Citizen Reporter
Pelajaran Katrina dari New Orleans
SETELAH tujuh tahun, bukti kedahsyatan badai Katrina masih tersisa di sudut-sudut Kota New Orleans, Negara Bagian Louisiana, Amerika Serikat
SETELAH tujuh tahun, bukti kedahsyatan badai Katrina masih tersisa di sudut-sudut Kota New Orleans, Negara Bagian Louisiana, Amerika Serikat. Rumah penduduk, pertokoan, gedung sosial, termasuk fasilitas umum seperti pom bensin, masih dibiarkan kosong. Beberapa ruas jalan di kawasan tepian pantai masih terlihat sunyi.
Di Lower 9th Ward, sebuah kawasan yang paling parah diterjang Katrina pada Agustus 2005, struktur perumahan warga sudah berubah bentuknya menjadi rumah panggung yang kaki-kakinya mengingatkan kita pada rumah tradisional Aceh, tapi dengan ketinggian berbeda. Bentuk-bentuk tersebut adalah hasil dari lomba pembangunan rumah baru yang digagas aktor top Hollywood, Brad Pitt bersama istrinya Angelina Jolie. “Bahkan mereka punya rumah juga di sini,” kata Shawn Callanan, interpreter sekaligus escort (pendamping) kami.
Menurutnya, badai dahsyat tidak hanya meluluhlantakkan bangunan, tetapi juga struktur masyarakat yang memang rapuh di New Orleans. Jeffrey yang kembali ke New Orleans setelah mengevakuasi keluarganya, dilarang masuk oleh pihak kepolisian, kecuali kalau ia memiliki senjata api untuk mempertahankan diri. Dengan sepucuk pistol, ia balik ke rumah setelah badai reda dan mendapati sekelompok anak muda sedang menjarah barang-barang miliknya. Penjarahan, perampokan, kekerasan oleh polisi, dan kemudian korupsi bantuan bagi korban, adalah beberapa bagian dari kerusakan susulan akibat Katrina. Dengan pistol itulah, tiga kali Jeffrey mengusir penjarah dari rumahnya.
Kehancuran fisik akibat bencana bisa ditangani dengan cepat bila tersedia dana yang cukup, tetapi kerusakan pranata sosial sulit ditangani dan butuh waktu relatif lama. Ini juga terjadi di New Orleans. Banyak penduduk yang enggan kembali setelah bencana. Sekitar 6.000 pegawai dipecat karena pemerintah kota tak mampu lagi membayar gaji. Sekarang, jumlah pegawai hanya 4.000 saja.
Direktur Office of Performance and Accountability City of New Orleans, Oliver Wise, mengatakan kota berpenduduk 500.000 jiwa itu memang bukan tempat impian untuk ditempati. Pendidikan dan kesehatan buruk, polisi korup, kejahatan tinggi, jumlah pembayar pajak juga rendah. Padahal, pajak dari warga merupakan andalan utama pembiayaan pemerintahan, termasuk polisi.
Media cetak terkenal di AS, mulai dari The Washington Post, USA Today, LA Times, sampai The Wall Street Journal, lebih melihat sisi spirit korban untuk bangkit dari keterpurukan. Ini juga terlihat dalam pemberitaan media tentang badai Sandy yang terjadi baru-baru ini dan memberikan kehancuran serius bagi sejumlah kota besar seperti New York di tengah konsentrasi masyarakat Amerika mengikuti pemilihan presiden di mana Barack Obama terpilih untuk kedua kalinya.
Bagi masyarakat Aceh yang hidup di daerah rentan bencana, baik bencana alam maupun bencana akibat nafsu kekuasaan, kontribusi pers dan NGO dalam mendorong semangat korban, adalah salah satu dari banyak hal yang patut ditiru. Setidaknya ini jauh lebih penting daripada membuat korban hanya bergantung dari bantuan. Bantuan masa panik memang sangat dibutuhkan korban untuk bisa survive, tapi setelah itu mereka bisa memperbaiki kail dan mulai memancing ikan di kolam kehidupan. Tidak melulu meributkan bantuan yang belum datang.
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com