Minggu, 21 Desember 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Pahlawan sebagai Sumber Inspirasi

Sabtu, 10 November 2012 15:56 WIB

SETIAP 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan oleh bangsa Indonesia. Kebesaran arti pertempuran Surabaya, yang kemudian dikukuhkan sebagai Hari Pahlawan sebagaimana kita peringati sekarang, terletak pada peran dan pengaruhnya, bagi jalannya revolusi waktu itu. Pertempuran Surabaya telah dapat menggerakkan rakyat banyak untuk ikut serta, baik secara aktif maupun pasif, dalam perjuangan melawan musuh bersama waktu itu, yaitu tentara Inggris yang melindungi (menyelundupkan) NICA ke wilayah Indonesia.

Peringatan Hari Pahlawan merupakan kesempatan bagi warga negara, bukan saja untuk mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya demi memperjuangkan tegaknya Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Peringatan Hari Pahlawan 10 November juga telah merupakan kesempatan yang baik untuk selalu memupuk rasa kesadaran bangsa.

Saat ini, dalam tahun 2012, ketika negara dan bangsa kita memasuki periode baru yang penuh dengan berbagai masalah dan krisis, ada baiknya kita mengenang dan merenungi kembali arti Hari Pahlawan 10 November. Dengan begitu, kita akan ingat kembali bahwa berdirinya negara RI ini adalah hasil perjuangan dalam jangka waktu yang lama dari banyak orang yang terdiri dari berbagai suku, agama, keturunan ras, dan berbagai macam pandangan politik.

 Pahlawan kebenaran
Sewaktu kecil, kita pernah melihat dalam cerita perwayangan dikenal tokoh Arjuna dari Pandawa dinilai sebagai pahlawan yang membela kebenaran dari kebatilan. Kemudian di era modern kita pernah menonton film Power Rangers, Batman, Ultraman, Satria Baja Hitam, Pahlawan Bertopeng, dan lain sebagainya. Namun kita tidak tahu makna dari kata pahlawan itu sendiri. Pahlawan juga dipandang sebagai orang yang dikagumi atas hasil tindakannya, serta sifat mulianya, dan bisa menjadi teladan bagi masyarakat.

Pahlawan sering dikaitkan dengan keberhasilan dalam prestasi gemilang dalam bidang kemiliteran. Pada umumnya pahlawan adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan atau umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-citanya yang mulia, sehingga rela berkorban demi tercapainya tujuan, dengan dilandasi oleh sikap tanpa pamrih pribadi.

Seorang pahlawan bangsa yang dengan sepenuh hati mencintai negara bangsanya sehingga rela berkorban demi kelestarian dan kejayaan bangsa negaranya disebut juga sebagai patriot.Kategori pahlawan pun ada banyak, tergantung dengan prestasi yang disumbangkannya, seperti pahlawan kemanusiaan, pahlawan nasional, pahlawan perintis kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan proklamasi, pahlawan iman, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan kesiangan, dan sebagainya.

Gelar pahlawan tentunya disandang karena yang bersangkutan memiliki jasa yang sangat besar bagi bangsa dan negaranya dan bukan hanya untuk kelompoknya. Klaim yang disampaikan kelompok tersebut seakan-akan kelompok lain memanfaatkan nama besar sang pahlawan untuk kepentingan politik sesaat. Tampaknya, dengan adanya klaim tersebut seakan menujukkan bahwa politik merupakan sesuatu yang buruk sehingga menggunakan wajah sang pahlawanpun dianggap tidak lazim.

 Krisis keteladanan
Di tengah krisis keteladanan terhadap seorang pemimpin, memunculkan kembali pahlawan dan tokoh-tokoh bangsa merupakan salah satu cara untuk membangkitkan nasionalisme. Ungkapan “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya” yang memang benar adanya, perlu dimaknai dan disegarkan kembali. Sebab, di tengah bermunculannya tokoh-tokoh publik baru yang kerap menjadi idola anak-anak muda kita sekarang, jasa para pahlawan dan sejarah perjuangannya justru kerap terlupakan.

Jika kita melihat dengan cara arif tentu kedamaian yang akan kita dapatkan, tapi jika kita melihat dengan tendensi politik, maka caci maki dan curiga akan meyertai disetiap tingkah laku kita. Meski sang pahlawan merupakan milik bangsa, namun bagi sebuah kelompok yang akan mengunakan nama besarnya, secara kemanusiaan harus meminta ijin kepada keluarga. Karena, bagaimanapun, sang pahlawan tentu memiliki ahli waris yang harus dimintai persetujuannya serta mereka milik kita bersama dalam mengenang jasa-jasa mereka yang telah mereka korbankan terhadap kita.

Mari, kita sebagai bangsa yang sangat menghargai jasa para pahlawan, dengan hati dan pikiran yang tanang selalu mamandang setiap permasalahan dengan hati dingin. Semoga dengan sikap persaudaraan ini, mampu menyejukkan pikiran dan hati untuk Indonesia yang lebih baik.

Ketika kita mendengar kata pahlawan, terlintas seorang yang membela tanah air atau pahlawan yang seperti di Televisi. Ternyata di sekitar kita ada pahlawan yang sering kita anggap terlupakan dan sering kita remehkan. Mereka, antara lain adalah orang tua dan para guru kita, serta orang-orang yang hampir sepanjang hidupnya ‘berjuang’ tanpa pamrih bagi kemaslahatan masyarakat bangsa dan umat manusia.

Dengan kebulatan tekad dan keberanian yang membara, para pejuang bangsa maju ke medan perang untuk mewujudkan sebuah tujuan yang mulia, yaitu agar bangsa Indonesia bebas dari perbudakan. Karena perbudakan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Bahkan perbudakan sangat dibenci Tuhan Yang Maha Esa, karena tidak sepantasnya seorang manusia memperbudak manusia yang lainnya.

Sebagai putra dan putri bangsa Indonesia, sudah semestinya kita senantiasa menghormati jasa-jasa para pahlawan. Pepatah mengatakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan”. Artinya bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, bangsa yang disegani, bangsa yang mampu menjaga kedaulatannya, jika spirit perjuangan para founding father tetap melekat kuat dalam sanubari kita.

 Pesan Bung Karno
Ingatlah pesan Bung Karno, ketika berpidato di pembukaan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, April 1955. “Saya tegaskan kepada anda semua, kolonialisme belumlah mati. Dan, saya meminta kepada Anda jangan pernah berpikir bahwa kolonialisme hanya seperti bentuk dan caranya yang lama, cara yang kita semua dari Indonesia dan dari kawasan-kawasan lain di Asia dan Afrika telah mengenalinya. Kolonialisme juga telah berganti baju dengan cara yang lebih modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan kontrol langsung secara fisik melalui segelintir elemen kecil namun terasing dari dalam suatu negeri. Elemen itu jauh lebih licin namun bisa mengubah dirinya ke dalam berbagai bentuk.”

Jangan pernah terlena, sebab perjuangan belum lah berakhir. Mari kita renungi perjuangan para pendiri bangsa dan jadikanlah hal tersebut sebagai sumber inspirasi dalam berjuang mencapai cita-cita bangsa.
Semoga, kita generasi muda sanggup menjadi penerus serta pengganti mereka yang telah tiada. Semangat gigih dan pantang menyerah demi membangun bangsa yang kita cintai ini sebagai landasan kita dalam mencari amal kebaikan serta menjadi “pahlawan” mereka yang membutuhkan uluran tangan dan pertolongan dari kita. Wallahu’alam bits-tsawab.

* Riri Isthafa Najmi,
Mahasiswa Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) niversitas Syiah Kuala (Unsyiah) banda Aceh. Email: ririisthafanajmi@rocketmail.com
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas