Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia

Menguak Memori Tsunami

Rabu, 26 Desember 2012 08:37 WIB

Menguak Memori Tsunami - 261212_3.jpg
SERAMBI/BEDU SAINI
Sejumlah warga berusaha menyelamatkan diri dari gelombang tsunami di kawasan Simpang Lima, Banda Aceh, Minggu 26 Desember 2004. Foto ini baru diperoleh kembali, hari Kamis (13/1), setelah seseorang mengantar kamera Serambi yang sempat hilang ketika bencana itu terjadi.
Menguak Memori Tsunami - 261212_4.jpg
SERAMBI/M ANSHAR
SEBUAH boat terdampar di depan Hotel Medan, Banda Aceh.
Menguak Memori Tsunami - 261212_5.jpg
SERAMBI/ M ANSHAR
MOBIL tersangkut di atas rumah warga di kawasan Gampong Jawa, Keudah, Banda Aceh.
Menguak Memori Tsunami - 261212_6.jpg
SERAMBI/ M ANSHAR
SEORANG anggota keluarga berdoa di antara sejumlah barang yang dikumpulkan dari rumahnya yang hancur akibat tsunami di kawasan Lamdingin, Banda Aceh, Sabtu (1/1/2005).
Menguak Memori Tsunami - 261212_7.jpg
SERAMBI/BEDU
HELIKOPTER AS mengangkut bantuan obat-obatan untuk korban gemapa dan tsunami dari Bandara Lanud Iskandarmuda, Aceh Besar. Selasa (11/1/2005).
MEMORI kepedihan mungkin terkuak kembali hari ini.  Beberapa foto rekaman peristiwa yang paling mengerikan dalam rentang sejarah, beberapanya ditayangkan di sini. Begitulah tsunami yang terjadi 26 Desember 2004, delapan tahun lalu melintas cepat, pernah memorak-porandakan kehidupan, sekaligus merenggut ratusan ribu nyawa.

Kenangan tsunami, adalah kengerian dan kepedihan yang menguntai sepanjang sejarah manusia, khususnya Aceh. Begitulah beberapa foto ini disajikan menemani suasana hati pernah terlanda duka kehilangan harta dan nyawa anggota keluarga. Lebih dari itu, hendaklah panorama kedukaan dalam memori ini akan mempertebal ketakwaan, rasa insyaf, dan kekuatan iman kepada kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.

Bahwa atas kehendak-Nya lah gempa besar yang paling dahsyat seakan membelah bumi Aceh. Laut bergolak dalam amarahnya, gelombang tinggi dengan kekuatan arusnya yang hampir sama dengan kecepatan pesawat terbang tiba-tiba saja menerjang pantai dan daratan. Semuanya yang terkena, porak-poranda, pupus dari muka bumi. Mayat manusia bergelimpangan, bangunan roboh dan lenyap. Struktur pantai berubah, yang tertinggal setelah itu hanyalah lumpur-lumpur hitam berbalut dengan sampah kehidupan yang muntah dari perut bumi. Ratusan ribu penduduk kelaparan dan kedinginan di tenda-tenda pengungsian. Mereka berkurung dalam ketakutan oleh ratusan kali gempa susulan. Dalam keletihannya, airmata berlinang menangisi ketidak berdayaan.

Begitulah kemudiannya, atas kehendak Allah SWT pula bangsa-bangsa di dunia mengulurkan tangannya. Bantuan kemanusiaan datang dari berbagai penjuru bumi. Yang sakit diobati, yang lapar diberi makan. Yang galau dan putus asa ditemani dengan iman dan asuhan kejiwaan. Bahkan yang berperang pun akhirnya berdamai.

Dalam hari-hari berjalan sepanjang enam tahun kemudiannya, keporakporandaan berangsur pulih. Rumah yang hilang perlahan terganti. Jalan-jalan yang rusak diperbaiki. Masjid-masjid pun bersalin wajah menjadi lebih indah dari sebelumnya. Dan kini, setelah delapan tahun, banyak hal yang telah berubah. Aceh memang mulai pulih dan bangkit kembali.

Tapi, suatu hal yang tak boleh dilupakan, bahwa tsunami delapan tahun yang lalu, adalah cobaan besar dan peringatan Allah SWT.  Bahwa musibah apapun bisa datang dengan tiba-tiba tanpa pernah disangka-sangka. Itulah hikmah yang harus dipetik hari ini, dalam perjalanan menempuh sejarah kehidupan masa depan: jangan pernah berpaling dari Allah. ***  
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas