Selasa, 1 September 2015
Home » Opini

Tahun Baru, Spirit Baru

Rabu, 2 Januari 2013 09:28

PERGANTIAN tahun adalah sesuatu yang biasa, tidak ada yang luar biasa. Namun di balik kebiasaan itulah hadir keluarbiasaan bahwa sesungguhnya hidup kita di dunia sudah berkurang satu tahun. Ini sesuatu yang luar biasa bagi orang yang memikirkan akan pentingnya arti pergantian tahun. Sayangnya ketika pergantian tahun terjadi kita bukan menangis, tetapi lebih banyak tertawa. Kenapa, karena kita merasa telah melewati satu tahun dengan penuh suka cita.

Kalau kita membaca kisah para sufi, maka pergantian tahun membuat mereka menangis dan melakukan introspeksi; Apakah tahun yang telah mereka lewati lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah swt atau justru lebih dekat kepada setan? Mereka tidak yakin bahwa waktu satu tahun yang telah berlalu itu timbangan amal kebaikan mereka lebih banyak atau dosa yang lebih dominan. Mereka sadar bahwa sesungguhnya Allah masih memberi kepada mereka sisa umur untuk bertaubat. Mereka menangis karena mereka yakin bahwa Allah akan memberi jalan yang terbaik buat mereka. Malah menurut mereka mempermainkan waktu adalah suatu kezaliman.

Lalu bagaimana dengan kita? Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya apa yang paling jauh dalam kehidupan kita? Beberapa murid menjawab yang paling jauh adalah kota A atau daerah B, maka kata Al-Ghazali jawaban itu tidak salah tetapi yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu. Ia tidak mungkin lagi kita temukan masa-masa suka maupun duka yang kita lalui tidak akan kita dapat lagi pada tahun yang lalu. Waktu yang berlalu hanyalah sebuah nostalgia, ia hanya dapat dikenang namun tak bisa kembali. Masa lalu adalah sebuah proses menuju masa kini dan masa kini adalah proses untuk masa depan.

Orang yang menganggap penggantian satu waktu ke waktu yang lain adalah sebuah proses biasa dengan sendirinya dia akan menjadi orang-orang yang biasa. Tetapi jika perantian waktu itu dijadikan sebuah proses perenungan dan introspeksi untuk meraih sebuah kebaikan maka mereka itulah orang-orang yang luar biasa. Oleh karena itu jangan jadikan sebuah seremonial pergantian tahun dalam bentuk hura-hura, tetapi jadilah sebagai bahan renungan bahwa sesungguhnya waktu akan tetap bergerak sementara yang terlewat tidak akan pernah kembali.

Itulah kalimat sederhana yang mungkin bisa menjadi awal introspeksi diri melihat kehidupan setahun kemarin demi menuju setahun yang akan datang. Tentunya banyak hal positif yang sudah dilakukan, meski tidak terlepas dari nilai negatif yang masih diperbuat. Namun nilai bijak seorang manusia terletak pada seberapa besar keinginan dan kesungguhannya mengubah perbuatan buruk menjadi perbuatan yang baik.

Tahun baru 2013 harus menjadi momen untuk memacu diri menjadi lebih baik dengan spririt baru yang terlahir dalam kehidupan. Tidak banyak orang yang menjadikan momen penting seperti ini sebagai bahan evaluasi bagi kehidupannya. Euforia, perayaan, hura-hura kerap menjadi nilai dari penyambutan tahun baru. Setelah itu kehidupannya kembali seperti dulu, tetap dalam kesalahan, mempertahankan kekurangan dan pasrah dalam kelemahan. Padahal waktu dan kesempatan selalu terbuka untuk melakukan hal baru dan lebih baik.

 Motivasi baru
Syahdan, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam kehidupan manusia di antaranya spirit dan motivasi beribadah sebenar-benarnya kepada Allah swt. Spirit berjuang dan berkreasi dalam kehidupan nilainya adalah prestasi, karir dan kebahagiaan dunia akhirat. Serta spirit dan motivasi menjadi manusia yang lebih matang dalam menyikapi hidup. Suka dan duka mesti dimaknai dengan kedewasaan bersikap dan kematangan berfikir, tidak marah ketika berduka dan tidak bergembira dan lupa karena suka dan senang. Semuanya tetap terbungkus dalam kematangan menyikapi setiap keadaan hidup.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
berita POPULER
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas