Kamis, 27 November 2014
Serambi Indonesia

Inilah Kisah Bencana dalam Alquran

Kamis, 27 Desember 2012 08:58 WIB

Inilah Kisah Bencana dalam Alquran
Ustad Muliadi (kanan) dengan latar belakang spanduk bertuliskan nama-nama jurnalis yang menjadi korban tsunami 26 Desember 2004 itu memberikan tausyiah di hadapan belasan wartawan saat mengenang sewindu tsunami Aceh di Banda Aceh, Rabu (26/12). Tsunami Aceh juga mengakibatkan 27 wartawan/wartawati berbagai media menjadi korban tewas dan hilang sejak delapan tahun lalu. ANTARA/Azhari
* Wartawan dan Santri Gelar Doa Mengenang Tsunami

BANDA ACEH - Gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004, diklaim sebagai salah satu peristiwa paling besar dalam sejarah manusia modern. Namun, jika dibandingkan dengan bencana yang menimpa umat terdahulu, tsunami di Aceh yang merenggut lebih dari 200 ribu jiwa delapan tahun lalu, hanya contoh kecil dari sejarah bencana yang menimpa dunia.

“Cukup banyak ayat Alquran menceritakan bagaimana bencana memusnahkan suatu kaum. Kisah bencana berulangkali disebutkan menimpa kaum terdahulu dengan berbagai jenis dan sebabnya. Ayat tentang ,” ungkap Tgk Mulyadi Nurdin Lc MH, Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Banda Aceh, dalam tausiyahnya pada “Refleksi dan Doa Bersama Mengenang 8 Tsunami Aceh,” di Rumoh Aceh Kopi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (26/12).

Acara tersebut dilaksanakan oleh Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI), dihadiri puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik. Turut hadir perwakilan Ikatan Penulis Santri Aceh (IPSA) dan ormas Islam lainnya.

Dalam tausiyahnya, Tgk Mulyadi menyebutkan, berdasarkan kisah dalam Alquran, bencana yang menimpa umat terdahulu juga tidak hanya menimpa orang kafir, tapi juga orang beriman. “Bagi para Rasul dan orang-orang beriman, bencana ini merupakan ujian terhadap keimanan dan kesabaran mereka. Sementara bagi orang kafir, ini merupakan hukuman atas keingkaran mereka,” ujar Pimpinan Dayah Baitul Arqam Sibreh, Aceh Besar.

Ia memaparkan, secara berkala bencana-bencana itu datang menimpa umat manusia sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad Saw. “Pengulangan itu menuntut umat manusia untuk waspada dan siaga, serta melakukan introspeksi diri terkait bencana yang menimpa, apakah karena keingkaran atau sebagai ujian untuk meningkatkan derajat keimanan,” ujarnya.

“Untuk mengkaji jenis-jenis bencana yang pernah menimpa kaum terdahulu bisa dibaca dalam surat Az-Zariyat, khususnya mulai ayat 31 sampai ayat 46, yang menceritakan secara runut tentang bencana yang menimpa kaum lima nabi terdahulu,” imbuhnya. Kelima kaum nabi tersebut yaitu, kaum Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, dan Nabi Luth.(nal/saf)

Dari Kaum Nuh hingga Fir’aun

SECARA ringkas, Tgk Mulyadi menceritakan bagaimana umat Nabi Nuh ditenggalamkan dengan air bah yang berasal dari bumi dan langit. Atas pengalaman ini, kaum ‘Ad (umat Nabi Hud) yang hidup setelahnya, mempersiapkan diri untuk mengantisipasi (mitigasi) bencana air bah dengan membangun rumah di tempat tinggi. “Namun kaum ‘Ad karena keingkarannya dibinasakan dengan angin topan yang menyapu bersih semua tempat tinggal dan negeri mereka,” ujarnya.

Dua peristiwa itu menjadi pelajaran bagi umat Nabi Shaleh (Kaum Tsamud) yang hidup setelahnya. Mereka mempersiapkan diri mengantisipasi banjir dan topan, dengan membuat perkampungan di perut gunung. Namun karena keingkaran mereka, akhirnya dibinasakan dengan petir. Hal itu terjadi ketika mereka sedang kelaparan dan kehausan, sehingga harus keluar dari kota yang aman tersebut menuju tempat terbuka untuk menanti datangnya hujan, tetapi akhirnya mereka disambar petir yang sangat dahsyat.

“Demikian juga dengan umat Nabi Luth (Kaum Sodom) mereka dibinasakan dengan batu ‘api neraka’ dan buminya dibalik. Sedangkan Firaun (Kaum Nabi Musa) dan pengikutnya ditenggelamkan dalam laut merah. Sebelumnya, kaun Fir’aun juga diserang hama belalang dan semua air sungai menjadi merah,” imbuh Mulyadi.

Mitigasi bencana, kata Tgk Mulyadi, sebenarnya bukan lagi barang baru dalam sejarah kehidupan manusia, dan tetap saja banyak korban ketika bencana terjadi. Karena itu, ia mengajak seluruh umat Muslim Aceh untuk terus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt. Ia juga mengajak umat Muslim untuk selalu membaca dan belajar dari Alquran, karena Alquran telah menyediakan segala informasi untuk menuntun umat manusia agar selamat di dunia dan akhirat.

“Upaya pencegahan bencana secara serius harus tetap dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar kita. Tapi hanya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah lah yang bisa menyelamatkan kita dari bencana. Meski menjadi korban dalam bencana, tapi jika kita beriman dan bertaqwa kepada Allah, maka kita akan mendapatkan pahala syahid dan akan selamat dalam kehidupan di akhirat kelak,” tuntasnya.(nal/saf)

Wartawan Aceh Larut dalam Zikir

PULUHAN wartawan, santri dan aktivis ormas Islam di Banda Aceh, larut dalam doa dan zikir saat mengenang kembali bencana gempa bumi dan tsunami yang merenggut 200 ribu lebih jiwa rakyat Aceh, Minggu 26 Desember 2004 lalu. Sebanyak 27 wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik yang bertugas di Aceh, menjadi syuhada dalam bencana tersebut.

Para wartawan dan santri serta aktivis ormas Islam larut dalam bacaan surat Yasin, zikir, dan doa yang dipimpin oleh Tgk Yasir, guru di Markaz Al-Islah Al-Aziziyah, Luengbata, Banda Aceh, dan Tgk Mulyadi Nurdin, Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Kota Banda Aceh.

Juru bicara KWPSI, Azhari mengatakan, acara ini dilaksanakan oleh KWPSI untuk mengenang kembali para wartawan yang menjadi syuhada dalam musibah tsunami delapan tahun lalu.

“Hari ini, di sini di lokasi yang pernah hancur lebur diterjang tsunami, kita seperti merasakan kembali kehadiran teman-teman kita yang telah menjadi syuhada. Mereka telah mendapatkan pahala syahid, semoga bencana-bencana ini terus menjadi peringatan bagi kita,” ujar Azhari, wartawan Kantor Berita Antara Biro Aceh ini.(nal)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas