Citizen Reporter
Catatan dari Pelantikan Obama
KEBETULAN libur musim dingin (winter break) di Kampus UConn berlangsung sampai 21 Januari, maka saya punya kesempatan
KEBETULAN libur musim dingin (winter break) di Kampus UConn berlangsung sampai 21 Januari, maka saya punya kesempatan hadir menyaksikan pelantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) untuk periode kedua di Capitol Hill, Washington DC.
Saya begitu bersemangat datang ke acara pelantikan presiden (presidential inauguration) tersebut meski cuacanya sangat dingin, mencapai -15 derajat Celcius.
Sejauh yang saya cermati, ada lima sisi menarik dari pelantikan orang nomor satu AS itu. Pertama, panitia pelantikan lebih dulu menyebarkan tiket melalui para anggota kongres berdasarkan wilayah tempat tinggal mereka masing-masing. Rakyat yang ingin menghadiri acara pelantikan bisa menghubungi anggota kongres dengan datang ke kantor atau secara online untuk mendapatkan tiket yang sama sekali tidak dikenakan biaya.
Di samping itu, panitia juga menyediakan tiket untuk berbagai festival malam hari dalam rangka pelantikan yang dikenakan biaya bervariasi pada kisaran $50 sampai $1,000 (sekitar Rp 480.000-Rp 9.600.000), tergantung tempat dan jenis festival.
Kedua, warga AS yang kulit hitam dan putih, menggunakan transportasi bus dan kereta api (KA) sudah pada ngumpul di Union Station, terminal dan stasiun KA utama di Washington, sejak tengah malam. Kebetulan saya juga sampai di stasiun itu tepat tengah malam, sehingga saya putuskan untuk menunggu saja di sana. Tempatnya cukup nyaman sehingga kami bisa terus ngobrol tentang alasan kami menghadiri acara tersebut sambil sesekali ketiduran di atas kursi atau lantai. Mereka sangat antusias dengan memakai berbagai pakaian atau embel-embel bertuliskan “the inauguration” dari Obama & Biden sehingga saya juga “ikutan-ikutan” membeli satu sweater bertuliskan kata tersebut.
Ketiga, mereka sangat tertib menuju tempat acara dengan mengikuti tanda arah yang dipajang di stasiun menuju Capitol Hill, tempat pelatikan berlangsung, dan National Park, lapangan tempat nonton bareng yang keduanya hanya berjarak sekitar 300 meter dari stasiun. Massa bagaikan semut membentuk baris yang sangat tertib, tanpa ada yang saling menyalip, berjalan masuk ke gerbang sesuai dengan tiket yang mereka pegang.
Keempat, fasilitas yang ada di taman sangat lengkap dan manusiawi dengan operator, polisi berkuda, bahkan tentara (US Army) sangat sigap mengayomi dan melayani pengunjung. Layar tv yang diletakkan di atas sebuah truk ukurannya sangat besar dan tidak pernah ada “gangguan sinyal” sehingga tidak ada alasan untuk berdesak-desakan ke depan. Tempat sampah cukup memadai dan mudah diakses sehingga tidak ada alasan untuk membuang sampah di tempat mereka duduk. Toilet (portable) berjejer di dua sisi taman sehingga tidak ada alasan untuk kencing di bawah pohon atau anak-anak menangis karena mau buang hajat.
Terakhir, mereka semuanya bangun untuk bertepuk tangan (standing applaus) secara tertib untuk memberi hormat pada Presiden Omaba saat pidatonya memberi penekanan pada poin-poin penting.
Kelima hal di atas kiranya tidak sulit kita praktikkan di sini apabila kita menjalankan prinsip memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat sebagaimana ditekankan oleh Gubernur Aceh.
Sebagai rakyat, kita juga mempraktikkan semangat saling menghargai, menghormati, menjaga ketertiban, dan memelihara semua fasilitas yang kita miliki dan menghormati para pemimpin.
[email penulis: lukman.ibrahim@uconn.edu]
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com