A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 105

Napi Lapas Kutacane Kurus - Serambi Indonesia
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 April 2014
Serambi Indonesia

Napi Lapas Kutacane Kurus

Kamis, 14 Februari 2013 09:36 WIB
* Makanan Kurang Bergizi

KUTACANE - Para narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Kutacane, Aceh Tenggara makin kurus sejak dijebloskan ke dalam sel. Pola makan yang tak teratur dan makanan yang kurang bergizi diduga menjadi penyebabnya, selain jumlah penghuni lapas yang telah melebih kapasitas, sehingga ruang gerak menjadi terbatas.

“Para napi Lapas Kutacane tampak kurang gizi, sehingga sebagian besar kurus dan muka pucat,” ujar Muslim Ayub, salah seorang anggota DPRA, seusai meninjau lapas tersebut, Rabu (13/2). Dia mengatakan kondisi lapas sangat memprihatinkan dan tidak manusiawi lagi, seperti harus tidur berdesak-desakan dalam sel.

Dia juga mengaku heran dengan adanya napi anak-anak dan wanita di lapas tersebut, walau ditempatkan di sel khusus. “Napi perempuan seharusnya dipisahkan tempat penahanannya, begitu juga dengan anak-anak di bawah umur. Tetapi, di Lapas Kutacane, anak-anak dan napi perempuan disatukan dengan napi laki-laki, walau sel terpisah,” katanya.

Muslim Ayub juga mengungkapkan sebagian napi bebas keluar dari Lapas dengan alasan tidak jelas. Seharusnya, sebutnya, setiap napi yang keluar dari lapas harus ada izin dan dibuktikan dengan surat resmi, seperti menjenguk orang tua sakit, ada keluarga yang meninggal dunia dan hal lainnnya.

Dia menilai, hal tersebut bisa berdampak buruk karena bisa saja mengulangi perbuatannya di luar. “Bukan rahasia umum lagi, para napi atau tahanan tertentu bebas berkeliaran di luar. Saya minta, kinerja pimpinan Lapas Kutacane harus dievaluasi kembali,” katanya.

Disebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya sejak Desember 2012 hingga Februari 2013, sebanyak 40 tahanan yang terlibat kasus narkoba dititipkan di Lapas Kelas II B tersebut. Sehingga, kapasitas lapas yang hanya 75 napi sudah berlebih, karena sebelumnya pelaku kasus kriminal, perkosaan lainnya telah berada di lapas tersebut.

Sementara, dia berharap warga binaan itu dapat dibekali berbagai ketrampilan seperti kerajinan tangan, sehingga begitu keluar dari lapas mampu hidup mandiri. “Mereka juga tidak merasa jenuh selama menjalani masa hukumannya seusai divonis pengadilan, jika ada pelatihan ketrampilan yang bisa digunakan saat kembali ke masyarakat,” ujar Muslim.

Muslim juga mengungkapkan telah meminta Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk membangun lapas baru karena lahan seluas lima hektare telah disediakan Pemkab Agara sejak 1995 lalu. “Namun, sampai saat ini belum ada kepedulian dari pihak terkait atau sudah 18 tahun lamanya belum ada tanda-tanda akan dibangun,” katanya.(as)

Kapasitas Lebih

Kepala Lapas (Kalapas) Klas II B Kutacane, Erry Taruna, yang dikonfirmasi Serambi secara terpisah, kemarin mengatakan jumlah napi atau tahanan sebanyak 296 orang, sehingga melebihi dari daya tampung yang hanya 75 orang. “Warga binaan, mayoritas terlibat kasus narkoba sekitar 70 persen dan selebihnya kasus kriminalitas dan lainnya,” sebutnya.

Dia menjelaskan, para napi dewasa, pemuda atau juga anak-anak tidak digabungkan dalam satu sel, tetapi ditempatkan di sel khusus anak-anak bersama pemuda. Sedangkan tahanan dewasa berusia di atas 22 tahun yang juga menempati sel sendiri. “Tak benar, warga binaan anak-anak digabungkan dengan orang dewasa,” tegasnya.

Erry juga membantah kalau makanan napi kurang bergizi. Menurutnya, penyebab sakitnya warga binaan karena overkapasitas, sehingga ruang gerak menjadi terbatas dan penyakit mudah menyerang.

“Kapan dia datang ke Agara, kalau tak percaya suruh aja anggota dewan itu cek saja langsung ke Lapas Kutacane,” ujarnya seraya menambahkan makanan para napi dari pihak ketiga.(as)
Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
154764 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
© 2014 TRIBUNnews.com All Right Reserved About Us Privacy Policy Help Terms of Use Redaksi Info iklan Contact Us Lowongan
Atas