Jumat, 28 November 2014
Serambi Indonesia

Satgas PETA Hadang Tongkang Batubara PLTU

Sabtu, 29 Desember 2012 11:45 WIB

Satgas PETA Hadang Tongkang Batubara PLTU
SERAMBI/RIZWAN
Sembilan anggota Peta Aceh Barat diamankan di Mapolres dalam kasus di Pelabuhan Jetty Meulaboh, Jumat (28/12)

* Saat Merapat ke Pelabuhan Jetty Meulaboh


MEULABOH - Sekitar 50 orang anggota Satuan Tugas (Satgas) Pembela Tanah Air (PETA) Aceh Barat, Jumat (28/12) menghadang rencana pembongkaran batubara milik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suak Puntong Nagan Raya, saat tongkang merapat ke Pelabuhan Jetty Suak Indrapuri, Meulaboh. Akibanya, rencana bongkar menjadi gagal dan tongkang terpaksa mejauh kembali ke tengah laut.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh Serambi, Jumat kemarin, batubara sebanyak 44.000 ton itu didatangkan menggunakan kapal berukuran besar dari Kalimantan untuk bahan bakar PLTU Nagan Raya yang akan diujicoba beroperasi pada pertengahan Januari 2013 nanti.

Kapal besar itu tak bisa merapat ke dermaga Pelabuhan Jetty Meulaboh, dan harus parkir di tengah laut yang berajarak satu jam perjalanan menggunakan spedboat, sehingga batubaranya harus dilangsir menggunakan tongkang sebanyak 2.000 ton sekali jalan.

Namun rencana pembongkaran muatan batubara dari tongkang ke darat untuk diangkut menggunakan truk ke PLTU Nagan Raya diprotes oleh puluhan anggota PETA yang sejak pagi merapat ke pelabuhan Jetty melakukan pelarangan, sehingga tongkang harus kembali ke tengah laut,  dan gagal melakukan bongkar muatan.

Menurut keterangan Ketua PETA Aceh Barat, Amiruddin, aksi protes dilakukan Satgas PETA karena mereka sudah pernah meminta kepada pihak PLTU Nagan Raya agar pengangkutan batubara melalui via darat. Akan tetapi tidak dikabulkan, dan diserahkan kepada seorang pengusaha asal Meulaboh yang juga pemimpin sebuah organisasi, sehingga pihak Satgas PETA kecewa.

“Kami sudah serahkan proposal tetapi malah kenapa dari organisasi lain yang diserahkan kerja itu,” ujar Amiruddin.

Insiden pemukulan
Saat Satgas PETA mengahadang tongkang merapat, sekira pukul 11.30 WIB, sebuah mobil double cabin memasuki lokasi pelabuhan Jetty Meulaboh. Mobil yang ditumpangi dua pekerja PT Mifa Bersaudara yang sebenarnya hanya datang ke pelabuhan untuk mengecek batubara milik PT Mifa yang selama ini melakukan bongkar muat di Pelabuhan Jetty, menjadi sasaran pemukulan oleh Satgas PETA, menyebabkan kedua pekerja Mifa itu berikut mobilnya rusak.

Menerima laporan insiden itu, lalu puluhan personel polisi yang dipimpin Kapolres AKBP Faisal Rivai dan Wakapolres, Kompol Ferry Herlambang terpaksa turun ke lokasi. Polisi lalu mengamankan sejumlah anggota PETA termasuk barang bukti mobil doble cabin yang dirusak Satgas PETA, serta sebuah bom molotov. “Petugas sudah kita siagakan di lokasi pelabuhan,” ujar Wakapolres Kompol Ferry Herlambang, Jumat kemarin.

* penjelasan mereka
Wewenang PLN Proyek


HUMAS PLTU, T  Khaldun yang dikonfirmasi Serambi, Jumat kemarin mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendapat laporan tersebut. Namun ia mengakui bahwa batubara yang didatangkan itu milik PLTU. “Itu wewenang PLTU/PLN proyek, kita PLTU/PLN operasional,” ujar Humas PLTU, T  Khaldun.

Khaldun meminta agar soal tersebut dikonfirmasi ke Humas PLTU/PLN proyek, Yasir. Namun Yasir yang coba dihubungi ke HP yang biasa digunakan tidak menjawab. Bahkan SMS yang dikirim Serambi untuk meminta hak jawab terhadap kasus yang terjadi di Pelabuhan Jetty Meulaboh itu juga tak dibalasnya.(riz)

Diamankan ke Polres


KAPOLRES Aceh Barat, AKBP Faisal Rivai melalui Wakapolres, Kompol Ferry Herlambang kepada Serambi, Jumat kemarin, mengatakan, sebanyak sembilan anggota PETA yang ditangkap oleh polisi  sudah diamankan ke Polres guna diselidiki kasus yang terjadi di Pelabuah Jetty Meulaboh. “Masih kita selidiki kasus itu,” ujarnya.

Ia mengatakan, dua pekerja PT Mifa Bersaudara, Zainal dan Sahruddin  yang menjadi korban pemukulan oleh Satgas PETA kini masih dimintai keterangan di Polres termasuk mengamankan bom molotov milik Satgas PETA. Wakapolres mengaku kasus ini akan diusut tuntas.(riz)

korban pemukulan
* Zainal, karyawan PT Mifa Bersaudara
* Sahruddin, karyawan PT Mifa Bersaudara
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas