Senin, 22 Desember 2014
Serambi Indonesia

Ketidakjujuran

Selasa, 15 Januari 2013 13:37 WIB


Oleh: Jarjani Usman


Sufyan bin Abdullah berkata,”Ya Rasulullah, terangkan kepadaku tentang Islam. Aku tidak akan bertanya lagi kepada orang lain.” Lantas Rasulullah SAW menjawab, “Katakanlah ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian berlaku jujur (istiqamah)” (HR. Muslim).

Kesalahan orang lain seringkali lebih jelas terlihat, ketimbang kesalahan diri sendiri. Sehingga banyak orang lebih suka memperbincangkan dan bahkan mengatur perilaku orang lain, tetapi enggan memperbaiki perilaku diri sendiri. Kenyataan ini menunjukkan adanya ketidakjujuran di hati sebahagian manusia, terutama ketidakjujuran dalam melaksanakan ajaran Islam.

Padahal, meskipun penting mengajak orang lain ke jalan kebaikan, memperbaiki perilaku diri sendiri lebih utama untuk dilakukan. Lagipula, Allah memerintahkan setiap hambaNya untuk menjaga diri dan keluarga, sebagaimana firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (QS. At Tahrim: 6). Perintah ini tidak akan mampu terlaksana dengan baik, bila ada ketidakjujuran dalam menjalankan perintah Allah.

Bahkan, peraturan yang hanya memerintahkan orang lain untuk jujur, yang tidak diawali oleh diri sendiri, seringkali tidak berhasil. Sebab, yang menyuruhnya tidak bisa dijadikan rujukan kejujuran dalam hidup ini. Sedangkan Rasulullah SAW lebih dahulu menunjukkan kejujuran dalam segala hal dalam hidupnya, bahkan sebelum beliau diangkat sebagai seorang Rasul.
Editor: hasyim

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas