Jumat, 19 Desember 2014
Serambi Indonesia

Ini Dia, Risiko Melahirkan dengan Bedah Caesar

Minggu, 17 Februari 2013 10:10 WIB

Ini Dia, Risiko Melahirkan dengan Bedah Caesar
Dokter spesialis kandungan Mohd Andalas sedang memeriksa pasien di klinik tempat dirinya berpraktik, pekan lalu.
BANDA ACEH - Sepanjang lima  tahun terakhir, ada fenomena umum yang sedang melanda ibu-ibu muda yang melahirkan di Aceh. Sebagian mereka lebih cenderung melahirkan dengan cara operasi caesar, padahal secara medis seorang ibu itu dapat melahirkan secara normal (pervaginam) sepanjang  dia  tidak menderita  kelainan medis atau penyakit tertentu yang menjadi kendala melahirkan secara normal.  Di sebuah rumah sakit swasta di Banda Aceh,  disebut-sebut bahkan  persentase kelahiran dengan cara caesar melebihi 50 persen.

Kencenderungan melahirkan dengan caesar itu bukan saja dipicu oleh gaya hidup dan kondisi ekonomi pasien saja. Dokter spesialis kandungan (obgyn) juga  berperan besar  meningkatkan angka bedah caesar di daerah ini.

Kepala Bagian Obsetri dan Ginekologi (Obgyn) Fakultas Kedokteran Unsyiah/ Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh, dr Mohd Andalas SpOG FMAS, Sabtu (16/2) mengakui fenomena itu. Dia juga  tidak membantah kecenderungan baru tersebut. Ia menemukan, banyak ibu-ibu yang melahirkan dengan bedah caesar di RSUZA Banda Aceh yang merupakan rumah sakit rujukan di Provinsi Aceh. Tidak kurang  setiap bulannya,  dari 150 pasien yang melahirkan di rumah sakit pendidikan itu, 50 orang atau 30 persen di antaranya lahir lewat bedah caesar. Padahal, katanya, beberapa tahun sebelumnya, kasus ibu melahirkan dengan bedah caesar masih dalam hitungan jari.

Di Aceh, katanya, selain perubahan gaya hidup, angka melahirkan lewat bedah caesar semakin tinggi setelah pemberlakuan ‘program melahirkan gratis’ oleh NGO-NGO pascatsunami. Dan dengan digulirkannya program  Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) oleh Pemerintah Aceh,  angka melahirkan secara caesar juga naik.

Andalas tidak membantah kalau ada sejumlah dokter spesialis obgyn yang ‘nakal’.  Dokter semacam ini kerap   menganjurkan pasien untuk melahirkan lewat bedah caesar. “Adalah tindakan yang salah ketika seorang dokter  menganjurkan pasien melahirkan dengan caesar, jika secara medis seorang pasien mampu melahirkan  secara normal. Rekomendasi yang salah ini merupakan pelanggaran etika kedokteran dan dapat dicabut surat kompetensi seorang dokter oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI),  sehingga seorang dokter tidak boleh lagi membuka praktik kedokteran,” kata  Andalas.  

Secara medis,  kata dosen FK Unsyiah ini, banyak kerugian bila seorang  pasien melahirkan dengan bedah caesar. Di samping efek samping dari obat bius, juga banyak risiko medis lainnya yang mengancam jiwa seorang pasien, baik saat menjalani operasi maupun pascaoperasi. Melahirkan normal  (pervaginam) agak berat saat melahirkan, namun setelah melahirkan, pemulihan lebih cepat dan tidak ada efek samping. Melahirkan dengan caesar, berisiko tinggi dan masa pemulihan lebih lama.  Sebuah penelitian di AS juga menunjukkan bahwa anak-anak yang dilahirkan secara normal (pervaginam) memiliki IQ lebih tinggi beberapa poin dibandingkan dengan  mereka yang dilahirkan secara bedah caesar.

Andalas mengakui, segelintir dokter spesialis obgyn di Aceh sering merekomendasi pasien untuk melahirkan lewat caesar dengan harapan dapat mengeruk ‘keuntungan material  lebih banyak dari pasien.  (min)

Diminta pun tak Boleh Dikabul

Nah, bagaimana bila seorang pasien yang meminta sendiri untuk melahirkan dengan caesar kepada seorang dokter, apakah dapat dilayani atau tidak? Untuk kasus seperti, kata Andalas, masih ada silang pendapat antardokter spesialis obgyn di Indonesia. Namun, sebagian besar dokter memegang erat pada filosofi dasar ilmu obstetri yakni memberikan pertolongan kepada pasien agar dapat melahirkan normal dengan harapan ibu dan bayi yang dilahirkan selamat. Berpijak dari filosofi itu, katanya, seorang dokter yang buru-buru merekom pasien untuk bedah caesar adalah tindakan yang salah dan melanggar  kode etik kedokteran. “Banyak ditemukan di Aceh, dokter yang menganjurkan untuk bedah caesar, padahal masih bisa lahir normal,” ujar Andalas.

Dampak buruk lainnya, kata Andalas, seorang pasien yang menjalani operasi ceasar baru dapat hamil kembali setelah 18 bulan. Lamanya masa pemulihan itu menyebabkan seorang ibu tidak bisa hamil kembali segera setelah melahirkan dengan caesar. Dampak obat bius saat anastesi, kata Andalas, akan terasa bagi seorang ibu yang melahirkan dengan bedah caesar pada beberapa tahun mendatang, Belum lagi jika  terjadinya kecerobohan dokter saat melakukan pembedahan,  sehingga meninggalkan trauma dan cacat bagi pasien  yang melahirkan.

Bila kondisi pasien pasien sehat, kata Mohd Andalas, tingkat kemungkinan lahir normal sebesar 80 persen. Maka seorang dokter  harus mendorong seorang wanita untuk melahirkan dengan normal. Dokter  tidak dibenarkan merekomendasikan untuk bedah caesar,  karena secara medis lebih baik melahirkan dengan normal (pervaginam). Di negara-negara tertentu, katanya, cesarian by request (bedah caesar atas permintaan pasien) dibolehkan karena permintaan untuk melahirkan dengan bedah caesar dianggap hak azasi pasien. Namun,  dalam dunia kedokteran Indonesia, masih terjadi perdebatan antara boleh dengan tidak.  (min)  
Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas