A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Gempa Darat Guncang Aceh - Serambi Indonesia
Selasa, 25 November 2014
Serambi Indonesia

Gempa Darat Guncang Aceh

Rabu, 23 Januari 2013 09:50 WIB

Gempa Darat Guncang Aceh
SERAMBI/SA'DUL BAHRI
puluhan warga mendaki gunung Carak di Desa Sentosa, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, untuk menyelamatkan diri dari ancaman tsunami setelah terjadinya gempa pada Selasa (22/1) sekitar pukul 05.12 WIB pagi.
* Manee-Geumpang Korban Terbanyak

BANDA ACEH - Gempa 6,0 Skala Richter (SR) yang terjadi Selasa (22/1) subuh pukul 05.22 WIB menimbulkan kerusakan serius di sejumlah kawasan Pidie, di antaranya Kecamatan Manee, Geumpang, dan Tangse. Gempa yang dipicu pergerakan sesar (patahan) Sumatera itu juga merenggut satu korban nyawa, belasan luka-luka, dan puluhan bangunan roboh.

Gempa yang terjadi pasa Selasa subuh kemarin sempat memunculkan kesimpangsiuran. BMKG menginformasikan gempa berkekuatan 6 SR pada 22 Januari 2013 pukul 05:22:42 WIB berlokasi 5,49 LU, 95,21 BT, 15 kilometer barat daya Banda Aceh dengan kedalaman 84 kilometer.

Pada saat yang hampir bersamaan USGS (Badan Geologi Amerika Serikat) menginformasikan gempa bumi berlokasi 4,961 LU, 96,083 BT di darat, 35 kilometer barat daya Reuleuet dengan kekuatan 5,9 SR, kedalaman 16 kilometer.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Aceh, Ir Said Ikhsan didampingi Tim Geologinya, kepada Serambi, Selasa (22/1) mengungkapkan, pusat gempa tektonik pada Selasa subuh itu di antara Kecamatan Manee dengan Geumpang, Kabupaten Pidie dengan kedalaman 10-17 kilometer. “Informasi itu diketahui setelah USGS di Amerika dan Pusat Survei Geologi Jerman (GFZ) mengirimkan rekaman laporan gempa tektonik di Pulau Sumatera tersebut ke Distamben Aceh,” kata Said Ikhsan.

Said Ikhsan bersama Tim Geologi Distamben Aceh yang diketuai Kabid Geologi, Akmal Husin didampingi Kasie Geologi, Mukhlis bersama dua staf lainnya, Selasa kemarin meninjau langsung kondisi di sekitar pusat gempa.

Akmal menjelaskan, informasi dari USGS dan GFZ terbukti di lapangan dengan ditemukan tanda-tanda terjadinya gempa tektonik, yaitu badan jalan retak dengan kerenggangan 5-10 cm di Km 69 Beureunuen-Geumpang. Pada jarak satu kilometer dari lokasi badan jalan yang retak, ditemukan puluhan rumah penduduk berkonstruksi cor semen tanpa tulang besi runtuh. Sedangkan bangunan berkonstruksi beton bertulang hanya retak. “Rumah korban meninggal dunia juga berkonstruksi beton namun tidak menggunakan tulang besi. Dinding kamar tidurnya roboh menimpa korban,” kata Akmal.

Kabid Geologi Distamben Aceh, Akmal Husin menjelaskan, gempa tektonik yang terjadi Selasa subuh kemarin karena dua lempeng bumi, yaitu lempeng Australia dan Euresia saling menekan atau bertumbukan, sehingga belahan bumi Pulau Sumatera mengalami pergeseran.

Gempa tektonik yang sama, menurut Akmal akan terus terjadi sampai letak kedua lempeng bumi yang menekan Pulau Sumatera kembali pada posisi normal. Gempa teknonik seperti ini telah terjadi sejak tahun 1900 mulai dari Lampung sampai Sumatera Barat. “Pusat gempanya sekarang telah bergeser ke wilayah patahan atau belahan Pulau Sumatera posisi antara Manee dan Geumpang, Kabupaten Pidie,” kata Akmal.

Kondisi ini, kata Akmal, perlu diwaspadai. Karena wilayah patahan atau belahan Pulau Sumatera itu jalurnya sampai ke Banda Aceh dan Pulo Aceh. Ini artinya, bila kedua lempeng bumi tadi mengalami pergeseran dan satu sama lainnya saling menekan atau bertumbukan, tidak tertutup kemungkinan gempa tektonik yang lebih dahsyat lagi, akan terjadi, bukan saja di Manee-Geumpang, bahkan menjalar sampai Banda Aceh hingga Pulo Aceh dan Sabang.

Pemantau Gunung Berapi Peuet Sagoe, di Kecamatan Manee, Muhammad Nasir mengatakan, setelah gempa tektonik 6 SR pukul 05.22 WIB, hingga pukul 15.00 WIB terjadi gempa susulan sampai 100 kali lebih. Namun gempa susulan tersebut nyaris tidak terasa.(her/nas)

Satu Jam Tertimbun, Bayi 4 Bulan Selamat

SELAKSA kisah pilu mencuat di balik bencana gempa yang meluluhlantakkan kawasan Kecamatan Manee, Geumpang, dan Tangse, Kabupaten Pidie, Selasa subuh 22 Januari 2013. Salah satu di antaranya dialami bayi berusia 4 bulan bernama Muhammad Nazib Kaliyubi.

Menurut cerita, anak pasangan Mariana Razali (25)-Mukhtar Umar, warga Manee Cot, Kecamatan Manee, Pidie itu selamat setelah sempat tertimpa dan terperangkap dalam runtuhan bangunan rumahnya selama lebih kurang satu jam. “Kami terjaga saat dinding rumah ambruk menimpa kami bertiga yang tidur di ranjang. Saat itu hanya wajah kami yang tidak tertimpa,” kata Mariana saat ditemui Serambi, Selasa (22/1) di Puskesmas Geumpang.

Mariana bersama suaminya berteriak minta tolong, namun tak ada yang mendengar. Anak beranak itu benar-benar harus berjuang antara hidup dan mati, dalam kegelapan puing-puing bangunan, rasa sakit, dan tanpa penerangan.

“Dengan pertolongan Allah, suami saya bisa keluar. Secepatnya dia memindahkan puing-puing bangunan yang menimpa tubuh saya. Setelah saya berhasil dikeluarkan, kami pun berjuang sekuat tenaga mengeluarkan anak kami. Setelah sekitar satu jam, barulah sang buah hati berhasil kami keluarkan. Alhamdulillah, buah hati kami selamat. Spontan kami menangis haru,” ujar Mariana.

Kepala Puskesmas Geumpang, dr Rudi mengatakan, Muhammad Nazib Kaliyubi menderita luka di bagian langit-langit atas mulut dan hidung luka lecet. Setelah mendapat perawatan medis, kondisinya berangsur stabil.

Lain lagi kisah Tuti Arahmi (11), korban yang meninggal dunia akibat gempa Selasa subuh tersebut. Sebelum musibah itu, Tuti tidur bersama ibunya, Aminah dan Mariana (kakak) serta Mirza (adik). Mereka tidur satu ranjang.

Tuti Arahmi meninggal dunia di lokasi kejadian setelah tubuhnya tertimpa dinding rumah yang roboh. Jenazah Tuti dikebumikan pada Selasa sore diiringi isak tangis kesedihan yang entah sampai kapan.(naz)

Apa dan Bagaimana Sesar Sumatera?

PENELITI pada Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana (TDRMC) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Ibnu Rusydy mengatakan, gempa berkekuatan 6,0 SR yang mengguncang Aceh pada Selasa subuh, 22 Januari 2013 akibat pergeseran sesar Sumatera.

“Sumbernya bukan di laut tetapi di darat akibat pergerakan sesar Sumatera,” kata Ibnu Rusydy di Banda Aceh, Selasa.

Rusydy menjelaskan, dalam beberapa pertemuan TDMRC telah beberapa kali menginformasikan bahwa di Sumatera ada tiga sumber utama gempa bumi, di antaranya di zona subduksi, di kerak samudra (IFZ-NER), dan sesar Sumatera.

Gempa di sesar Sumatera, katanya akan memiliki efek merusak yang luar biasa karena sumber gempa hanya berkedalaman sekitar 20 kilometer. “Jadi, meskipun kekuatan 6,0 SR namun guncangan kita rasakan akan sangat kuat. Gempa darat yang magnitude kecil namun berdampak besar pernah terjadi pada peristiwa gempa Yogyakarta beberapa tahun lalu,” katanya.

Ibnu Rusydy yang juga anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia-Aceh (HAGI), menjelaskan sejarah gempa di sesar Sumatera sejak 1892, yakni tunjangan lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia tidaklah tegak lurus melainkan miring sekitar 45 derajat.

Kemiringan itu menyebabkan terbentuknya sesar Sumatera dari Selat Sunda hingga Kepulauan Andaman di bagian barat Provinsi Aceh dengan total panjang 1.900 kilometer.

Patahan Sumatra, oleh beberapa ahli ilmu kebumian dibagi kepada 19 segmen di antaranya, Sunda, Semangko, Kumering, Manna, Musi, Ketaun, Dikit, Siulak, Suliti, Sumani, Sianok, Sumpur, Barumun, Angkola, Toru, Renun, Tripa, Aceh, dan Seulimuem.

“Untuk kawasan Aceh, terdapat tiga segmen sesar Sumatra, yaitu Tripa, Aceh, dan Seulimuem. Karenanya, gempa Selasa subuh itu adalah energi sesar Sumatra segmen Aceh di kawasan Tangse-Manee-Geumpang yang dilepas,” katanya menjelaskan.

Disebutkan, gempa-gempa susulan sangat dimungkinkan terjadi namun dalam skala yang lebih kecil. Gempa susulan merupakan proses menuju kondisi stabil.(ant/nasir nurdin)

Getaran Gempa Terasa Hingga Pesisir Barat

BANDA ACEH - Gempa tektonik berkekuatan 6 SR yang berpusat di kawasan Manee-Geumpang, Kabupaten Pidie pada Selasa subuh, pukul 05.22 WIB, 22 Januari 2013 bukan hanya memunculkan kepanikan di Pidie Raya tetapi juga di sejumlah wilayah Aceh lainnya, seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan kawasan pesisir barat hingga ke Nagan Raya.

Di Banda Aceh, Aceh Besar, Calang, Meulaboh, dan Nagan Raya, sesaat setelah gempa 6 SR itu mengguncang, ribuan penduduk yang bermukim di sepanjang garis pantai, berhamburan ke lokasi-lokasi aman, termasuk ke kawasan lebih tinggi. Kepanikan semakin menjadi-jadi manakala pada pukul 05.47 WIB terjadi gempa susulan berkekuatan 5,1 SR. “Di kawasan Ulee Lheue, Alue Naga, Gampong Jawa, Lampulo, dan beberapa kawasan pesisir lainnya di Kota Banda Aceh, masyarakatnya tampak siaga meski tetap diliputi suasana panik. Alhamdulillah semuanya terkendali,” kata Dansatgas Komunikasi RAPI Kota Banda Aceh, Ismail ABD (JZ01BPJ) yang turun bersama puluhan anggotanya ke tengah-tengah masyarakat untuk meng-update berbagai informasi pascagempa.

Di Kabupaten Aceh Jaya, ribuan warga panik dan berlarian ke gunung untuk menyelamatkan diri dari kemungkinan terjadinya tsunami pascagempa 6 SR pada Selasa subuh kemarin.

Seorang warga Desa Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Ria Agnes (17) dilaporkan mengalami cidera di bagian dagu akibat terjatuh di tangga saat keluar dari rumah sehingga harus dirawat di Puskesmas Lageun.

Pada menit-menit awal pascagempa, ratusan, bahkan ribuan warga Calang dan sekitarnya berlarian ke Gunung Carak. Mereka saling berlomba mencari lokasi yang lebih tinggi, dengan menggunakan berbagai jenis kendaraan bahkan tak sedikit yang berjalan kaki.

Kepala BPBD Aceh Jaya, Amren Sayuna kepada Serambi mengatakan, tidak ada korban jiwa atau kerugian harta benda akibat panik gempa di wilayahnya, kecuali seorang warga cidera akibat terjatuh.

Seorang relawan RAPI Aceh Jaya, Ismail (JZO1QIS) mengatakan, sekitar pukul 06.15 WIB warga secara berangsur-angsur telah meninggalkan lokasi pengungsian dan kembali ke rumah masing-masing setelah yakin tidak terjadi tsunami.

Guncangan gempa juga dirasakan masyarakat di beberapa kawasan Aceh Barat dan Nagan Raya namun tidak sampai menimbulkan kepanikan.

Di Kabupaten Pidie Jaya (Pijay), Masjid Liwaul Hamdi di Desa Langgien Sagoe Luengputu, Kecamatan Bandarbaru rusak berat yang diyakini akibat hentakan gempa yang berpusat di Manee dan Geumpang.

Masjid seluas 20 x 20 meter yang kini berusia kurang lebih 36 tahun itu sejak pagi gingga petang kemarin banyak dikunjungi warga sekitar bahkan dari kecamatan tetangga. Mereka ingin melihat langsung kondisi sarana ibadah pascagempa.

Sebanyak 21 tiang penyangga masjid di bagian pinggir mengalami kerusakan berat sehingga terlihat besi menganga. Belum lagi beberapa tiang yang berada dalam masjid. Beberapa bidang dinding termasuk yang berdampingan dengan mimbar khatib patah berantakan. Malah sudah terpisah.

Tgk Saidi M Sufi, salah seorang panitia masjid, menjawab Serambi mengatakan, dengan kondisi seperti itu masyarakat merasa cemas untuk melaksanakan aktivitas ibadah di dalam masjid.(awi/c45/edi/ag)

Rendah di Magnitud, Dahsyat di Getaran

GEMPA yang terjadi Selasa subuh, 22 Januari 2013 menimbulkan pertanyaan mengapa kerusakan terparah terjadi di kawasan Manee-Geumpang, Kabupaten Pidie.

Pertanyaan itu terjawab oleh hasil plot titik lokasi pusat gempa yang dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian ESDM, bahwa data dari United States Geological Survey (USGS) lebih cenderung mengindikasikan pusat gempa di Kabupaten Pidie. Gempa tersebut adalah gempa darat dari pergeseran patahan Sumatera.

Lalu, mengapa gempa tersebut terasa keras walaupun magnitudnya sekitar 6 SR?. “Ini disebabkan pusat gempa tersebut dengan permukiman relatif dekat dan kedalamannya tergolong dangkal, sehingga rambat gelombang gempa dari perut bumi mencapai permukaan sangat cepat,” tulis Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Aceh, Ir Faizal Adriansyah MSi dalam penjelasannya menanggapi fenomena gempa yang terjadi Selasa subuh kemarin.

Adriansyah menjelaskan, menurut para ahli gelombang, gempa terdiri dari gelombang primer/gelombang kompresi longitudinal memiliki kecepatan 7-14 km per detik dengan periode 5-7 detik dan yang kedua gelombang sekunder/gelombang transversal. Gelombang ini datang beriringan menggoyang ke kanan ke kiri dan ke atas ke bawah persis sepeti orang mencabut paku. Apabila semakin lama getarannya tentu sangat membahayakan bangunan yang ada di atasnya.

IAGI Aceh mengeluarkan beberapa imbauan kepada masyarakat luas. Pertama; Kepada masyarakat agar terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiagaan sesuai dengan mekanisme Pengurangan Risiko Bencana (PRB) bila terjadi gempa. Kedua; Masyarakat di sekitar pesisir pantai apabila gempa dirasakan sangat kuat agar segera menjauh dari lokasi pantai sambil menunggu informasi dari instansi berwenang apakah berpotensi tsunami atau tidak melalui radio atau televisi.

Ketiga; Kepada masyarakat yang ingin membuat bangunan rumah tempat tinggal atau pertokoaan agar memperhatikan persyaratan bangunan untuk daerah gempa. Keempat; Kepada pemerintah agar dapat membuat peraturan yang ketat dengan persyaratan teknis bangunan tahan gempa terhadap pembangunan gedung perkantoran, fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, dan sebagainya.

Kelima; Pemerintah agar dapat memfungsikan pengelolaan escape building dan escape hill, sehingga dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk berlindung sementara apabila tsunami datang. Keenam; Pemerintah melalui instansi teknis agar segera memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat apabila terjadi gempa yang berpotensi tsunami, agar tidak terjadi kepanikan.

Faizal mengatakan, hingga saat ini belum ada ilmu manusia yang mampu mengetahui waktu kedatangan gempa, berapa besar kekuatan gempa dan lokasi terjadinya gempa. Semua pertanyaan itu baru terjawab setelah gempa terjadi. “Yang dapat kita lakukan bila terjadi gempa dan tsunami adalah mengurangi risiko yang ditimbulkannya. Usaha dan doa adalah dua hal yang harus sejalan dan seiring dalam kita menyikapi fenomena alam yang terjadi saat ini maupun di masa depan,” demikian Faizal Adriansyah.(rel/nasir nurdin)
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas