Citizen Reporter
Melirik Aceh dari Bukit Timah
KETIKA pertama kali mendengar Bukit Timah, yang terlintas di benak saya adalah tempat historis kediaman Pemangku Wali Nanggroe
KETIKA pertama kali mendengar Bukit Timah, yang terlintas di benak saya adalah tempat historis kediaman Pemangku Wali Nanggroe, Tgk Malik Mahmud. Namun, kunjungan saya ke sana mewakili Pusat Kajian Internasional tentang Aceh dan Kawasan Seputar Lautan Hindia (ICAIOS), bukan untuk bertandang ke kediaman beliau, melainkan untuk memenuhi undangan sebuah lembaga kajian bernama Asia Research Institute (ARI) yang juga beralamat di Bukit Timah, salah satu nama jalan di Singapura.
Pada tanggal 22-23 November lalu, ARI yang berada di bawah National University of Singapore mengadakan konferensi berjudul “Salvage and Salvation: Religion, Disaster Relief, and Reconstruction in Asia”. Sesuai temanya, acara ini mengupas ragam komunitas agama seperti Islam, Kristen, Budha, Hindu, Tao, dan Shinto serta peran lembaga-lembaga keagamaan dalam merespons berbagai bencana yang terjadi di Asia.
Dalam konferensi tersebut, kegiatan tanggap bencana yang dipaparkan sangat bervariasi. Mulai dari bantuan darurat, layanan medis, penanganan trauma, rekonstruksi, ritual, hingga aksi pemurtadan. Sedangkan lingkup bencana yang menjadi fokus perhatian, antara lain, tsunami Desember 2004 di kawasan Lautan Hindia, termasuk Aceh, letusan gunung berapi di Indonesia dan Filipina, gempa bumi di Cina dan Jepang, longsor di Cina, dan siklon Nargis di Burma.
Saya sendiri mempresentasikan hasil riset tentang kiprah Hizbut Tahrir Indonesia di nanggroe syariat, Aceh, pascatsunami dengan programnya Tabanni Mashalih Aceh.
Diikuti oleh sekitar 50 orang, ARI menghadirkan Jonathan Benthall dari University College London dan Erica Bornstein dari University of Wisconsin-Milwaukee, USA, sebagai pembicara kunci. Selain kitu, lebih dari 20 peneliti ikut mempresentasikan hasil kajiannya terkait titik temu agama dan bencana.
Praktisi dari organisasi-organisasi kemanusiaan yang bergerak langsung di lapangan seperti ICRC, Islamic Relief, World Vision, dan Save The Children turut diundang untuk memperkaya khazanah diskusi. Bahkan sejumlah ahli kajian Indonesia atau Aceh seperti Michael Feener, Patrick Daly, Robin Bush, dan Martin van Bruinessen juga turut serta meramaikan acara tersebut.
Setelah mengikuti selama dua hari, saya melihat Aceh termasuk di antara yang paling banyak menyita perhatian peneliti nasional dan internasional. Misalnya, alumnus Australian National University, Philip Fountain, berbicara tentang sebuah organisasi keagamaan nonmuslim asal Amerika Utara yang telah memfasilitasi pembangunan rumah ibadah umat Islam. Hasil risetnya menunjukkan bahwa dengan dana yang terkumpul dari penganut nonmuslim di benua Amerika, lembaga tersebut akhirnya mendirikan sejumlah meunasah (surau) di Aceh.
Sedangkan dari Jepang, Prof Toshiaki Kimura, membandingkan kuburan massal di Aceh, Padang Pariaman dan Miyagi (Jepang) serta dampaknya terhadap situasi keagamaan di ketiga tempat tersebut. Ada juga Annisa Gita Srikandini (UGM Yogyakarta) yang melihat aspek kedekatan kultural, sehingga organisasi keagamaan berbasis Islam lebih diterima di Aceh dibandingkan lembaga keagamaan non-Islam.
Hal menarik lainnya yaitu upaya pemurtadan yang ternyata tidak hanya terjadi di Aceh, tapi juga di daerah bencana lainnya, seperti Sri Lanka. Dalam konferensi tersebut, muncul istilah unethical conversion (pengubahan agama secara tidak etis), karena memanfaatkan situasi pascabencana dengan pemurtadan terselubung.
Pikiran saya pun langsung melayang dari Bukit Timah menuju Serambi Mekkah, karena sampai saat ini unethical conversion disinyalir masih terjadi secara diam-diam di nanggroe geutanyoe.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com