Minggu, 2 Agustus 2015

Napi Lapas Kutacane Kurus

Kamis, 14 Februari 2013 09:36

KUTACANE - Para narapidana (napi) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Kutacane, Aceh Tenggara makin kurus sejak dijebloskan ke dalam sel. Pola makan yang tak teratur dan makanan yang kurang bergizi diduga menjadi penyebabnya, selain jumlah penghuni lapas yang telah melebih kapasitas, sehingga ruang gerak menjadi terbatas.

“Para napi Lapas Kutacane tampak kurang gizi, sehingga sebagian besar kurus dan muka pucat,” ujar Muslim Ayub, salah seorang anggota DPRA, seusai meninjau lapas tersebut, Rabu (13/2). Dia mengatakan kondisi lapas sangat memprihatinkan dan tidak manusiawi lagi, seperti harus tidur berdesak-desakan dalam sel.

Dia juga mengaku heran dengan adanya napi anak-anak dan wanita di lapas tersebut, walau ditempatkan di sel khusus. “Napi perempuan seharusnya dipisahkan tempat penahanannya, begitu juga dengan anak-anak di bawah umur. Tetapi, di Lapas Kutacane, anak-anak dan napi perempuan disatukan dengan napi laki-laki, walau sel terpisah,” katanya.

Muslim Ayub juga mengungkapkan sebagian napi bebas keluar dari Lapas dengan alasan tidak jelas. Seharusnya, sebutnya, setiap napi yang keluar dari lapas harus ada izin dan dibuktikan dengan surat resmi, seperti menjenguk orang tua sakit, ada keluarga yang meninggal dunia dan hal lainnnya.

Dia menilai, hal tersebut bisa berdampak buruk karena bisa saja mengulangi perbuatannya di luar. “Bukan rahasia umum lagi, para napi atau tahanan tertentu bebas berkeliaran di luar. Saya minta, kinerja pimpinan Lapas Kutacane harus dievaluasi kembali,” katanya.

Disebutkan, berdasarkan informasi yang diterimanya sejak Desember 2012 hingga Februari 2013, sebanyak 40 tahanan yang terlibat kasus narkoba dititipkan di Lapas Kelas II B tersebut. Sehingga, kapasitas lapas yang hanya 75 napi sudah berlebih, karena sebelumnya pelaku kasus kriminal, perkosaan lainnya telah berada di lapas tersebut.

Sementara, dia berharap warga binaan itu dapat dibekali berbagai ketrampilan seperti kerajinan tangan, sehingga begitu keluar dari lapas mampu hidup mandiri. “Mereka juga tidak merasa jenuh selama menjalani masa hukumannya seusai divonis pengadilan, jika ada pelatihan ketrampilan yang bisa digunakan saat kembali ke masyarakat,” ujar Muslim.

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas