Sabtu, 20 Desember 2014
Serambi Indonesia

Heboh Lahan Emas di Runding

Minggu, 25 November 2012 09:57 WIB

Heboh Lahan Emas di Runding
SUBULUSSALAM – Warga Kota Subulussalam sejak beberapa hari terakhir dihebohkan temuan patok yang diyakini penanda lokasi penimbunan emas peninggalan Belanda di salah satu kavling Lahan Usaha II Transmigrasi Runding. Polisi sudah mengamankan areal sedangkan pihak Dinas Pertambangan energi dan Sumber Daya Mineral (Distamben & SDM) berjanji segera ke lokasi.

“Tidak perlu diragukan lagi, kami yakin patok tersebut untuk menandai lokasi penimbunan emas peninggalan Belanda,” kata Jaddam Basri (49), tokoh masyarakat Kecamatan Runding kepada Serambi, Sabtu (24/11) menanggapi heboh temuan lahan emas di lokasi berjarak sekitar 18 kilometer barat Kota Subulussalam dan 1,5 kilometer dari Kantor Camat Runding. Lokasi pilar tidak jauh dari Gunung Delapan antara Oboh dengan Kuala Baru.

Jaddam yang juga mantan Kepala Desa Panglima Sahman, Kecamatan Runding menjelaskan, patok buatan Belanda tersebut berlokasi di Lahan Usaha II Transmigrasi Runding. Di patok dari beton berukuran sekitar 1x1 meter itu tertera tulisan; Ducth 1 pr pilar 1934 ime open 1992 cts under mine gold coin Amouxt hevy 800721.

Belum terlalu jelas arti (maksud) tulisan di patok. Tetapi beberapa kalangan sudah berusaha menerjemahkan secara bebas. Jika mengacu ke Bahasa Inggris, maka artinya kira-kira “Pilar (patok) dibuat oleh Amouxt Hevy 800721, pada 1 Oktober 1934 di lokasi penemuan 1.992 batang atau koin emas.”

Menurut informasi, lahan sekitar satu hektare tersebut milik Kalam (36), warga Desa Tanah Tumbuh yang kini berdomisili di Pasar Runding, Kecamatan Runding.

addam Basri mengatakan, sebenarnya pilar atau patok Belanda tidak hanya di Runding namun juga terdapat di sejumlah lokasi lainnya seperti Desa Dah (disebut Pilar Selemeng) dibuat tahun 1933-1934. Ada juga pilar Kesumpat di  Kuala Keppeng, Lae Mbereng, Tapian Datok serta di Kayu Menang arah Singkil.

Jaddam yang relatif luas penguasaan sejarah Kecamatan Runding menyebutkan, pada tahun 1974 juga pernah turun TNI-AD menggunakan helikopter ke Kuala Keppeng. Menurut informasi yang didapat Jaddam, misi TNI waktu itu adalah melakukan pendataan pilar-pilar yang ada di lokasi tersebut.

Kabar penemuan tambang emas di Runding merebak cepat di kalangan masyarakat, baik cerita dari mulut ke mulut, sms, maupun via BlackBerry Massanger (BBM).  Di tengah santernya kabar itu, Serambi diserbu pertanyaan tentang kebenaran informasi yang berkembang.

Jaddam Basri melaporkan, saat ini di lokasi yang diduga lahan emas sudah dijaga ketat oleh pihak kepolisian setempat termasuk memasang garis polisi (police line) untuk menghindari terjadinya alih fungsi lahan serta hal-hal lain yang tidak diinginkan.

Selain itu, lanjut Jaddam, Wali Kota Subulussalam, Merah Sakti juga sudah turun meninjau ke lokasi pada Kamis lalu. “Kita berharap pemerintah secepatnya menurunkan tim untuk menindaklanjuti temuan itu demi menghindari munculnya persoalan,” tandas Jaddam.(kh)

Misteri Emas di Pilar Belanda

PAK tua itu bernama H Darwis Munthe. Laki-laki kelahiran 1 Januari 1951 yang akrab dengan panggilan Obok tersebut merupakan salah seorang tokoh masyarakat Kecamatan Runding.

Ketika dimintai tanggapannya soal temuan pilar Belanda di kawasan Runding, Obok yakin di lokasi itu ada kandungan emas. Keyakinannya didasari pada cerita ayahnya, Almarhum Yusuf Syahbandar yang meninggal tahun 1965. “Ayah saya banyak tahu tentang keberadaan Belanda di Runding,” kata Obok yang merupakan anak ketiga Yusuf Syahbandar.

Menurut Obok, ayahnya merupakan Ketua Laskar Rakyat Mujahidin dan Ketua Legiun Veteran RI Kecamatan Simpang Kiri, Runding. Darwis banyak mendapat cerita dari sang ayah serta sahabatnya, Hohat H Usman Tinambunan, Abdul Manaf TM, dan lain-lain.

H Darwis mengatakan, sekitar 1,5 kilometer dari lokasi pilar, tepatnya di areal perkantoran kecamatan merupakan bekas camp/befak Belanda yang dikomandoi Distrik Hoop Datuk Rohoom sekitar tahun 1933. Barang atau besi tua bekas peninggalan Belanda banyak tersisa di Runding. Darwis mengaku banyak mengambil dan menjual barang bekas peninggalan Belanda seperti truk, jeep Unimox dan Stoomwals. Juga barang bekas lainnya seperti topi perang yang semuanya dijual ke penampung besi tua di Medan.

Pada masa paceklik pasca-merdeka sekitar tahun 1946, atap seng dan barang-barang peninggalan Belanda ditukartambah oleh warga Runding kepada pedagang asal Kutacane untuk barter beras dan kebutuhan pokok lainnya. Akibatnya, barang-barang peninggalan Belanda di Runding habis.

Darwis mengungkapkan, sekitar 100 meter dari kantor camat terdapat kuburan Belanda, salah satunya bernama Rudolf Hanzen. Sedangkan merian antipesawat terbang terdapat di seberang Pasar Runding atau jerat (makam).

Rumah Darwis sendiri berlokasi di Pasar Runding yang dibangun tahun 1924 dan hingga kini tulisannya menggunakan bahasa Belanda yakni Anno 1924. Darwis juga masih menyimpan barang-barang bekas peninggalan Belanda seperti peti besi seberat 250 kilogram. “Di sekitar perumahan penduduk Runding terdapat lubang-lubang persembunyian warga untuk menghindari serangan kapal perang Jepang,” katanya.

Hal lain yang menguatkan keyakinan Darwis bahwa di lokasi pilar memang terdapat kepingan emas yakni adanya kunjungan dua warga asal Belanda ke Kuala Keppeng dan singgah di Runding. Saat itu, Darwis bertemu dan sempat bercerita.

Darwis juga menjelaskan bahwa sekitar empat meter dari permukaan tanah terdapat bongkahan batu-batu keras. Sehingga diyakini kalau di areal itu merupakan tambang emas. “Lahan tersebut di bagian atasnya saja rawa. Kalau digali sebenarnya batu keras,” demikian cerita Darwis alias Obok, penduduk asli Runding.(kh)

Karena Tanaman tak Mau Subur

BERBAGAI cerita mengemuka di balik temuan patok yang diduga penanda lahan (timbunan) emas di Runding, Kota Subulussalam. Menurut seorang tokoh Runding, Jaddam Basri, temuan itu berawal dari kekesalan pemilik lahan bernama Kalam karena tanamannya tak mau subur.

Semula, menurut Jaddam, pemilik lahan menanam pohon pinang namun hingga beberapa tahun tetap saja kerdil. Pemilik lahan mengganti dengan tanaman lain yakni pohon asam, namun lagi-lagi pohon tersebut tidak mau tumbuh sempurna.

Karena penasaran, Kalam menggali tanahnya dan mendapati ada benda keras berupa beton pada kedalaman sekitar satu meter. Kalam sempat memperhatikan secara seksama beton berupa patok itu namun tak tahu apa arti tulisan yang tertera.

Akhirnya dia menceritakan temuan itu kepada warga lain. Beberapa waktu kemudian akhirnya ada orang yang bisa mengartikan sedikit tulisan di pilar yang intinya memuat informasi tentang emas. Maka, dalam waktu singkat, kabar tentang temuan lahan emas itu pun menyebar luas.

Dampak dari semakin meluasnya kabar itu, beberapa kalangan yang memiliki modal kuat berminat membeli lahan milik Kalam. Sebuah info menyebutkan, karena tergiur dengan uang, Kalam menjual lahan tersebut kepada pihak lain seharga Rp 45 juta namun kepala desa tidak mau meneken surat jual beli dengan alasan lahan berada di kawasan terlarang atau dikenal dengan Rawa Runding.(khalidin)

Baru Dapat Laporan

KAMI belum melakukan survei untuk menindaklanjuti laporan yang kami terima tentang temuan patok belanda yang diduga areal lahan emas di kawasan Runding. Kabar itu saya terima pada Jumat malam lalu saat rapat di Pendapa Wali Kota Subulussalam. Insya Allah dalam waktu dekat ini kami akan turun ke lokasi.

Perkiraan awal, kalau tanaman tidak subur di lokasi patok tersebut bisa mengindikasikan kalau tanahnya mengandung sumber mineral. Seperti halnya pertambangan Kampung Nias di Kecamatan Penanggalan. Tanaman kerdil kerana di lokasi itu terdapat sumber mineral bijih besi.

Sejauh ini belum ada perusahaan yang mengajukan izin terkait penambangan di lokasi temuan patok Belanda. Lokasi temuan patok Belanda itu berada di kawasan hutan lindung atau dikenal dengan Rawa Singkil.
* Hasanuddin, Kadistamben & SDM Kota Subulussalam.(kh)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas