Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia

Ayah PE: Anak Saya bukan Pelacur

Kamis, 8 November 2012 11:04 WIB

LANGSA - “Anak saya bukan pelacur,” ujar Yusrin (51), ayah PE, ketika Prohaba meminta Yusrin memberikan hak jawabnya atas berita Prohaba terbitan 4 September 2012.

Berita tersebut memuat peristiwa penangkapan dua anak baru gede (ABG) oleh WH (wilayatul hisbah/polisi syariah) dari Dinas Syariat Islam Kota Langsa pada pukul 03.30 dini hari Senin, 3 September 2012 di Lapangan Merdeka, Langsa. Dua ABG yang ditangkap WH itu adalah PE, anak Yusrin, dan seorang lagi berinisial IT, warga Langsa.

Berita Prohaba tanggal 4 September, melaporkan peristiwa itu dengan mengutip penjelasan Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa, Ibrahim Latif. Berita itu diturunkan di halaman 2 diberi judul “Dua Pelacur ABG Dibeureukah WH”.

“Istilah `pelacur’ itu saya sangat keberatan,” ujar Yusrin kepada Prohaba di rumahnya, Desa Aramiah, Kecamatan Birem Bayuen, Aceh Timur, Senin (5/11) petang. Katanya, hal itu perlu diluruskan demi nama baik keluarga dan agar masyarakat semua tahu bahwa anaknya yang disebut PE itu bukan `pelacur’.

Yusrin juga menyampaikan kekesalannya kepada petugas WH. “Di depan ipar saya (makcik dari PE -red) para petugas itu menyebut berulang-ulang bahwa PE itu pelacur,” ujar Yusrin mengenang peristiwa yang menimpa anaknya.

Kasus yang disebut Yusrin itu menjadi pembicaraan umum ketika pada 6 Oktober 2012, warga menemukan PE tewas tergantung di rumahnya di Desa Aramiah, Birem Bayeun. Berbagai pendapat berkembang dalam masyarakat. Ada yang menduga PE memang bunuh diri, tapi Yusrin sendiri sempat mengemukakan kecurigaannya bahwa PE dibunuh oleh orang tertentu. Sebab, cukup banyak kejanggalan bila dikaitkan dengan tanda-tanda umum jika seseorang bunuh diri.

Kepada Prohaba/Serambi Indonesia  akhir September lalu, Yusrin sempat menyatakan, demi mengungkap kebenaran dia rela kalau kubur anaknya digali kembali dan jenazahnya diautopsi. (Baca berita Serambi hlm 1 edisi 28 September 2012). Namun kemudiannya, Yusrin memberi pernyataan kepada polisi bahwa dia membatalkan keinginan itu.

Ketika hal itu ditanyakan Prohaba Senin (5/11) lalu, Yusrin menjawab dia terpaksa membatalkan rencana itu, karena tidak punya dana. “Dari mana saya ambil uang kalau orang kerja itu nanti minta duit?” ujarnya.

Dalam kaitan ketiadaan dana itulah Yusrin mengemukakan pada Prohaba bahwa ia ingin melaksanakan kenduri untuk almarhumah PE di masjid kampungnya dan ia butuh dana. “Saya mintalah sekadar dana untuk kenduri dan keperluan lain,” ujarnya, berterus terang.  

Ia berulang-ulang pula minta nama baiknya, anak, dan keluarganya dipulihkan, dan koran, tandasnya, harus minta maaf pada keluarganya.(tim)

PERMINTAAN MAAF

Sehubungan dengan Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (PPR) Dewan Pers Nomor 15/PPR-DP/X/2012 tanggal 1 November 2012, atas berita Prohaba tanggal 4 September 2012 berjudul “Dua Pelacur ABG Dibeureukah WH”, Redaksi Prohaba menyatakan sebagai berikut:

1. Mengindahkan kesimpulan PPR Dewan Pers bahwa berita Prohaba 4 September tersebut, antara lain, melanggar Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik dan oleh karenanya meminta Prohaba melayani Hak Jawab dan meminta maaf kepada keluarga PE.

2. Menjelaskan bahwa sejak terbitan Prohaba 4 September, sampai tanggal 4 November 2012, keluarga PE belum pernah menyampaikan hak jawabnya atau meng-complain berita Prohaba tersebut.

3. Bahwa upaya melaksanakan Kode Etik Jurnalistik telah dilakukan oleh Prohaba dengan tidak mencantumkan nama lengkap PE dan tidak menulis alamatnya dengan terang. Wawancara Prohaba dengan PE di Dinas Syariat Islam Langsa dengan maksud memberikan Hak Jawab kepada PE juga sudah dilakukan, tapi dianulir sendiri oleh PE dengan meminta kepada wartawan Prohaba agar keterangannya tidak dimuat di koran. Adegan itu disaksikan oleh Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa dan sudah dia kuatkan dengan sebuah surat keterangan tertanggal 25 September 2012.

4. Hak Jawab keluarga PE baru diberikan oleh Yusrin (ayah PE) ketika Prohaba menemuinya Senin, 5 November 2012. Hak Jawab tersebut disiarkan pada edisi hari ini, sebagaimana tersajikan di atas.

5. Menghormati PPR Dewan Pers, untuk melayani Hak Jawab, serta meminta maaf pada keluarga korban.

6. Berkomitmen penuh melaksanakan Kode Etik Jurnalistik, dengan ini REDAKSI PROHABA MEMINTA MAAF kepada keluarga PE serta para pembaca, sehubungan dengan pemakaian kata “Pelacur” pada judul berita Prohaba edisi 4 September 2012. Demikian pernyataan dan permohonan maaf ini kami sampaikan, semoga segenap keluarga PE dan masyarakat menjadi maklum.

Redaksi Prohaba
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas