Kamis, 27 November 2014
Serambi Indonesia

Tunggu Alia di Surga Ya Ma

Kamis, 27 Desember 2012 09:26 WIB

Tunggu Alia di Surga Ya Ma
SERAMBI/M ANSHAR
Siti Alya Humaira (9), bersama neneknya Cut Rosmala Dewi (kiri) berdoa dalam peringatan delapan tahun tsunami di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar, Rabu (26/12/2012). Saat tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004 lalu, Alya yang masih berumur sekitar satu tahun tersebut kehilangan ibu dan bapaknya dan dua kakaknya.
NAMANYA Siti Alia Siti Humaira. Usianya sembilan tahun. Berkulit kuning langsat dengan pipi semok, Alia--begitu ia disapa--tampak duduk paling depan di antara para undangan. Wajahnya terlihat sendu di balik kerudung putih bermotif, menutupi rambutnya. Siang itu Alia banyak diam. Sesekali ia memeluk erat tubuh wanita paruh baya di sampingnya.

“Pada saat tsunami umurnya baru satu tahun,” kisah Cut Rosmala Dewi (67) tentang hidup Alia. Kemarin, Alia bersama neneknya, Rosmala turut hadir di acara Renungan Delapan Tahun Musibah Gempa Bumi dan Gelombang Tsunami di Kompleks Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar. Alia merupakan yatim piatu tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember 2004 silam. Saat itu Alia selamat karena berada bersama neneknya di Medan. Sebab ibunya, Ika Fitriani Siregar ketika itu ingin melanjutkan kuliah S2 di Unsyiah. Sedangkan ibun dan ayahnya Mirza Amir Husin bersama dua kakak Alia tinggal  di Perumnas Cadek Permai, Aceh Besar. Semua mereka meninggal.

Rosmala bercerita beberapa hari sebelum Alia berulang tahun pada 30 Desember, Ibunya sudah memesan tiket pesawat ke Medan untuk merayakan ulang tahunnya. Namun rencana itu lenyap, karena bencana tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember.

Alia kini menjalani hari-harinya bersama Sang Nenek. Ia tumbuh sebagai anak yang tegar dan berprestasi. “Selalu main laptop. Makanya dia sudah pakai kaca mata sekarang,” katanya.

Rosmala menyekolahkan Alia di SD Panca Budi. Sekarang Alia duduk di kelas empat. Aliya mendapat ranking 10 besar di sekolah dua bahasa (Bilingual School) itu.  

“Neneknya menyekolahkan Alia ke tempat yang bagus,” kata bibi Alia, Samidan. Pendapatan sehari-hari neneknya bergantung pada hasil sewa kos-kosan di Medan. Mereka tinggal di Jl Kapten Muslim No 45 A, Sungai Sikambing.

“Nenek berharap diberikan umur panjang dan kesehatan. Biar nenek bisa jaga dia. Namun semuanya berpulang kepada Yang Maha Kuasa,” ucap Rosmala.

Rosmala melanjutkan, ”Saya paksakan untuk bisa datang tiap tahunnya. Karena Alia memang selalu ingin ke Aceh tiap menjelang tsunami. Kalau tidak, dia tidak tenang,” ucapnya.

Saat ditanya wartawan Alia tampak memeluk erat tubuh neneknya. “Alia rindu sama mama. Semoga mama, papa, kakak, abang semua masuk surga,” ucap Alia disambut haru dan diamini neneknya.

“Tunggu Alia di surga ya Ma,” katanya lagi sambil mendekap erat tubuh neneknya.  Selama ini Alia hanya mengenal orang tua dan kedua kakaknya dalam bingkai foto.

Pada lokasi acara kemarin Ali diajak Sang Nenek melihat pameran foto. Matanya tertuju pada sebuah foto mayat yang sedang dishalatkan seorang anggota FPI.

“Kayak mama ya Nek?,” kata Alia.  Ia mengaku ketika melihat foto tersebut mengingatkannya pada ibu, ayah, abang, dan kakaknya. Selama berlangsung acara, Alia terlihat beberapa kali bolak-balik ke tenda pameran foto, dan berhenti lagi di foto yang sama.

Kemarin, Alia bersama neneknya juga berkunjung ke kuburan masal di Lambaro, Aceh Besar.  Dia mengaku sedih mendengar Alia kerap memanggil mamanya saat berziarah.

“Ma… Alia datang,” cerita Rosmala. Pada peringatan tujuh tahun tsunami 2011 lalu, Alia juga datang ke Aceh. Ia menulis perasaan rindu untuk kedua orang tuanya di bunga masa depan (Shinsai Mirai no Hanadari) yang ditanam di lokasi peringatan tujuh tahun tsunami, di Lapangan Golf Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar.

“I Love Papa, I Love Mama, I Love Kak Icha, I Love Bang Kiki. Alia Rindu Kalian Semua...” tulis Alia. (Elfira Syuhada/Ansari Hasyim)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas