• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 18 September 2014
Serambi Indonesia

Mengapa Bayi Lahir tanpa Batok Kepala?

Sabtu, 12 Januari 2013 13:32 WIB
Sebagai bidan pegawai tidak tetap (PTT), sudah biasa bagi Ayu Maiba Lestari menolong persalinan bayi. Apalagi dia bergelar ahli madya kebidanan (Amd Keb). Namun, persalinan yang dia tolong kali ini (3 Januari 2013), benar-benar mengagetkannya.

“Saya kaget saat melihat bayi itu lahir tanpa batok kepala. Nenek bayi yang membantu saya juga terkejut melihat keadaan cucunya yang demikian,” ujar Ayu Maiba, alumnus Akademi Kebidanan Muhammadiyah Banda Aceh yang sejak setahun lalu menyandang status bidan PTT dan bertugas di Pulau Simeulue.

Kepada Serambi, Kamis (10/1) lalu, bidan yang membantu proses persalinan bayi itu mengatakan, bayi yang lahir abnormal itu pada saat dalam kandungan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda memiliki kelainan fisik. “Ketika mengandung, ibunya pernah kontrol. Ia tidak pernah mengeluhkan kandungannya,” kata Ayu.

Menurutnya, saat menjelang detik-detik kelahiran bayi berjenis kelamin laki-laki itulah baru diketahui bahwa bayi itu lahir dengan tidak memiliki batok kepala. Kabarnya, kata Ayu, di Simeulue baru kali ini ada bayi yang lahir tanpa batok kepala sempurna.

Kenapa kasus seperti ini terjadi?
Dalam dunia kedokteran, bayi lahir tanpa tempurung bukanlah hal yang terlalu langka. Sudah lumayan sering terjadi. Rasio kasus ini berkisar 1 banding 1.000 kehamilan. Istilah medisnya adalah anensefali.

Dokter spesialis anak, Dora Darussalam yang dihubungi Serambi per telepon kemarin sore membenarkan bahwa kelainan yang diderita bayi asal Simeulue itu adalah kasus anensefali. Ia juga membenarkan bahwa bayi tersebut sedang dirawat intensif di Neonatal Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (NICU RSUZA) Banda Aceh. Namun, karena sedang sibuk, dr Dora tidak sempat menjelaskan lebih rinci tentang anensefali dan kondisi bayi asal Simeulue itu.

Dokter ahli kandungan dan kebidanan, Mohd Andalas yang dihubungi Serambi kemarin sore mengaku kaget karena bayi Simeulue itu mampu bertahan lama, meski terlahir tanpa kepala. Bayi itu lahir 3 Januari 2013, tapi sampai kemarin sore masih bertahan hidup. Perkiraan secara medis, bayi anensefali biasanya hanya bertahan dalam waktu 24-48 jam. Kenapa?

Jawabnya adalah karena otak bayi yang tidak terlindungi tempurung kepala mudah terpapar radiasi atau lainnya. Sehingga, bayi tak bisa bertahan lama, bahkan tubuhnya bisa mengecil (atropi) seperti bayi prematur.

Bayi-bayi yang lahir tanpa tempurung kepala ini dinamakan penderita Neural Tube Defects (NTDs). NTDs disebabkan oleh kegagalan menutup tabung saraf dengan sempurna pada hari ke-28 setelah konsepsi (pembuahan).

Penyebab lain anensefali adalah karena adanya defisiensi atau kekurangan asam folat selama kehamilan.

Dari mana asam folat bisa didapat? Jawabnya, dari sereal, roti, gandum, kol, brokoli, bayam, dan tauge. Namun, asam folat akan bekerja lebih baik jika dibarengi vitamin B12 dari daging.

Folat termasuk golongan vitamin B yang larut dalam air. Asam folat berfungsi sebagai koenzim dam metabolisme asam nukleat dan asam amino. “Oleh karenanya, asam folat besar pengaruhnya dalam pertumbuhan dan replikasi sel,” kata seorang dokter dalam laman http://herrysusant.wordpress.com).

Karena itu para dokter, bidan, dan paramedis lainnya senantiasa merekomendasikan pasiennya yang tengah hamil agar rutin mengkonsumsi suplemen asam folat dan makanan yang banyak mengandung asam folat.

Menurut sang dokter, jika sudah diketahui adanya kelainan pada janin seperti anensefali, seorang ibu punya hak untuk memutuskan apakah janinnya dipertahankan sampai sembilan bulan atau dideterminasi (dikeluarkan). Bila janin tetap dipertahankan sampai lahir, biasanya bayi hanya bisa bertahan dalam tempo 24-48 jam. Radiasi yang terpapar langsung ke otaknya yang tanpa pelindung justru bisa mempercepat kematiannya. (dik/nas/c48)

Cara Mendeteksi Anensefali
Bayi akan terlahir normal atau tidak, sebetulnya bisa dideteksi sejak dalam kandungan. Demikian pula janin dengan kasus anensefali (tanpa batok kepala).

Sejak calon ibu terlambat menstruasi dan dinyatakan positif hamil, sebaiknya jangan enggan membawa hasil tes urinenya ke dokter. Ini untuk mengetahui usia kehamilannya sudah berapa minggu.

Pada tahap inilah dokter akan mendeteksi perkembangan kehamilan berjalan baik atau tidak. Dokter kandungan biasanya akan memeriksa pakai ultrasonografi (USG). Misalnya, pada saat usia kehamilan 17 minggu. USG dapat mendeteksi adanya indikasi anensefali, meskipun bayi masih di dalam rahim ibunya. (dik/dbs)
Editor: hasyim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
140474 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas