Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Kesetaraan Gender

Sabtu, 3 November 2012 12:53 WIB


Oleh Mira Fitrianita


ISLAM menjunjung tinggikan derajat kaum perempuan, dengan menempatkannya pada kedudukan dan posisi terhormat. Islam sebagai agama samawi terakhir, juga mengatur tata cara tentang bagaimana memperlakukan dan memberdayakan perempuan. Tetapi, ironisnya ada sebagian masyarakat kita yang menganggap perempuan sebagai second human being (warga kelas dua), dan menganggap timbulnya banyak permasalahan itu muncul dari perempuan.

Sebenarnya dari dulu hingga saat ini perempuan merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dalam perjuangan. Contohnya saja seperti pejuang perempuan Aceh yaitu Laksamana Keumalahayati, Cut Meutia, Cut Nyak Dhien, dan masih banyak tokoh pejuang perempuan lainnya. Banyak hal positif lain yang dilakukan oleh perempuan, seperti perempuan bias menggerakkan masyarakat sekitar untuk memperbaiki kondisi perekonomian, mulai dari perekonomian keluarga, hingga meluas ke perekonomian rakyat.

Jika kita melihat kondisi lapangan selama ini memperlihatkan bahwa perubahan yang dialami oleh perempuan cenderung meningkat pesat dari pada kaum laki-laki. Minat perempuan untuk berubah dan tampil berbeda setiap saat itu menunjukkan kreativitas perempuan lebih tinggi dibanding kaum laki-laki. Banyak di kalangan perempuan yang menuntut perbaikan-perbaikan di dalam menjalankan peran dan posisinya.

 Pentingnya peran perempuan
Begitu pentingnya kedudukan dan peran perempuan, sehingga dalam kitab suci Alquran diatur khusus dalam satu surah yang disebut surah An-Nisa’ (Perempuan). Contoh konkretnya, bisa dilihat bagaimana misalnya peranan Khadijah ra sebagai motivator serta tim sukses dalam membantu Nabi Muhammad dalam segala hal, baik itu dalam berdakwah tentang ajaran agama Islam, membantu Nabi jika sedang mengalami kesulitan, dan masih banyak hal lainnya peranan Khadijah hingga membuat Nabi kuat untuk melaksanakan tugasnya.

Tapi kini, semua sejarah tentang keperkasaan perempuan masa lalu telah menjadi angin lalu dengan potret kehidupan perempuan sekarang. Kondisi perempuan sekarang sama artinya dengan runtuhnya tiang bangunan masyarakat dan negara. Perempuan sering diistilahkan sebagai ‘makhluk nomor dua’ bahkan kondisi perempuan sangat menyedihkan.

Pada tingkatan menengah ke bawah, nasib perempuan lebih ironis lagi, semakin banyaknya perlakuan majikan yang tidak wajar terhadap TKW, masih ada diskriminasi terhadap perempuan ini berlatar belakang buruknya kondisi perempuan, dari sisi kesehatan dengan masih tingginya angka kematian ibu dan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan baik di ranah keluarga maupun komunitas; belum diakuinya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan sehingga kepentingannya tidak terwakili, dan lain-lain kondisi yang menyebabkan perempuan dalam kondisi yang tertinggal atau tidak setara dibandingkan dengan laki-laki. Padahal perempuan sudah memberikan sumbangan besar bagi kesejahteraan keluarga dan pembangunan masyarakat.

Hal tersebut dikarenakan terjadinya ketidakadilan gender yang merupakan akibat dari budaya patriarkhi yang masih kuat berkembang di masyarakat dan dilanggengkan dalam berbagai kehidupan melalui praktik-praktik nilai-nilai budaya, sosial dan nilai-nilai kehidupan lainnya, telah membawa pembedaan akses, peminggiran, beban yang berlebih, hingga pada kekerasan terhadap perempuan.

Ketika ketidakadilan gender ini dibiarkan berlangsung terus menerus, maka akan menghambat perkembangan kemakmuran masyarakat dan menambah sukarnya perkembangan sepenuhnya dari potensi kaum perempuan dalam pengabdiannya terhadap negara dan terhadap umat manusia. Dan kondisi akan semakin parah bagi perempuan, ketika kemiskinan mendera, yang akhirnya menempatkan perempuan pada posisi yang paling sedikit mendapat kesempatan untuk memperoleh makanan, pemeliharaan kesehatan, pendidikan, pelatihan, maupun untuk memperoleh kesempatan kerja dan lain-lain kebutuhan.

 Kesetaraan gender
Dalam konstitusi kita, Pasal 28 I (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa: “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.” Karena itu kondisi ketidakadilan gender yang menimbulkan diskriminasi pada perempuan ini harus diubah dan dihapus sebagaimana yang dimandatkan dalam UU Nomor 7 Tahun 1984 beserta lampirannya.

Dalam UU tersebut pemerintah mempunyai kewajiban untuk mempromosikan, memenuhi dan melindungi hak-hak perempuan di berbagai bidang kehidupan sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian Negara berkewajiban melakukan segala upaya untuk memberikan perlindungan, penjaminan dan pemenuhan hak untuk hidup aman, setara dan adil bagi warga negaranya, terutama bagi perempuan yang masih mengalami ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender.

Dengan adanya peraturan yang komprehensif melindungi hak asasi perempuan di berbagai bidang kehidupan, dan mengatur mekanisme perwujudan kesetaraan gender melalui berbagai langkah tindak dalam upaya pembangunan nasional termasuk dalam proses pembentukan hukum dan peraturan perundangan, pengawasan keuangan negara, dan proses penegakkan hukum.

Perempuan tidak seharusnya bersedia menerima kenyataan di dunia sebagaimana adanya, di mana posisi mereka kerap diduakan. Perempuan juga harus ikut berpartisipasi dalam membuat dunia sebagaimana seharusnya. Perempuan juga harus menjadi komunitas yang melakukan perjuangan bukan hanya untuk perbaikan kualitas komunitasnya, namun juga kualitas bangsa secara keseluruhan. Perempuan tidak perlu terus hanya mengibarkan kehebatan perjuangan perempuan di masa lalu, tapi juga bisa memperlihatkan kehebatannya pada saat ini dan pada masa yang akan datang.

Semoga dengan adanya kesetaraan gender ini memberi dampak positif bagi upaya mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Perempuan tidak hanya duduk diam melihat perkembangan yang terjadi, tetapi mereka juga bisa mengeluarkan kehebatan yang mereka punya sehingga mampu mewujudkan tatanan masyarakat yang bersandar pada kesetaraan dan keadilan.

* Mira Fitrianita
, Mahasiswi Kedokteran Gigi, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh. Email: saya_mirafitrianita@yahoo.com
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas