Jumat, 29 Mei 2015

Mengapa Bayi Lahir tanpa Batok Kepala?

Sabtu, 12 Januari 2013 13:32

“Saya kaget saat melihat bayi itu lahir tanpa batok kepala. Nenek bayi yang membantu saya juga terkejut melihat keadaan cucunya yang demikian,” ujar Ayu Maiba, alumnus Akademi Kebidanan Muhammadiyah Banda Aceh yang sejak setahun lalu menyandang status bidan PTT dan bertugas di Pulau Simeulue.

Kepada Serambi, Kamis (10/1) lalu, bidan yang membantu proses persalinan bayi itu mengatakan, bayi yang lahir abnormal itu pada saat dalam kandungan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda memiliki kelainan fisik. “Ketika mengandung, ibunya pernah kontrol. Ia tidak pernah mengeluhkan kandungannya,” kata Ayu.

Menurutnya, saat menjelang detik-detik kelahiran bayi berjenis kelamin laki-laki itulah baru diketahui bahwa bayi itu lahir dengan tidak memiliki batok kepala. Kabarnya, kata Ayu, di Simeulue baru kali ini ada bayi yang lahir tanpa batok kepala sempurna.

Kenapa kasus seperti ini terjadi?
Dalam dunia kedokteran, bayi lahir tanpa tempurung bukanlah hal yang terlalu langka. Sudah lumayan sering terjadi. Rasio kasus ini berkisar 1 banding 1.000 kehamilan. Istilah medisnya adalah anensefali.

Dokter spesialis anak, Dora Darussalam yang dihubungi Serambi per telepon kemarin sore membenarkan bahwa kelainan yang diderita bayi asal Simeulue itu adalah kasus anensefali. Ia juga membenarkan bahwa bayi tersebut sedang dirawat intensif di Neonatal Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (NICU RSUZA) Banda Aceh. Namun, karena sedang sibuk, dr Dora tidak sempat menjelaskan lebih rinci tentang anensefali dan kondisi bayi asal Simeulue itu.

Dokter ahli kandungan dan kebidanan, Mohd Andalas yang dihubungi Serambi kemarin sore mengaku kaget karena bayi Simeulue itu mampu bertahan lama, meski terlahir tanpa kepala. Bayi itu lahir 3 Januari 2013, tapi sampai kemarin sore masih bertahan hidup. Perkiraan secara medis, bayi anensefali biasanya hanya bertahan dalam waktu 24-48 jam. Kenapa?

Jawabnya adalah karena otak bayi yang tidak terlindungi tempurung kepala mudah terpapar radiasi atau lainnya. Sehingga, bayi tak bisa bertahan lama, bahkan tubuhnya bisa mengecil (atropi) seperti bayi prematur.

Halaman123
Editor: hasyim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas