Minggu, 24 Mei 2015

Warga Badak Uken Mulai Terserang Penyakit

Sabtu, 8 Desember 2012 11:45

Warga Badak Uken Mulai Terserang Penyakit
Warga yang trauma akibat tanah amblas di Gayo Lues, Jumat (12/7) masih menempati tenda pengungsian, Serambi/Rasidan

BLANGKEJEREN - Warga Badak Uken, Kecamatan Dabun Gelang, Kabupaten Gayo Lues (Galus) yang mengungsi sejauh 1 km dari desanya dengan sebagian tanah amblas, retak dan bergeser mulai diserang berbagai jenis penyakit. Dari 145 KK berjumlah 690 jiwa, 81 jiwa di antaranya mulai mengalami demam, perut kembung atau juga batuk-batuk di tenda pengungsian.

Satu tim kesehatan (timkes) yang dikomandoi Kepala Puskesmas Dabun Gelang, Rohana MKes menyatakan pihaknya siap memberi pelayanan kesehatan kepada pengungsi yang jatuh sakit. Dia mengungkapkan sejak warga mengungsi ke tenda darurat pada Rabu (5/12/2012) lalu, sebanyak 81 pengungsi, khususnya wanita dan anak-anak mulai mendapat pengobatan.

“Para pengungsi yang jatuh sakit langsung diberi obat setelah diperiksa dan umumnya terserang penyakit ispa seperti demam, batuk serta perut kembung,” ujar Rohana saat ditemui Serambi, Jumat (7/12) di tenda pengungsian.

Dia menegaskan, tim kesehatan akan terus memberi pelayanan sampai para pengungsi pulang ke rumah masing-masing atau direlokasi ke tempat lain. “Tim kesehatan akan terus di lokasi pengungsi bersama warga,” kata Rohana didampingi petugas kesehatan lainnya.

Selain itu, dilaporkan, Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Aceh menyalurkan bantuan panik kepada seluruh warga desa tersebut dan telah ditempatkan di satu tenda pengungsian khusus untuk bantuan. Bantuan itu langsung disalurkan oleh Camat Dabun Gelang, Khairudin SPd, dibantu perangkat desa kepada seluruh kepala keluarga.

Pantauan Serambi, kemarin, warga masih bertahan di tenda pengungsian karena masih mengkhawatirkan kondisi desanya yang bisa mengancam keselamatan jiwa mereka. Tetapi, sebagian pengungsi tetap pulang-pergi dari tempat pengungsian ke rumah masing-masing saat siang hari dan malam hari kembali berkumpul di pengungsian.

Pada malam hari, kaum laki-laki berjaga-jaga di sekitar desa atau juga lokasi pengungsian dengan tujuan mencegah terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, seperti bencana datang lagi atau juga hal lainnya. Sedangkan anak-anak tetap bersekolah seperti biasa, namun kewaspadaan tetap dijaga, khususnya saat cuacu buruk atau hujan turun.

Halaman123
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas