Citizen Reporter
Menikmati Bakso dan ‘Sang Pemimpi’ di Ankara
BAKSO. Siapa sih yang tak mengenal makanan yang satu ini. Bakso adalah jenis bola daging yang paling lazim dalam masakan Cina dan Indonesia
BAKSO. Siapa sih yang tak mengenal makanan yang satu ini. Bakso adalah jenis bola daging yang paling lazim dalam masakan Cina dan Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang.
Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, tauge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng, dan seledri. Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia, dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran berkelas. Namun tidak di kota Ankara, ibu kota Turki.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Ataturk ini enam bulan lalu, saya tidak pernah lagi menyantap bakso. Membayangkan menyantap bakso di musim dingin ini sangat nikmat. Sungguh membuat saya merindukan makanan yang satu ini, berhubung ini adalah makanan favorit saya ketika masih di tanah kelahiran saya, Aceh. Memori masa lalu kembali terputar. Setiap akhir pekan saya bersama keluarga atau teman-teman makan bakso di salah satu rumah makan di Banda Aceh.
Akhir pekan ini adalah hari yang istimewa. Saya dan teman-teman seperjuangan di Ankara diundang makan bakso oleh Teh Entang. Dia adalah warga negara Indonesia yang bertempat tinggal di Ankara, Turki, ikut suaminya yang bekerja di Kedutaan Republik Indonesia di Ankara.
Sekitar pukul 13.00 waktu Turki kami lebih dahulu bertemu di Kizilay, pusat Kota Ankara yang baru. Setelah semua berkumpul kami pun segera berangkat ke rumah Teh Entang yang berada di daerah Cankaya. Jaraknya memang tak jauh dari Kizilay, namun kebanyakan dari kami tak pernah ke rumah dia sebelumnya.
Setelah turun dari bus yang kami tumpangi, kami hanya perlu berjalan beberapa meter untuk mencapai apartemennya. Ketika pintu rumah dibuka aroma kuah bakso pun langsung tercium. Namun, kami masih menunggu beberapa teman ain yang belum tiba.
Ketika semuanya telah tiba, acara makan bakso pun dimulai. Kami segera mengantre ke meja makan. Di meja makan telah ditata dengan rapi mi kuning, kuah bakso, pangsit, dan tak lupa penyedap rasa seperti saus pedas, kecap manis, bawang goreng, dan seledri. Sambil memakan bakso kami nonton film “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata. Dua sajian ini sungguh seperti sedang berada di Indonesia.
Di sela-sela acara kami juga membuat kejutan untuk salah satu temen kami yang berulang tahun. Setelah acara makan bakso, dilanjutkan acara minum teh. Dalam bahasa Turkinya çay saati. Minum teh adalah salah satu kebiasaan orang Turki yang tak bisa dipisahkan. Biasanya sambil minum teh ditemani oleh kurabiye, seperti kue kering, snack, kuaci. Namun, kali ini berhubung minum teh di rumah orang Indonesia, jadi penganannya adalah bakwan.
Azan pun berkumandang. Selesai menunaikan ibadah shalat Magrib kami pun pamitan pada sang empunya rumah untuk pulang.
Hari ini sungguh menyenangkan. Selain menyatap makanan Indonesia, seperti bakso dan bakwan yang membuat rasa rindu saya terhadap kuliner Indonesia sedikit terobati. Kami juga menonton “Sang Pemimpi” yang dapat memompa semangat kami untuk tetap semangat menuntut ilmu di luar negeri.
[life_is_miracle23@yahoo.com]
* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com