Selasa, 9 Juni 2026

Tafakur

Korban Tsunami

Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, ‘Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu,’ tetapi katakanlah

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Jarjani Usman

“Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, ‘Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu,’ tetapi katakanlah, ‘Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.’ Ketahuilah, sesungguhnya ucapan ‘andaikata’ dan ‘jikalau’ membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan” (HR. Muslim).

Bencana tsunami yang melumat pesisir Aceh 26 Desember 2004, masih membekas kuat dalam ingatan banyak orang. Kehilangan yang diderita, mulai dari harta hingga nyawa, tak cukup air mata bila ditangisi. Sebahagian orang bahkan sangat menyesalinya dan berputus asa. Namun, tak pantas bersikap demikian orang-orang beriman. Apalagi telah diingatkan: “Sesungguhnya kematian yang kamu larikan darinya itu tetap akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Tuhan yang mengetahui segala yang tersembunyi dan segala yang nyata, maka Dia akan memberitahukan kamu apa yang pernah kamu lakukan” (QS. al Jumu’ah: 8). Lagipula, nyawa dan harta benda adalah pinjaman, yang wajar bila diambil kembali. Sehingga yang patut dikenang, bukanlah tsunami; tetapi orang-orang yang telah mengalami kematian.

Mengenang kematian, apapun sebab-musababnya, termasuk perbuatan bermanfaat sekaligus berpahala. Pernah ditanyakan kepada Rasulullah tentang adakah orang lain yang akan dibangkitkan bersama para syuhada. Rasulullah mengiyakan, yaitu mereka yang mengingat mati sebanyak dua puluh kali dalam sehari semalam (HR. Al Baihaqi). Dalam hadits yang lain, Rasulullah memerintahkan untuk memperbanyak mengingat kematian. Orang yang banyak mengingat akan dihidupkan hatinya oleh Allah dan diringankan baginya akan sakit kematian (HR. Ad-Dailami). Dalam hadits yang lain lagi, seorang sahabat pernah bertanya, “Ya, Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.” Lantas Nabi SAW berpesan, “Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia...” (HR. Thabrani).

Karena itu, biarlah saudara-saudara yang telah mendahului kita merasa tenang di alam kubur. Apalagi mati mendadak merupakan suatu kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka (HR. Ahmad). Dalam sisa-sisa hidup ini, kita sepantasnya berbuat baik dengan sesama insan.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved