Turis Prancis dan Kuah Beulangong
DESA Lubok Sukon, Aceh Besar, Minggu pekan lalu mendapat kehormatan dikunjungi sejumlah turis
Cut Rahmi Stesia Djoni Rahmany, Ketua PKK Lubok Sukon saat itu menjadi orang yang paling sibuk. Selain sebagai tuan rumah, Cut Rahmi juga merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan kuliner Aceh di desanya.
Hari Minggu pekan lalu, di Rumah Cut Rahmi yang kini menjadi salah satu home stay bagi turis yang ingin menginap di rumoh Aceh, sejumlah kuliner Aceh ikut dipamerkan.
Seorang turis asal Perancis tiba-tiba langsung menuju ke arah belangong (kuali) ukuran besar yang terletak di bawah rindangnya pohon belimbing. Ia berbaur bersama juru masak kuah beulangong. Bahkan si bule itu meminta centong kayu (aweuk) untuk mengaduk kuah yang sedang mendidih.
“Sebagai tuan rumah, saya tentu siap untuk memberi layanan bagi para tamu, termasuk keinginan mereka untuk bersama-sama dengan warga Lubok Sukon memasak kuah beulangong berisi daging lembu tersebut,” kata Cut Rahmi Stesia.
Kecuali mempromosikan kuah beulangong dan gulai sie itek, mereka juga memeragakan cara membuat aneka kue khas Aceh kepada turis, sekaligus menjajakan beberapa produksi kuliner Aceh. Ada keumamah yang sudah dipaket dengan harga Rp 10 ribu dan sie reuboh khas Aceh Rayeuk yang sudah diisi dalam beulangong tanoh dengan harga jual Rp 75.000 per paket, termasuk beulangong tanoh dan reungkan.(sir)
komentar manajer hotel
Rasanya Memang Wowww...
KULINER Aceh, memang tidak ada duanya. Rasanya pasti wowww... Enak sekali. Banyak makanan nusantara yang sudah saya cicipi, tapi tak seenak kuliner Aceh.
Itulah pengakuan Stelle Runtuwene, marketing manager Hotel Grand Nanggroe setelah menyantap sie reuboh dan kuah beulangong, di desa wisata Lubok Sukon Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, pekan lalu.
“Saya sebenarnya ingin menikmati gulai itik khas Aceh Rayeuk. Tapi, ketika kami tiba keburu habis,” ujar wanita kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 13 April 1980. Kecuali rasanya yang begitu nikmat, sie reuboh khas Aceh Rayeuk juga memiliki daya tahan yang lumayan lama. “Jika sie reuboh sudah masak. Kita hanya tinggal memanaskan saja. Lalu santap bersama nasi,” ujar Stella yang mengaku mulai bekerja di Grand Nanggroe sejak 2007 lalu.
Alumni Diploma III Pariwisata ini mengakui potensi kuliner Aceh bisa menjadi produk unggulan. “Selain kuah beulangong, di Aceh para turis nusantara dan mancanegara juga bisa menikmati aneka makanan khas Tanah Rencong lainnya. Ada mie aceh, timphan, ayam tangkap, dan lainnya,” ujar Stella seraya mencoba memadukan logat Aceh dengan Manado.(sir)