Rp 50 Miliar untuk Bersihkan Sampah
Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh setiap tahun mengalokasikan dana mencapai Rp 40 miliar hingga Rp 50 miliar untuk sektor
BANDA ACEH - Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh setiap tahun mengalokasikan dana mencapai Rp 40 miliar hingga Rp 50 miliar untuk sektor kebersihan dan keindahan kota. Dana tersebut termasuk digunakan untuk pengelolaan/pembersihan sampah, yang semakin hari produksinya semakin bertambah.
Hal itu dikatakan Wali Kota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin MEngSc kepada wartawan, usai menyerahkan penghargaan kepada 16 pekerja kebersihan terbaik, gampong terbersih, dan SD terbersih di Kota Banda Aceh, Kamis (20/12). Penyerahan penghargaan berlangsung di Workshop Dinas Kebersihan dan Keindahan Kota (DK3) Banda Aceh.
Menurut Mawardy, anggaran puluhan miliar tersebut digunakan untuk pengelolaan sampah, termasuk membayar honor pekerja kebersihan, biaya operasional dan perawatan alat berat yang digunakan untuk penanganan sampah, serta sebagian untuk pembangunan infrastruktur seperti drainse.
Tingginya biaya yang dibutuhkan untuk penanganan sampah, menurut Mawardy, juga sangat terkait dengan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang disediakan.
Mawardy menyebutkan, selama ini armada pengangkutan sampah di Banda Aceh beroperasi dua hingga tiga kali dalam sehari. Pekerja penyapu jalan juga bekerja sejak Subuh hingga menjelang tengah malam. Dengan kondisi seperti ini, sudah cukup banyak biaya operasional yang dikeluarkan.
“Pagi hari kota ini sudah bersih karena pekerja sudah mulai menyapu jalan dan pasar sejak Subuh. Begitu juga armada angkutan sampah. Tapi setelah disapu dan diangkut, siangnya sampah sudah ada lagi. Ini karena masih banyak warga yang buang sampah sembarangan,” kata Mawardy.
Wali Kota Mawardy menambahkan, di Kota Apeldoorn, Belanda, yang pernah menjalin kerja sama Syster City dengan Kota Banda Aceh, armada angkutan sampah beroperasi sekali dalam seminggu. Petugas kebersihan tak perlu kerja sejak pagi hingga tengah malam. Kondisi ini, karena masyarakat di sana sangat menghargai kebersihan.
“Kalaupun kita tidak sanggup seperti mereka, minimal kita harus berusaha agar mobil angkutan sampah beroperasi dua hari sekali. Kalau ini bisa kita lakukan, tentu banyak dana yang bisa kita gunakan untuk pembangunan lainnya,” ujar Mawardy.
Ia juga mengatakan, alokasi anggaran puluhan miliar rupiah di sektor kebersihan bukan pula semata-mata untuk meraih Adipura. Tapi, lebih kepada membangun dan menata kebersihan Kota Banda Aceh, sehingga kehidupan masyarakat jauh dari ancaman berbagai macam penyakit.
“Kalau kota ini kotor dan jorok, tentu akan menimbulkan berbagai macam penyakit dan kesehatan masyarakat terganggu,” pungkas Mawardy yang selama kepemimpinannya bersama Illiza Sa’aduddin Djamal, sudah empat kali mengantarkan Kota Banda Aceh meraih Piala Adipura.(saf)
Gampong Sukaramai dan SDN 67 Terbersih
DINAS Kebesihan dan Keindahan Kota Banda Aceh, menetapkan Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, sebagai gampong terbersih di kota ini. Sementara untuk Sekolah Dasar (SD) terbersih diraih oleh SDN 67 Percontohan.
Untuk gampong terbersih kedua dan ketiga diberikan kepada Prada, Kecamatan Syiah Kuala, dan Geuceu Inem, Kecamatan Bandar Raya. Sedangkan SD terbersih kedua dan ketiga yaitu SDN 1 dan SDN 20. Penghargaan yang sama juga diberika kepada 16 pekerja kebersihan, mulai dari manager, mandor, sopir, penyapu jalan, hingga pemungut retribusi sampah.
Penghargaan untuk gampong tebersih, SD terbersih dan pekerja kebersihan terbaik, diserahkan langsung oleh Wali Kota Mawardy Nurdin didampingi Kepala DK3, Jalaluddin ST MT.
Pada kesempatan itu, Jalaluddin mengimbau masyarakat agar meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan. Sebab, kebersihan bukanlah tanggung jawab pekerja semata, tapi merupakan tanggung jawab semua pihak. Ia bertekad untuk terus mengkampanyekan kebersihan kepada masyarakat Kota Banda Aceh, agar bisa meraih kembai Piala Adipura.(saf)