Kamis, 27 November 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Tahun Baru, Spirit Baru

Rabu, 2 Januari 2013 09:28 WIB

Oleh Munawar A. Djalil

PERGANTIAN tahun adalah sesuatu yang biasa, tidak ada yang luar biasa. Namun di balik kebiasaan itulah hadir keluarbiasaan bahwa sesungguhnya hidup kita di dunia sudah berkurang satu tahun. Ini sesuatu yang luar biasa bagi orang yang memikirkan akan pentingnya arti pergantian tahun. Sayangnya ketika pergantian tahun terjadi kita bukan menangis, tetapi lebih banyak tertawa. Kenapa, karena kita merasa telah melewati satu tahun dengan penuh suka cita.

Kalau kita membaca kisah para sufi, maka pergantian tahun membuat mereka menangis dan melakukan introspeksi; Apakah tahun yang telah mereka lewati lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah swt atau justru lebih dekat kepada setan? Mereka tidak yakin bahwa waktu satu tahun yang telah berlalu itu timbangan amal kebaikan mereka lebih banyak atau dosa yang lebih dominan. Mereka sadar bahwa sesungguhnya Allah masih memberi kepada mereka sisa umur untuk bertaubat. Mereka menangis karena mereka yakin bahwa Allah akan memberi jalan yang terbaik buat mereka. Malah menurut mereka mempermainkan waktu adalah suatu kezaliman.

Lalu bagaimana dengan kita? Imam Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya apa yang paling jauh dalam kehidupan kita? Beberapa murid menjawab yang paling jauh adalah kota A atau daerah B, maka kata Al-Ghazali jawaban itu tidak salah tetapi yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu. Ia tidak mungkin lagi kita temukan masa-masa suka maupun duka yang kita lalui tidak akan kita dapat lagi pada tahun yang lalu. Waktu yang berlalu hanyalah sebuah nostalgia, ia hanya dapat dikenang namun tak bisa kembali. Masa lalu adalah sebuah proses menuju masa kini dan masa kini adalah proses untuk masa depan.

Orang yang menganggap penggantian satu waktu ke waktu yang lain adalah sebuah proses biasa dengan sendirinya dia akan menjadi orang-orang yang biasa. Tetapi jika perantian waktu itu dijadikan sebuah proses perenungan dan introspeksi untuk meraih sebuah kebaikan maka mereka itulah orang-orang yang luar biasa. Oleh karena itu jangan jadikan sebuah seremonial pergantian tahun dalam bentuk hura-hura, tetapi jadilah sebagai bahan renungan bahwa sesungguhnya waktu akan tetap bergerak sementara yang terlewat tidak akan pernah kembali.

Itulah kalimat sederhana yang mungkin bisa menjadi awal introspeksi diri melihat kehidupan setahun kemarin demi menuju setahun yang akan datang. Tentunya banyak hal positif yang sudah dilakukan, meski tidak terlepas dari nilai negatif yang masih diperbuat. Namun nilai bijak seorang manusia terletak pada seberapa besar keinginan dan kesungguhannya mengubah perbuatan buruk menjadi perbuatan yang baik.

Tahun baru 2013 harus menjadi momen untuk memacu diri menjadi lebih baik dengan spririt baru yang terlahir dalam kehidupan. Tidak banyak orang yang menjadikan momen penting seperti ini sebagai bahan evaluasi bagi kehidupannya. Euforia, perayaan, hura-hura kerap menjadi nilai dari penyambutan tahun baru. Setelah itu kehidupannya kembali seperti dulu, tetap dalam kesalahan, mempertahankan kekurangan dan pasrah dalam kelemahan. Padahal waktu dan kesempatan selalu terbuka untuk melakukan hal baru dan lebih baik.

 Motivasi baru
Syahdan, ada beberapa hal yang harus diperbaiki dalam kehidupan manusia di antaranya spirit dan motivasi beribadah sebenar-benarnya kepada Allah swt. Spirit berjuang dan berkreasi dalam kehidupan nilainya adalah prestasi, karir dan kebahagiaan dunia akhirat. Serta spirit dan motivasi menjadi manusia yang lebih matang dalam menyikapi hidup. Suka dan duka mesti dimaknai dengan kedewasaan bersikap dan kematangan berfikir, tidak marah ketika berduka dan tidak bergembira dan lupa karena suka dan senang. Semuanya tetap terbungkus dalam kematangan menyikapi setiap keadaan hidup.

Dalam surah Al-‘Ashr, Allah swt menegaskan: “Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran”. Motivasi waktu seharusnya menjadi cambuk tajam bagi manusia untuk terus berpacu dalam kompetisi hidup. Dalam beribadah harus berkompetisi dalam berkarya juga kita harus berkompetisi. Kita sedang berkompetisi dengan kemalasan diri dan keegoan diri dan dengan ketidakyakinan akan sesuatu yang ingin kita capai. Semua itu tergantung dari cara kita menyikapi hidup ini dalam waktu.

Tahun 2012 berapa banyak kekurangan dan kelemahan kita baik itu dalam ibadah maupun dalam prestasi lainnya. Tahun 2013 apa yang harus dicapai demi meminimalisir kelemahan dan kekurangan itu. Usaha apa yang harus dilakukan dan seberapa besar konsistensi untuk merubah itu semua. Yang terakhir dengan cara apa mempertahankan prestasi dan keberhasilan yang sudah kita raih selama ini.

Selanjutnya spirit dan motivasi untuk maksimal dalam berkarya, bekerja dan berpendidikan. Jadilah penghalang itu sebagai cambuk untuk kita berhasil. Jangan mau menyerah di tengah jalan dan tetap konsisten apapun hasilnya. Ketika perjuangan telah maksimal maka itulah nilai yang terbaik. Awal 2013 ini harus menjadi satu spirit dan motivasi untuk menjadi lebih baik dalam segala hal. Terlebih dalam beribadah, bersyukur dan dalam meyakini kekuasaan Allah swt.

 Harus berani
Mengutip apa yang ditulis oleh Dr Akram Ridha dalam buku Making Choice, dalam hidup manusia harus berani mengambil sikap yang terbaik, meski waktu dan kesempatan tidak mendukung. Hal ini ia jelaskan melalui cerita Khalid Bin Walid ketika secara tiba-tiba ditunjuk oleh rakyatnya menjadi penglima perang yang baru setelah penglima perang sebelumnya telah syahid. Mau tidak mau dengan penuh keyakinan Khalid memenuhi permintaan itu. Beranjak dari keyakinan akhirnya ia sukses menjadi seorang pemimpin perang dan termasyur dalam sejarah Islam.

Begitu juga dalam menjalani hidup ada kalanya semangat baru itu akan timbul manakala sesuatu yang kita harapkan itu ada pada saat itu, bisa jadi karena ada tujuan yang memang sangat dinginkan. Dan adakalanya spirit dan motivasi itu hadir ketika merasa bahwa hidup ini harus menjadi lebih baik di moment tahun baru ini. Merenungi waktu yang telah lewat tidak akan lagi kembali, maka jangan sia-siakan waktu yang akan datang juga akan kita alami.

Hidup bagai roda yang berputar akan menjadi analisis filosofi yang cukup ampuh untuk bersemangat kembali meraih hidup yang lebih baik. Dengan waktu yang terus berjalan semoga kita pada 2013 ini bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi, baik kepada sesama manusia maupun dengan Sang pencipta Allah swt. Ingat seperti kata seorang penyair dan pemikir asal Pakistan Sir Muhammad Iqbal: “Waktu terlalu singkat untuk dipermainkan”. Allahu `alam.

* Munawar A. Djalil, Pegiat Dakwah dan Pemerhati Masalah Sosial-Keagamaan, tinggal di Sigli. Email: gampatra@yahoo.com
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas