Menghabiskan Waktu di Majelis Taklim
MESKI usianya telah senja, Kurniawati masih tetap semangat menuntut ilmu
“Untuk posisi ketua sebenarnya saya sudah berat dengan usia yang sudah tua. Saya ingin yang muda-muda menggantikan saya, supaya majelis taklim ini ke depan tetap ada. Karena ini tempat beramal dan beribadah,” ujar wanita yang akrab disapa Ita.
Sejak kecil, perempuan kelahiran Banda Aceh itu telah mengikuti pengajian di meunasah dan masjid, tapi ketika sudah bekerja di ExxonMobil 1989-2004, pengajiannya mulai terhenti. “Saya pergi kerja sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam, bahkan kadang tetangga sendiri tidak kenal, begitu sibuknya,” ujar Ita.
Karena itu dirinya tidak ingin menyiakan waktu lagi untuk menuntut ilmu bersama anggota majelis taklim, supaya masa tua yang dijalani lebih bermakna. “Selain terus mengikuti pengajian ini, tugas kami adalah menyampaikan kepada ibu-ibu lain, supaya bersedia secara iklas mengikuti pengajian,” ujarnya.
Kurniawati menyelesaikan kuliah pada Program Diploma Pendidikan Kesekretariatan (PDPK) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Lalu dirinya dirinya bekerja sebagai surveyor, dan terakhir bekerja sebagai di perusahaan asuransi di Lhokseumawe. “Sebenarnya sekarang juga masih sibuk, tapi saya ingin mengisi waktu tua saya untuk menuntut ilmu,” katanya.
Setelah belajar di majelis taklim, ia mendapat banyak pengetahuan tentang Islam, meskipun ketika remaja dia aktif mengikuti pengajian. “Satu hal yang tak bisa saya dapatkan di tempat lain, di majelis ini kami mendapat ketenangan jiwa yang tak bisa dinilai dengan rupiah. Masuk ke lingkungan masjid saja, rasanya semua beban hilang,” tuturnya.
Selain itu, dalam majelis taklim tersebut dia menemukan orang-orang yang memiliki tujuan sama dengan dirinya, memiliki rasa sosial yang tinggi. Karena semua anggota yang tergabung dalam majelis ini tidak digaji. Mereka datang ke masjid untuk mengikuti pengajian atas kesadaran dan keikhlasan sendiri.(jafaruddin)