Galus Bentuk Majelis Tasawuf
Pengurus Majelis pengkajian ilmu tasawuf dan tauhid Kabupaten Gayo Lues (Galus) dibentuk di pesantren Darul Makmur
BLANGKEJEREN - Pengurus Majelis pengkajian ilmu tasawuf dan tauhid Kabupaten Gayo Lues (Galus) dibentuk di pesantren Darul Makmur, Kecamatan Blangopegayon, Selasa (5/2). Pelantikan dilaksanakan oleh Abuya Syeh H Amran Waly, pimpinan pondok pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.
Bupati Galus, Ibnu Hasim dalam sambutannya mengatakan majelis pengkajian ilmu tauhid dan tasawuf ini akan melaksanakan kegiatan sebulan sekali di pendopo. “Majelis ini sebagai salah satu sarana bagi kita semua untuk mempelajari ilmu agama lebih mendalam lagi,” kata Ibnu Hasim.
Sedangkan Sekretaris Majelis Tasawuf dan Tauhid Galus, Tgk Ali Amran, mengatakan lembaga pengkajian ini terbuka untuk umum. “Seluruh masyarakat yang ingin mendalami ilmu agama, terutama dalam meningkatkan pemahaman tentang ilmu tauhid dan tasawuf dapat mengikuti kegiatan ini sebulan sekali,” jelasnya.
Dia menjelaskan, pengajian ini yang akan dipandu oleh para tengku dan ustadz diharapkan akan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang agama Islam. Ali Imran menegaskan, untuk belajar atau menuntut ilmu tidak ada batas usia atau waktu, tetapi kemauan dari masyarakat.
Seusai pelantikan itu dilanjutkan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di komplek pesantren, dengan penceramah Abuya Syeh H Amran Waly. Maulid akbar itu juga dihadiri Ketua DPRK Galus, H Ali Husin; Kajari Blangkejeren, H Basrulnas SH; Dandim 0113/Galus Letkol Kav Anak Agung S, Kapolres Galus AKBP Drs Sofyan Tanjung, termasuk anggota DPRA, Tengku Jemerin. Ratusan para santri dan santriwati, termasuk wali murid memeriahkan peringatan tersebut bersama warga setempat.
Syeh Amran Waly dalam ceramah singkatnya menyatakan hidup harus dibarengi dengan ilmu tauhid dan tasawuf serta ilmu marifah. Sehingga, sebutnya, dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT, jauh lebih khusyuk dan tawaduk, karena telah mengenal sifat-sifat Allah.
Begitu juga halnya dengan akhlak yang harus menjadi akhlakul kharimah, baik kepada Allah maupun sesama hamba Allah. “Hidup tanpa akhlak dan budi pekerti yang baik, maka ibadah kita akan sia-sia belaka,” jelasnya.
Sedangkan pimpinan pondok pesantren Bustanul Arifin, Tgk Musa Jailani menyatakan kajian tentang ilmu tauhid dan tasawuf sangat penting. Kemudian ceramah soal Istiqamah disampaikan ustad Din Syamsudin, pimpinan pondok pesantren Darul Ulum, Kutacane, Agara.(c40)