di Aceh, selama 24 jam ke depan diprediksi bakal diguyur hujan ringan hingga lebat disertai petir dan angin kencang. Sementara, enam wilayah lainnya, yaitu Banda Aceh, Sabang, Karang Baru, Langsa, Lhoksukon, dan Lhokseumawe, cuacanya berawan. Pun demikian, keenam daerah ini, tetap berpeluang hujan ringan hingga sedang.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Blang Bintang, Aceh Besar, Rahmad Tauladani SSi, kepada Serambi,  Senin (29/10) menyatakan bahwa dengan suhu berkisar antara 17-32 derajat Celsius, secara umum cuaca di Aceh berawan dan berpeluang hujan ringan hingga lebat.

Oleh karenanya, kata Rahmad Tauladani, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada tentang kemungkinan terjadinya hujan berintensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan petir yang terjadi hampir di seluruh wilayah Aceh. Terutama di Aceh bagian tengah, barat, dan selatan.

Ia tambahkan, angin dengan ketinggian permukaan sampai 3.000 feet (kaki) umumnya bertiup dari arah timur laut-tenggara dengan kecepatan 05-30 kilometer per jam.

Kecuali itu, tinggi gelombang di perairan Aceh 0,5-1,25 meter. Sementara tinggi gelombang di perairan utara dan timur Aceh diperkirakan 0,5-1,25 meter. Sedangkan di wilayah perairan pantai barat-selatan, tinggi gelombangnya diperkirakan 0,5-1,5 meter.

Secara terpisah, Kepala Stasiun BMKG Bandar Udara Cut Nyak Dhien Nagan Raya, Edi Darlupti SE menyatakan, kawasan Aceh Barat dan Nagan Raya masih berpotensi diguyur hujan, khususnya mulai sore hingga malam hari. Sedangkan kecepatan angin yang bertiup dari arah barat daya mencapai 34 kilometer/jam.

“Kecepatan angin seperti ini harus diwaspadai, karena bisa menimbulkan angin kencang,” kata Edi Darlupti. Selain masih berpotensi terjadinya hujan selama beberapa hari mendatang, ia juga menginformasikan bahwa suhu udara di wilayah itu masih normal, berkisar antara 21-30 derajat Celcius dengan kelembaban udara berkisar antara 71-98 persen. Tinggi gelombang, menurutnya, diperkirakan masih normal, berkisar antara 1,25 meter hingga 2 meter. (awi/edi)

Lintas Agara-Galus Lumpuh 7 Jam

BLANGKEJEREN - Arus transportasi di lintas Gayo Lues (Galus) dengan Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), lumpuh total tujuh jam lebih sejak Senin (29/10) pukul 04.00 WIB, setelah badan jalan tertimbun longsor akibat guyuran hujan deras dalam beberapa hari terakhir.

Amatan Serambi, titik longsor itu terjadi di daerah pegunungan, perbatasan antara Desa Jamur Lak-lak dengan Desa Gunung Malas, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Agara. Di titik ini, sejak Senin sekira pukul 04.00 WIB, ratusan kendaraan dari arah Blangkejeren menuju Kutacane dan Medan atau sebaliknya, terpaksa antrean panjang menunggu material longsor dibersihkan dari badan jalan.

Sekira pukul 08.00 WIB sebuah alat berat mulai dikerahkan ke lokasi untuk membersihkan material longsor. Baru pada pukul 10.00 WIB arus transportasi dari Blangkejeren-Kutacane dan sebaliknya kembali normal. Itu pun setelah petugas yang turun ke lokasi longsor membuat jalan darurat sekadar bisa dilewati kendaraan.

Sejumlah sopir minibus L-300 rute Blangkejeren-Kutacane maupun sopir Blangkejeren-Medan merincikan bahwa puluhan meter badan jalan itu bukan saja tertimbun tanah, tetapi juga batu besar dan batang kayu. Selain itu, sekitar 2 hektare lebih kebun cokelat dan pisang milik warga Jamur Lak-lak ikut tertimbun longsor.

Bahkan, sembilan tiang listrik ikut tumbang, sehingga arus listrik padam total sejak pukul 04.00 WIB hingga petang kemarin di Kecamatan Ketambe. Saipul, sopir angkutan umum Blangkejeren-Medan kepada Serambi kemarin mengaku bahwa ia sempat antrean panjang dan istirahat di Desa Lak-lak sekitar enam jam lebih saat menunggu material longsor itu dibersihkan dari badan jalan.

Sementara itu, Mus, warga Desa Jamur Lak-lak mengatakan, longsor terjadi sejak pukul 04.00 WIB. Setelah material longsor dibersihkan dari badan jalan, barulah jalur tersebut bisa dilintasi kendaraan mulai pukul 10.00 WIB.

Akan tetapi, hingga kemarin petang arus listrik di Kecamatan Ketambe masih padam, karena beberapa tiang listrik ikut tumbang bersama material longsor ke dalam jurang di pinggir Sungai Alas itu.

Secara terpisah, Helmy selaku PPTK proyek pemeliharaan jalan dan jembatan (Projabam) dari kawasan Ise-ise Kabupaten Galus hingga ke Lawe Pakam, Kabupaten Agara, mengaku, pagi kemarin ia baru saja mengerahkan sebuah alat berat ke lokasi longsor.

Menurutnya, akan dikerahkan beberapa alat berat lainnya dari PT Pelita Nusa Perkasa untuk ikut membersihkan material longsor dari badan jalan.   “Alat berat akan kita siagakan di lokasi yang rawan longsor,” sebut Helmy yang sedang dalam perjalanan menuju sebuah rumah sakit.

Selang beberapa jam kemudian, Helmy kembali melaporkan kepada Serambi bahwa arus transportasi di titik longsor itu sudah lancar kembali, kendati material longsor sedang dibersihkan.

Sementara itu, Manajer PT PLN (Persero) Ranting Kutacane M Baek, kepada Serambi mengaku listrik di kawasan Ketambe masih padam total, setelah sembilan tiang listrik rusak terbawa material longsor ke dalam jurang.

“Belum tahu sampai kapan listrik bisa menyala kembali. Kerusakannya sangat parah. Bahkan lokasi pemasangan tiang baru belum bisa dipastikan di mana posisinya,” ujar M Baek. (c40)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas